Dunia Fantasi Kopi Melbourne

Tak banyak kota yang mampu menyulap kopi menjadi komoditas utama (dan menarik!) denyut nadi sebuah kota. Bahkan, daerah-daerah/negara penghasil kopi pun, belum banyak yang mampu menjual komoditas ini.

Menjual di sini dalam arti luas, sebagai daya tarik tersendiri bukan hanya komoditi. Kopi tak ubahnya adalah minuman pagi hari, viagra mata, atau hanya sekedar minuman pahit hasil penggabungan.

Penggabungan? Ya, : 4 in 1, 3 in 1, 2 in 1. Kopi + Gula atau Kopi + Gula + Krimer, bahkan plus jahe sekalipun. Minuman penuh jalan pintas dan kenikmatan semu.

Secangkir kopi enak disantap bersama Croissant. © Pawel LoJ
Secangkir kopi enak disantap bersama Croissant. © Pawel LoJ

Mengamati budaya kopi Melbourne, tak lepas dari budaya Melbourne itu sendiri. Jika Anda pergi kota yang terletak 900 kilometer di utara Sydney ini, Anda akan menemukan rasa dan budaya kopi yang berbeda. Mengapa? Seperti saya bilang di atas, membaca budaya kopi sebuah kota, tak akan bisa lepas dari aspek sosiokultur masyarakat tersebut.

Melbourne tercatat sebagai “The Most Livable City in the World” (kota yang paling layak/nyaman ditinggali) selama 3 tahun berturut-turut. Dan Australia adalah salah satu Negara di dunia dengan predikat Negara dengan banyaknya peminum kopi.

Pagi ini saya berada di sebuah kedai kopi bernama Everyday Coffee. Sebuah kedai yang berdiri di atas sebuah kata sakral yang amat susah dilakukan: kolaborasi. Kata everyday pun didapat karena mereka berkomitmen akan mengoperasikan kedainya 365 hari dalam setahun, tanpa libur.

Idenya simpel: merotasi dan menyajikan kopi-kopi terbaik sekaligus kolaborasi dari penyangrai (roaster) terbaik di Melbourne. Yang menggawangi kedai ini adalah barista-barista kawakan yang pernah bekerja di kafe-kafe ternama di kota ini.

Sebut saja Mark Free, Aaron Maxwell, dan Joe Miranda adalah sekian nama yang cukup lama berkecimpung di berbagai kafe spesialti Melbourne. Desain Everyday Coffee bersih, simpel dan elegan. Sentuhan mebel kayu dan tembok putih lebih mendominasi.

Kopi dan gang-gang kecil di Melbourne. © Syahrani Rahim
Kopi dan gang-gang kecil di Melbourne. © Syahrani Rahim

Berjalan menyusuri kawasan Collingwood, sekitar 2 kilometer ke arah barat anda akan menemukan Proud Mary Coffee. Desain Proud Mary lebih rumit. Sentuhan marmer dan arsitektur kuno mendominasi. Tak lupa, music tekno, disco yang sangat hipster-esque. Kedai masyhur ini acapkali disebut oleh orang yang pernah ke kota Melbourne. Tak perlu membahas rumit tentang kedai ini karena sudah banyak diperbincangkan.

Intinya: semangat mereka adalah memotong “orang tengah” sebanyak mungkin dan langsung membeli kopi dari petani kopi langsung. Berbicara langsung dengan petani dan memberi feedback (juga bayaran) tanpa makelar. Itu rahasia mereka, bahwa kopi yang baik harus berasal dari petani yang baik.

Jalan sedikit ke kota Anda akan menemukan kedai-kedai spesialti diantara gang-gang kecil (alley ways) yang menjadi ciri khas Melbourne. Di sini Anda akan menemukan toko-toko unik, grafiti yang artistik, bangunan yang modern dan kuno, sepeda fixie, fashion, para hipster yang sibuk dengan rambut, sepatu dan kacamatanya, pengamen yang menyanyikan lagu Oasis, penjual mie khas Vietnam Pho, atau hanya kelontong toko Tiong Hoa yang menjual makanan bebek panggang murah meriah.

Tapi yang pasti, kopi terbaik di dunia, tanpa disadari, bisa Anda dapatkan di gang-gang ini. Spesial!

Di mana pastinya? Justru itu, saya tak ingin berbagi di mana. Kota Melbourne adalah masalah kaki, petualangan kaki, lebih tepatnya. Memberi tahu di mana letak mereka akan mengurangi kejutan-kejutan yang diberikan kota ini.

Saya hanya memberikan formula semangat kopi Melbourne di mata saya:

Coffee + Art + Lifestyle + Hipsters + Books + Design + Bicycle + Beards + Magazine + Rustic Industrial Interior + Fashion x Collaboration = Melbourne.

Budaya kopi Melbourne tak akan pernah bisa ditiru oleh kota manapun. Karena budaya ini sangat erat bersentuhan dengan masyarakatnya, iklim, adat istiadatnya serta orang-orangnya.

Jejeran baskom logam berisi biji kopi segar dari seluruh dunia. © Ted and Dani Percival
Jejeran baskom logam berisi biji kopi segar dari seluruh dunia. © Ted and Dani Percival

Matt Perger (Runner Up World Barista Championship 2013 yang juga “anak emas” di kedai St Ali) pernah bergumam ketika ditanya Steve Leighton (Hasbean UK) apa sih yang membedakan kopi Melbourne dan kota-kota lain di seluruh dunia?

“Ada sebuah rasa (feel) yang spesial ketika berbicara kultur kopi disini. Hubungan yang erat bukan hanya antar kafe, staff, dan juga pemilik, tetapi juga pelanggan dan masyarakat yang bergaul bersama mendukung perkembangan kafe-kafe spesialti. Pemikiran mereka terbuka. Atmosfir seperti ini yang mungkin tak bisa didapatkan di kota-kota lain. Kafe ramai, penuh dan hangat.”

Kira-kira seperti itu inti komentar Perger. Ia benar-benar menggaris bawahi semangat konsumen/masyarakat yang tak lepas dari perkembangan kafe di kota itu. Inilah semangat kopi Melbourne.

Selamat datang di kota yang saya suka menyebutnya sebagai: Dunia Fantasi Kopi!

Syahrani Rahim

Co-Founder sekaligus terus belajar kopi di Coffee Life (@CoffeeLifeID) dan @KateringKopi