Drink Your Coffee and Sing!

Lagu-Lagu tentang Kopi
Frank Sinatra, Johnny Cash, Bob Marley, Bob Dylan dan Black Flag

Kebetulan, tadi siang saya bersenda gurau dengan seorang kawan. Perihal lagu sebagai medium perlawanan. Saya berkelakar sembari bercanda, “… Lagu sebagai bentuk protes dan perlawanan kelas itu utopis.” Saya memang sepenuhnya bercanda. Karena saya sadar bahwa lagu sebagai medium protes dan bentuk perlawanan itu masih relevan hingga sekarang.

Tapi di kala dunia musik riuh oleh segala hal yang besar —perlawanan, protes, politik, dan segala macam— alangkah menyenangkannya jika mendengarkan lagu yang berkisah tentang hal-hal kecil. Hal yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Seperti lagu yang berkisah tentang bermain dengan anak kesayangan selepas kerja, atau tentang bunga yang mekar di taman, atau tentang semburat jingga matahari yang terbenam, misalnya. Atau: tentang kopi yang kita minum untuk memulai hari.

Disadari atau tidak, kafein pada kopi sudah membuat jutaan orang kecanduan. Beberapa orang bahkan seperti tak bisa hidup tanpa meminum kopi di pagi hari. Kopi bukan jadi sekedar minuman hitam bercita rasa pahit. Kopi sudah jadi budaya.

Budaya meminum kopi dalam segala suasana itu yang ditulis oleh banyak musisi. Ada banyak sekali lagu tentang kopi. Mungkin puluhan, atau bahkan ratusan. Warnanya pun beraneka ragam. Ada yang sendu, ada yang ceria, ada yang memompa adrenalin. Genre-nya pun beraneka ria: Rock n Roll, Blues, Jazz, hingga Punk dan Hardcore.

Untuk menghormati kopi yang berhasil mengilhami para musisi untuk membuat lagu tentang kopi, saya iseng-iseng membuat mixtape berisi 5 lagu tentang kopi. Siapa tahu bisa diputar sembari anda menyesap kopi di pagi hari selepas bangun tidur. Tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang kombinasi antara lagu bagus dan kopi enak bukan? Jadi, mari minum kopimu dan bernyanyi!

1. Squeeze ‐ Black Coffee in Bed

Lagu ini adalah lagu tentang patah hati. Tapi Squeeze, band asal Inggris yang muncul di era kejayaan New Wave circa 70-an, membuat patah hati terdengar biasa saja dengan lagu yang riang ini. Alih-alih meratap ketika hati remuk, mereka malah dengan optimis menuliskan, “… Now knowing I’m single. There’ll be fire in my eye, and a stain on my notebook. For a new love tonight.” Lalu mereka memberi tips untuk mengatasi patah hati yakni dengan “… out with a friend, with lips full of passion. And coffee in bed.”

2. Frank Sinatra ‐ The Coffee Song

Siapa yang bisa menyangkal kebesaran seorang Frank Sinatra? Ia adalah legenda yang bahkan lebih besar ketimbang musik yang ia bawakan. Bahkan seorang Guy Talese rela mengikuti kemana sang pria necis ini pergi, lalu dibuatlah sebuah feature —yang kelak juga menjadi legendaries— “Frank Sinatra Has A Cold” yang diterbitkan di majalah Esquire pada bulan April 1966. Ceritanya sekitar dunia yang berputar di sekitar Frank. Dan dunia itu mendadak berhenti ketika Frank pilek.

Frank memang bukan sekedar penyanyi Jazz biasa. Ia punya apa yang disebut dengan pesona. Jika berbicara kenangan personal dengan pria ini, saya selalu ingat almarhum kakek yang sangat menggemari Frank. Kakek punya banyak kaset Frank. Dari tumpukan kaset itu, saya lalu mengenal lagu “The Coffee Song.”

Lagu ini mengisahkan tentang Brazil, dimana ada “… coffee beans grow by the billions.” Ia juga bernyanyi dengan irama yang riang tentang kopi Brazil yang nikmat sekali. Dengan jenaka juga ia berkisah tentang kesulitan mendapat minuman soda di Brazil, tapi sebagai gantinya, ada banyak zillion (1 zillion = 1 trilyun) kopi di Brazil. Ia juga berkisah tentang kultur kopi di Brazil dengan cara yang humoris dan penuh kelakar, lengkap dengan irama bee-bop dan bebunyian dari brass section yang menyenangkan. Seperti turut membawa kita pergi ke Brazil dan menyesap kopi disana.

Itulah pesona seorang Frank Sinatra. Tak heran ia bisa membuat dunia berhenti berputar hanya dengan pileknya.

3. Black Flag ‐ Black Coffee

Bagi anda yang merasa dua lagu diatas itu terlalu lembut, mari mengebut sejenak. Black Flag, band Hardcore asal California ini, mengajak anda meminum kopi untuk mengatasi rasa marah. Entahlah, sepertinya ada yang lucu disini.

Lazimnya, mereka yang terbakar amarah akan meminum alkohol, yang lantas menghasilkan dua kemungkinan: mabuk lalu makin marah atau mabuk lalu teler dan lupa marah. Tapi Black Flag mengajak kita untuk meminum kopi ketika marah ketimbang meminum alkohol, “… Drinkin’ black coffee, black coffee. Black coffee, starin’ at the walls. Anger and coffee, feeding me.”

Ini merupakan lagu yang cocok diputar di pagi hari untuk membakar semangat. Tapi ingat, moshing-nya jangan terlalu bersemangat, nanti kopi di gelas bisa tumpah.

4. Bill Hailey and His Comet ‐ 40 Cups of Coffee

Lagu “40 Cups of Coffee” ini tenar sekali. Diciptakan tahun 1953 oleh Danny Overbea, lagu ini lantas direkam ulang oleh banyak musisi. Saya paling suka versi Bill Hailey. Sekedar info, Bill adalah salah satu musisi yang dianggap memopulerkan musik Rock n Roll, walau ia kalah tersohor jika dibandingkan dengan Elvis Presley.

Lagu dengan irama Rock n Roll yang rancak ini menceritakan tentang betapa pentingnya kopi sebagai teman dalam penantian. Tokoh di dalam lagu ini berkisah tentang seseorang yang menanti kekasihnya datang. Saking lamanya ia menanti, sang tokoh meminum “… forty cups of coffee, waiting for you to come home.”

Penantian tersebut berakhir bahagia. Seperti ujar liriknya, “You knock on the door about a quarter to five. I wanna hug you and kiss you, say thank heaven you’re alive. I drank forty cups of coffee but I’m glad you finally came home.” Manis!

5. Bob Marley ‐ One Cup of Coffee

Ini adalah salah satu lagu pertama yang diciptakan oleh Bob Marley. Iramanya sangat jauh dari kesan Reggae ala “No Woman No Cry” atau “I Shot the Sheriff” yang terkenal itu. Lagu ini sebenarnya berkisah tentang hal ‘sederhana’: perceraian. Tapi dasar Bob sang nabi, ia menceritakannya penuh dengan detail dan sesekali menyentil. Simak potongan liriknya: “I brought the money like the lawyer said to do.”

Namun jika disimak lebih jauh, lagu ini seperti perwujudan sesal Bob yang tak bisa membahagiakan sang istri dan anak. Ia membuka lagu dengan beberapa patah kalimat “One cup of coffee, then I’ll go. Though I just dropped by to let you know, that I’m leaving you tomorrow. I’ll cause you no more sorrow. One cup of coffee, then I’ll go.” Hanya karena irama yang menyenangkan —simak solo terompet di pertengahan lagu—, lagu ini tak terdengar seperti lagu sedih.

Mau tahu bagian yang paling menyesakkan? Tentu ketika Bob mencium anaknya yang sedang tertidur, dan menitipkan pesan kepada sang istri, “… Tell the kids I came last night and kissed them while they slept.” Lantas Bob meminum satu cangkir kopi lagi. Sembari mengucap mantra ini berulang kali: “So one cup of coffee, then I’ll go…”

Honorable mention:

Bob Dylan – One More Cup of Coffee
Lagu yang misterius, disertai ambience yang gelap, lengkap dengan bunyi biola yang menyayat. Bob merasa perlu meminum (lebih dari) segelas kopi untuk menghadapi hari dan apa yang menantinya di depan.
Descendents – Caffeine Bomb
Sebuah lagu berdurasi 0:35 yang berkisah dengan singkat dan padat tentang pentingnya kopi: “I don’t need no booze or drugs. I just chug-a-lug-o my coffee mug.”
Ella Fitzgerald – Black Coffee
Lagi-lagi salah satu penyanyi kesukaan almarhum kakek. Lagu sendu tentang kesepian, sedangkan teman hanyalah kopi dan rokok. Dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi, tapi saya lebih memilih versi Ella untuk menghormati kenangan terhadap almarhum kakek.
Blur – Coffee and TV
Walau saya bukan penggemar British Rock, rasa-rasanya tidak pantas kalau lagu ini tidak masuk daftar. Lagu ini adalah lagu Blur yang paling terkenal. Berkisah tentang hidup dunia modern, dimana kopi dan televisi sudah cukup untuk menghadapi dunia.
Johnny Cash – Cup of Coffee
Lagu Country klasik lengkap dengan racauan ala Johnny Cash yang begitu ikonik (juga entah kenapa ada suara kucing di lagu ini). Ia tidak hanya bernyanyi, tapi bercakap dan mendongeng tentang pentingnya beristirahat sembari meminum kopi ketika menempuh perjalanan panjang: “Got about three more hundred miles to go. And well I just dropped in to have a cup of coffee friend.” Di pertengahan lagu ia malah bercanda, “… Don’t you offer me none of that whiskey, don’t need no wine. Well just coffee, thank you very much.”

Nuran Wibisono

Penyuka jalan-jalan dan musik bagus.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • tapi gw suka kopi yg ini, man:
    http://youtu.be/BYMTJr9gfWY
    enak didengerin kalo abis kejar setoran. hihi.

  • Kok gk ada lagu Indonesianya ya? 😐

  • Arys Aditya

    Danu: Maklum lah, alumnus shortcourse Jerman jeh. :p Bentar lagi keluar yang lagu-lagu Indonesia. Tak paksa Nuran nulis itu. Hehe

    Mbak Pit: Mbak, request donk utk minumkopi… Review prosa atau novel yang ada kopi2nya. Ya ya ya… 😀

  • Peminum kopi

    Copeland – coffee !
    enak sambil minum kopi, hujan, denger lagu ini 😀
    walau lagunya bukan fokus ke kopi sih hehehe

  • @Arys
    hadeuh. gw kan not following everything trendy =P

  • Je

    Keren!
    *langsung download lagulagu nya 😀
    Black Coffee and Pie by The Black Antipodes juga enak buat didengerin pagipagi sambil ngopi 🙁