Edukasi Kopi ala #TarakanMenyeduh

“Kopinya kok rasanya pahit, yang ini rasanya asam?”

Berurusan dengan kopi itu asyik, namun juga menyakitkan. Asyik karena kala menyebut kata “kopi”, tak perlu susah-payah menjelaskan. Paling tidak, orang tahu bahwa kopi itu jenis minuman dengan rasa unik, menunda rasa kantuk, dan sebagainya. Asosiasi kebiasaan minum kopi dengan hal-hal positif pun cukup melekat, sejauh ini. Sayang, di tengah kebiasaan ngopi yang telah mengakar dalam kebudayaan kita, sejujurnya tak banyak dari kita yang mengenal dengan baik “emas hitam” – yang pernah menjadi primadona pasar di negeri-negeri Eropa – ini.

Entah itu soal ragam biji-biji kopi Nusantara berikut kekayaan rasa dan aroma masing-masing yang memanjakan lidah dan ekspektasi kenikmatan terliar jutaan orang di luar sana; tentang bagaimana ia diolah hingga hadir di meja-meja penikmatnya; cara benar dalam menyeduh dan menikmatinya; tentang berjubel kisah perjuangan para petani yang dengannya kopi terasa lebih nikmat; dan banyak lagi. Atau mungkin tentang mengapa –meminjam coretan dinding Kedai Kopi Bunyu Menyeduh– “karena kopi, aku dan kamu ke KUA”? Singkatnya, dalam hal-hal mendasar sekalipun tentang ngopi yang sebenarnya, banyak dari kita belum selesai, bahkan asing. Ini yang menyakitkan.

Tentang ini, tidak juga sepenuhnya kesalahan mereka yang mengaku penikmat (dan pencinta) kopi. Kebenarannya, sangat sedikit inisiatif yang dihadirkan untuk menggenapi pengetahuan banyak orang tentang ngopi yang sebenarnya. Dari yang sedikit itu, acara #TarakanMenyeduh dihadirkan.

* * *

Sebenarnya, sejak lama saya fakir minat untuk kegiatan-kegiatan yang menghadirkan kerumunan massa tak tertib, apalagi jika harus berdesak-desakan. Juga untuk kegiatan-kegiatan yang belakangan ini sering diadakan di salah satu titik strategis Kota Tarakan, Stadion Datu Adil. Entah itu expo, pameran, konser, atau apapun itu. Tapi kali ini beda. Mungkin karena akhir-akhir ini saya merasa menemukan semacam chemistry dengan soal-soal perkopian. Maka, acara #TarakanMenyeduh menjadi daya tarik yang rasanya tak bisa saya abaikan.

Seperti sebelum-sebelumnya, kegiatan-kegiatan malam di stadion Datu Adil selalu berhasil menghadirkan keramaian, apalagi kalau acara hiburannya banyak. Ada sebentuk pelampiasan dahaga hiburan yang terakumulasi di sini. Maklum, kota tercinta ini masih minim ruang publik untuk rekreasi dan hiburan yang memadai, sebut misalnya bioskop.

Malam itu (6/12), keramaian mulai terasa sejak dari halaman parkir. Seperti biasanya, kendaraan-kendaraan para pengunjung memenuhi setengah ruas jalan di sekitar stadion. Saya tiba di lokasi sekira pukul 19.30, saat bagian dalam stadion sudah disesaki para pengunjung. Di sebelah kiri pintu stadion, lewat pengeras suara, terdengar suara halus namun menggebu. Karena penasaran, saya mendekat. Suara itu milik perempuan muda, peserta yang sedang membacakan puisinya di atas panggung seluas sekira 6×4 m dengan latar backdrop kegiatan utama, Festival Anti Korupsi 2018. Selain puisi, juga ada lomba pidato, teater, tari kreasi, menyanyi dan modeling. Sayang, tak bisa berlama-lama di situ, saya masih perlu mencari letak stan #TarakanMenyeduh. Usai mengambil satu dua gambar, saya pun beranjak.

Para barista dari kedai kopi dan coffee shop yang tergabung dalam acara #TarakanMenyeduh
Para barista dari kedai kopi dan coffee shop yang tergabung dalam acara #TarakanMenyeduh | © Rusman Turinga

Sesuai petunjuk teman via WhatsApp, rupanya lokasi stan #TarakanMenyeduh hanya beberapa meter dari pintu masuk, sebelah kanan. Berhimpitan dengan stan pakaian dan makanan di kiri kanannya. Mendekati stan itu, aroma kopi yang diseduh manual mulai menggoda.Di depan stan, beberapa lelaki muda berkaos oblong hitam “#TarakanMenyeduh” –seperti juga tertulis di kepala tenda stan dengan ukuran lebih besar– tampak sibuk. Menawarkan kopi pada orang-orang yang lewat, memberi penjelasan kilat seputar kopi, juga ada yang sibuk menyeduh.

“Tujuan kita memang untuk mengedukasi masyarakat tentang kopi, bagaimana cara minum kopi, bagaimana kopi seharusnya disajikan, cara membuatnya, apa yang terkandung dalam kopi, apa manfaat kopi, bahwa kopi yang sehat yang seperti apa. Logikanya kan, percuma banyak kedai kopi di Tarakan, tapi pengetahuan masyarakat tentang kopi masih minim. Intinya kita ingin masyarakat tahu ngopi yang sebenarnya seperti ini. Kopi yang seharusnya dinikmati yang seperti ini loh”, jelas Abul, salah satu barista di stan itu.

“Kopi-kopi yang kita sediakan di sini ada kopi Flores, Kerinci, Toraja, Malabar hingga Aceh. Pada umumnya kan ada beberapa jenis kopi yaitu arabika, robusta, excelsa, dan liberica. Tapi yang dominan dipakai di Indonesia yah arabica dan robusta. Ini yang kita perkenalkan lewat acara ini, makanya kita sajikan single origin semua”, sambung lanjut lelaki yang juga barista Kedai Kopi Bean Laden itu. Tak mau kehilangan momen langka ini, saya pun mencicipi single origin kopi Kerinci, Flores dan Gayo dengan ragam metode seduh juga barista berbeda, kira-kira seperempat gelas masing-masing. Rasanya? Cobain aja sendiri! Ini perkara yang sangat personal, kawan.

Abul berkisah, ide acara ini beranjak dari keinginan bersama teman-teman untuk mengedukasi masyarakat tentang kopi. Satu ide yang sejatinya muncul saat mereka mulai sering ngopi bareng. Ide yang kemudian dirapikan dalam bentuk kegiatan “Tarakan Coffee Week”. dengan tema #TarakanMenyeduh. Rencananya, kegiatan ini akan rutin diadakan bersama kedai kopi dan coffee shop yang ada di Kota Tarakan. Tidak hanya saat momen tertentu atau kegiatan peringatan hari-hari besar kemudian Abul dan teman-teman ikut meramaikan, tetapi juga secara mandiri dan berkelanjutan sebagai wujud komitmen mereka untuk mengedukasi.

Di kesempatan ini, #TarakanMenyeduh hadir dengan beberapa sesi acara selama kegiatan berlangsung. Di hari pertama, misalnya ada cupping session. Sesi ini mengajak para pengunjung mencecap sajian dari ragam biji kopi, mengenali jenis-jenis kopi Nusantara dan beberapa alat dripper (seperti kono, flat drip, V60, dan kalita wave) hingga metode brewing seperti Aeropress, Rockpresso dan French Press. Pengunjung juga dapat menyaksikan lebih dekat proses penyeduhan kopi.

Hari kedua dan seterusnya ada fun brewing, semacam kursus kilat menyeduh yang benar dan menyenangkan. Di hari akhir, ada coffee sharing dan attitude. Di bagian ini, tiap barista dari kedai kopi dan coffee shop yang tergabung dalam acara ini saling curhat, bercerita untuk berbagi tentang teknik seduh masing-masing.

Di akhir acara, ada fun battle. Semacam lomba kecil-kecilan abang-abang barista di stan itu. Masing-masing mendemonstrasikan teknik seduhnya yang membikin bahagia. Bukan hanya karena hasil seduhannya, tapi juga ada proses saling mengisi dan belajar bersama. Namanya juga fun battle.

“Singkatnya, kita di sini selain untuk memberikan edukasi tentang ngopi yang sebenarnya, juga untuk saling mengisi dan berbagi pengetahuan sesama barista. Yah salah satunya melalui fun bittle ini. Kan kita di sini gabungan dari beberapa kedai kopi dan coffee shop di Kota Tarakan, seperti Kedai Kopi Bean Laden, Malabar, Analog, Mr Fuji, Galileo, Kopi Taka dan beberapa kedai kopi kecil lainnya. Sebenarnya kita undang semua, tapi ini-ini aja yang hadir”, papar Abul.

Pengunjung melihat lebih dekat cara seduh manual
Pengunjung melihat lebih dekat cara seduh manual | © Rusman Turinga
Lagi sibuk-sibuknya sharing pengetahuan soal kopi dengan para pengunjung
Lagi sibuk-sibuknya sharing pengetahuan soal kopi dengan para pengunjung | © Rusman Turinga

Hal menarik lainnya di stan itu adalah soal bagaimana pengunjung mendapatkan segelas kopi. Kopinya memang tidak gratis. Tapi tak juga harus dibayar. Persis di samping barista menyeduh kopi, terdapat sebentuk kotak amal. Abul dkk menyebutnya “Kotak Apresiasi”. Para pengunjung boleh berpartisipasi seikhlasnya. Boleh juga tidak. Kalau Dewi Keberuntungan berpihak, Abul dkk, akan menggunakan isi kotak itu untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk acara ini di hari berikutnya. Bagi Abul, kegiatan yang sifatnya edukatif seperti ini memang seharusnya dipisahkan dari orientasi profit. Sampai di sini saya benar-benar yakin kalau acara ini semata hadir untuk mengedukasi.

Walhasil, dengan konsep acara seperti ini, tidak hanya menarik banyak pengunjung untuk mencoba sajian rasa kopi asli tapi juga memancing antusias mereka untuk tahu banyak tentang ngopi yang sebenarnya. “Respon masyarakat cukup bagus, Cuma banyak yang belum tahu tentang kopi, jadi sempat merasa aneh saat mencicipi kopi yang kami suguhkan. Dan paling tidak, dari kegiatan ini, ada beberapa yang dapat kami beri sedikit pemahaman tentang kopi dan minum kopi yang sebenarnya. Mereka juga banyak nanya”, ungkap Ucam yang juga barista.

“Sejauh ini respon masyarakat bagus, di hari pertama kami buka, masih banyak yang bertanya-tanya, ini kopi jenis apa, rasanya kok pahit, asam, macam-macam. Misalnya ada nanya ‘kopinya kok rasanya pahit, mas? Yang ini rasanya asam? Ini ada manis-masnisya?’ Di situlah peran kami untuk menjelaskan. Bahwa itu jenis kopi arabica rasanya gini, asam tapi di ujung lidah terasa ada manis-manisnya. Begitu juga jenis robusta dengan rasa pahitnya. Setiap jenis kopi punya rasa dan aroma yang berbeda dan khas. Dan Alhamdulillah, edukasi kami juga berjalan baik. Rata-rata dari hari pertama buka sampai sekarang itu habis sekira 30-an gelas”, tambah Abul.

* * *

Acara ini memang sangat singkat (2-9 Desember, pukul 19.00-22.00, mengikuti jadwal kegiatan utama). Dari yang singkat ini, ada impresi kuat dan positif yang berhasil dijejakkan Abul dkk. Melalui kegiatan edukatif seperti ini, harapan mereka sebenarnya sederhana. Bahwa masyarakat lebih paham tentang minum kopi yang sebenarnya kemudian mencintainya sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kita. Untuk sesama kedai kopi, Abul berharap ke depan semua kedai kopi di Kota Tarakan khususnya yang manual brewing bisa lebih kompak dengan membentuk sebuah komunitas sehingga kegiatan-kegiatan yang mengedukasi lebih apik dan terpola dengan baik.

Di kesempatan-kesempatan berikutnya, Abul bersama teman-teman ingin menghadirkan kegiatan yang lebih baik sehingga orang-orang semakin tertarik belajar tentang kopi. Tentu saja dengan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat. Satu keinginan yang lahir dari keyakinan bahwa dengan pengetahuan yang lengkap tentang kopi –entah itu soal bagaimana menikmati kopi yang benar, ragam jenis kopi dari berbagai pelosok Indonesia, tentang para petani yang bermandi peluh di kebun-kebun kopi, ataupun tentang kebiasaan minum kopi sejak dalam narasi-narasi sejarah Nusantara– kita dapat benar-benar menyadari bahwa minum kopi lebih dari sekedar perkara aroma dan rasa. Kopi dengan segenap kebiasaan yang dibentuk darinya, adalah juga tentang kisah perkawanan, perjuangan hidup, perseteruan bahkan perang. Bersama kopi, gagasan-gagasan memanusiakan petani kopi hingga imajinasi terbaik tentang ke-Indonesia-an pernah dirajut.

Rusman Turinga

Magang di PIKIR KALTARA, hari-hari ini suka hunting foto dan belajar kepo dalam narasi.