East Heaven Coffee Shop: Sepenggal Surga di Mal Setengah Hidup di Jakarta Barat

Kutipan di atap East Heaven
Kutipan di atap East Heaven | © Caesar Giovanni Simatupang

Jakarta, mungkin Indonesia, kini ditumbuhi jamur yang berwujud kedai kopi. Hampir di seluruh kujur dan sela tubuhnya terdapat jamur. Di mana saja, trotoar jalan, lantai kesekian sebuah ruko, parkiran bawah tanah, sebelah tempat pangkas rambut kekinian, halaman rumah, area cuci kendaraan, pelataran parkir, ataupun pusat dagang barang elektronik, generik yang tak pernah terbayang sebelumnya.

Salah satunya, East Heaven, kedai kopi yang hidup berhimpit dengan berbagai komoditas acak di Season City, sebuah mal setengah hidup di hamparan kali besar bau asin garam laut Jakarta Barat. Diam-diam, ia menyajikan seseruput air surga dari berbagai daerah Indonesia dan dunia sejak beberapa tahun lalu di mal lain di sekitar tempatnya sekarang.

Tampak dalam kedai East Heaven
Tampak dalam kedai East Heaven | © Caesar Giovanni Simatupang

Di luar batas harap dan tebak, sebuah kedai kopi yang berlokasi di sebuah kios yang tak terlalu besar, di dalamnya hanya memuat tiga sampai meja dengan dua kursi kecil dan bar. Di tempat itu ia berdiri berhadapan langsung dengan pusat penjualan sepeda di lantai dasar Season City, yang dikelilingi dengan penjual speaker komputer dan toko buku pop murah yang tak berpenunggu.

Yang ramai di mal seperempat hidup, hanya lalu lalang di sebuah toko waralaba asal negeri Paman Sam yang kebetulan juga menjadi salah satu jalan masuk. Mungkin memang sulit untuk ditebak darimana datangnya niat untuk membuka sebuah kedai kopi di tengah pasar sepi dengan segmen yang acak. Namun, nyatanya, kian hari kian banyak yang datang untuk menikmati kopi di sini, bahkan kini telah ada teman serupa yang berdiri di sebelahnya persis.

Tidak mewah, tidak juga sederhana, kita perlu menemukan kata baru untuk mendefinisikan kedai yang menyediakan kopi yang layak minum untuk para pembeli. Bar, tempat kita memesan, terbuat dari susunan bata yang tertutup semen terlihat serasi dengan meja kayu tekstural bundar dan kotak yang ada di sekitarnya, apalagi dengan ketinggian yang pas dengan kursi tinggi di pinggir sisi lainnya untuk pembeli yang datang sendiri duduk serta berbincang dengan barista di sana.

Percayalah, dari melihat logo yang berpijar di bagian depan, kita dapat melihat bahwa ada sebuah kedai kopi yang serius dalam menyediakan dan menciptakan tempat yang layak untuk dinikmat di tengah kerumunan dagangan yang maha acak. Masuklah, mendongaklah, kita akan melihat rangkaian kata puitis di langit-langit yang mewakili dengung getar hati tentang kopi, dikelilingi tembok yang dicat tipis, lengkap dengan bekas gesek dengan meja minum yang sejajar.

Mesin kopi dan suasana East Heaven
Mesin kopi dan suasana East Heaven | © Caesar Giovanni Simatupang
Cafe latte dan menu East Heaven
Cafe latte dan menu East Heaven | © Caesar Giovanni Simatupang

Lalu, kembali melihatlah ke depan karena di balik bar itu ada barista yang siap memberikan kopi yang sesuai dengan yang kita inginkan. Kedai ini menawarkan beberapa kopi yang berganti di waktu-waktu yang tidak tentu, yang pasti tetap hanya house blend untuk sajian berbasis espresso.

Jikalau Anda menyukai kopi hitam dengan metode seduh manual, cobalah kopi dari Ethiopia dan Kolombia dengan metode seduh v60 yang akan memberikan rasa buah yang penuh dan asam yang lengket di lidah, ditemani dengan aftertaste yang nikmat.

Kalau Anda ingin menguji kemantapan racikan kopi di kedai ini, cobalah pesan Café Latte, karena di sanalah keseriusan berkopi diuji. Sejujurnya, café latte di kedai ini sangat smooth, sedikit getir, gurih susunya pun terasa pas. Oleh penulis, Café Latte dengan rasa seperti ini disebut Café Latte genit, yakni perpaduan susu dan kopi yang tidak menyeimbangkan rasa, tapi malah memaniskan isi sebuah gelas dengan rasa buah dan manis kopi yang khas arabika.

Nikmatilah setiap sesap kopi dengan pemandangan berpuluh sepeda, pendar lampu warna-warni tak seragam, suara jerit bocah kepada ayah ibunya, yang sedang menjaga toko. Lalu, seliwer sayur suara lagu dari penjual DVD di kejauhan, ketuk suara sepatu pengunjung, suara uap mesin kopi yang membawa serta aroma surga, dengan sisa-sisa suara dari perbincangan tamu di meja seberang.

Tuhan maha pencipta, dan kali ini diciptakan-Nya sebuah suasana asing untuk secangkir kopinya di sebuah mal setengah mati yang penuh keacakan.

Sampai jumpa di suasana-Nya. Disana, di East Heaven.

Caesar Giovanni Simatupang

Peminum segala kopi yang percaya bahwa rasa tergantung pada kondisi, konteks dan konsekuensi.