Dua Penginapan Bertema Ikan

Dasinem

Setidaknya ada dua hal yang membuat saya penasaran dengan penginapan ini. Pertama, namanya. Nama sederhana. Ringkas. Terkesan ndesa, dan Jawa. Kedua, review penginapan ini di Traveloka hampir menyentuh angka 9. Jelas bukan angka yang kecil untuk penginapan yang semalam hanya dibandrol seharga 350an ribu rupiah.

Lampion Gantung menghiasi Penginapan Antika
Lampion Gantung menghiasi Penginapan Antika | © Puthut EA
Kamar tidur Penginapan Dasinem
Kamar tidur Penginapan Dasinem | © Puthut EA

Mari kita mulai dari komplain yang negatif dulu di Traveloka. Pertama, soal jalan menuju ke sana yang sempit. Memang benar begitulah. Bagi yang pernah tinggal di Yogya, cukup paham sempitnya jalanan di wilayah Pogung Demangan, Pogung Kidul, dll. Harus sabar dan mau mengalah. Jalanan menuju penginapan ini tidak bisa dipakai ugal-ugalan, dipakai simpangan saja susah. Kedua, handuknya jelek dan bau. Itu juga benar. Handuknya kusam. Saya minta ganti handuk saya dan tetap dapat yang kusam tapi tidak bau. Selebihnya tokcer.

Kali, anak saya yang berumur 5,5 tahun itu begitu datang langsung asyik bermain dengan ikan yang berada di samping kamar. Pegawai penginapan pun tak pelit. Dia memberi satu boks besar setiap Kali meminta makanan untuk ikan.

Ruangannya sangat luas untuk ukuran kamar seharga itu. Tempat tidurnya pun berkualitas. Mewah malah. Jadi buat Anda yang punya masalah pinggang dan tulang belakang, tak perlu khawatir dengan kasurnya. Suasana lingkungan di tengah padat rumah penduduk juga tak terasa di dalam kamar. Apalagi ada suara kolam ikan dan kecipak ikan. Kamar mandinya tidak begitu luas, tapi bersih dan nyaman.

Bagian Dalam Dasinem bersebelahan langsung dengan kolam Ikan
Bagian Dalam Dasinem bersebelahan langsung dengan kolam Ikan | © Puthut EA
Kali senang sekali memberi makan Ikan
Kali senang sekali memberi makan Ikan | © Puthut EA

Konsep penginapan ini menarik karena sebetulnya setiap tingkat bisa dijadikan satu kesatuan. Misalnya kamar yang saya inapi. Di lantai dua ada dapur dan meja makan khusus untuk kamar saya dan kamar di lantai 3. Dengan konsep seperti ini maka satu keluarga dengan jumlah 5 atau 6 orang, cukup menyewa dua kamar. Di lantai dua itu juga disediakan sebuah tempat tidur sederhana untuk pembantu atau sopir yang kita bawa. Cukup asyik, kan…

Ada juga yang komplain soal menu sarapan. Bagi saya menu sarapan tidak penting karena selain jarang sarapan, juga kalau banyak macamnya terus buat apa? Di sini, menu sarapan hanya satu. Kalau soto ya hanya soto saja. Hanya saja, bisa diantar di dalam kamar. Itu sudah cukup buat saya.

Penginapan Antika

Jarak kota Rembang dengan kampung saya sejauh 40an km. Sehingga kalau saya ke Rembang belum tentu mampir rumah, juga sebaliknya. Setiap kali ke Rembang dan harus menginap, saya selalu memilih penginapan Antika ini.

Penginapan Antika
Penginapan Antika | © Puthut EA
Penginapan Antika
Penginapan Antika | © Puthut EA

Terletak di daerah Pecinan di Rembang, penginapan ini memermak sebagian gedung pecinan tua, lalu ditambahi beberapa bagian untuk penginapan. Lokasinya sangat strategis, dekat dengan jalan utama Rembang, dan banyak sekali kuliner yang siap untuk memanjakan lidah siapapun.

Harga kamarnya pun tidak mahal. Untuk kamar termahal seharga 425 ribu rupiah, tipe famili (tiga tempat tidur). Saya biasanya memilih kamar tipe ini karena di depan kamar persis ada ruangan untuk ngobrol, cukup jembar, dan boleh merokok. Tipe paling murah di harga 250an ribu. Masih sangat nyaman sebagai ruang untuk tidur.

Penginapan Antika
Penginapan Antika | © Puthut EA
Desain Pintu dan Jendela Kamar Penginapan Antika Sederhana Sekali
Desain Pintu dan Jendela Kamar Penginapan Antika Sederhana Sekali | © Puthut EA

Bagi yang belum pernah ke Rembang, saya merekomendasikan penginapan ini dibanding penginapan-penginapan lain di kota yang masih banyak terdapat bangunan tua ini. Kelemahannya ada dua. Pertama, menu sarapannya biasa saja. Tidak banyak pilihan. Tapi saya memang jarang sarapan, dan kalaupun harus sarapan, saya memilih makan di daerah sekitarnya yang semua serba-enak.

Kedua, penginapan ini agak dekat dengan rumah pengolahan ikan pindang (ikan keranjang) sehingga bagi beberapa orang itu dianggap mengganggu. Kalau saya sih malah suka. Bau laut, bau garam, bau terasi, bau ikan, selalu membuat nafas saya segar.

Silakan..

Puthut EA

Anak kesayangan Tuhan.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com