District: Area Bebas Berekspresi

Malam terakhir di bulan Oktober 2012. Saya berada District: Dining & Coffee Factory. Coffee shop ini tak begitu sulit dicari. Letaknya di Plaza Seturan Kavling A5-A6, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Begitu berada di kavling A, layar berukuran besar yang biasa terpajang sejak sore hari terlihat mencolok.

Berkelompok-kelompok kursi terlihat berada di bagian luar coffee shop. District menyediakan ruangan indoor dan outdoor. Di luar lebih banyak pengunjung yang berkumpul malam itu. Di bagian dalam terlihat lebih senggang. Saya pun masuk. Pajangan foto-foto dan beberapa poster menarik perhatian siapa pun yang pertama kali berkunjung. Sebagian besar foto yang dipajang suasana perdesaan.

District Coffee Shop
© Danu Saputra

Dinding yang berhadapan dengan pintu masuk terkelupas, dan semen berwarna putih kesannya asal tempel. Di bagian bawah terdapat sound sistem, dua gitar dan satu pengganti drum. Bangunan yang disajikan di sini berwarna coklat agak kemerah-merahan. Gaya yang sering muncul dalam film-film yang mengambil latar tempat di Italy.

Entah mengapa saya memilih berada di bagian dalam coffee shop ini. Biasanya saya cenderung memilih di bagian luar sebuah coffee shop. Selain mendapatkan udara segar, pengunjung di bagian luar biasanya lebih semarak berbincang. Saya memesan menu langsung pada kasir. Kemudian duduk persis di depan dapur terbuka tempat para barista menyiapkan sajian.

Beberapa pekerja berpakaian hitam dengan tas pinggang berukuran sedang yang berisi menu sajian terlihat bolak-balik dari kitchen terbuka lalu menghampiri pengunjung. Dua orang pekerja mengira saya belum sempat memesan menu, mereka menghampiri dan sempatkan menawarkan menu yang tersedia.

Di dalam ruangan ada juga televisi datar yang lumayan lebar. HBO sedang dipertontonkan. Film Paranormal Activity 2 sedang berlangsung tanpa suara. Suara musik yang justru tersiar dari pengeras suara. Saya duduk dengan membelakangi televisi, jadi tidak terlalu bisa fokus memperhatikan.

Kopi pesanan saya datang. Saya memesan kopi versi dingin café conpana.

* * *

Hujan menguyur secara tiba-tiba. Serentak pengunjung yang tadinya berlindung di bawah payung besar merapat pada bagian bagian teras beratap. Payung-payung besar yang tersedia tak cukup menahan terpaan hujan. Pengunjung belum begitu ramai saat itu, District masih mampu menampung.

Ada hal menarik lain di District. Dalam logo District secara implisit pengunjung sudah diperkenalkan dengan konsep coffee shop. Orang akan aneh bila pada lambang terdapat sendok dan garpu. Bila di coffee shop cederung menyediakan makanan ringan saja, District mencoba memberi sajian makanan berat pula. District terbuka pula bagi keluarga yang hendak makan malam.

Coffee shop ini masih tergolong baru saya ikut meramaikan dunia minum kopi di Yogyakarta. Setelah persiapan selama dua bulan akhirnya District resmi buka pada 12 April 2012. Theo Agus pemilik coffee shop ini menjelaskan, “Awalnya hanya suka nongkrong, sampai akhirnya ingin mendirikan sendiri.”

Dalam persiapan dan rancangan konsep ia dibantu oleh Titin Natalia dan Israil Iman Mashudi. Titin lebih cenderung aktif dalam marketing, Israil lebih bergulat pada aktivitas harian seperti menu sajian dan sumber daya manusia.

Suasana District Coffee Shop
Ngopi dalam suasana santai. © Danu Saputra

District bisa pula dimaknai area. Itulah konsep yang diusung coffee shop ini, yakni menjadi area tempat berkumpulnya berbagai komunitas. Beberapa komunitas telah menjadikan District sebagai tempat nonkrong. “Image yang terbentuk dari tempat ini jadi tempat berkumpulnya para musisi,” kata Adek.

Tujuh hari dalam seminggu, lima hari di antaranya selalu ada acara yang terselenggara di District. Barangkali citra sebagai tempat musisi berkumpul lantaran acara regular yang diselenggarakan di tempat ini. Di hari Senin, Rabu dan Minggu, ada akustik band yang menemani pengunjung menikmati kopi. Setiap harinya pun di kedai yang buka mulai jam 12.00 sampai jam 04.00 WIB ini tersedia alat musik yang bisa digunakan pengujung spontanitas bermain musik.

Pada hari Selasa dan Kamis tersedia ahli tarot yang bisa meramal pengunjung. Baik penampilan akustik band dan tarot, kedua acara tersebut terjadwalkan mulai pukul 20,00 WIB. “Yah, kalau ada pengujung yang lagi galau bisalah diramal,” kata Titin.

Saya datang pada hari Kamis. Saatnya akustik band yang menghibur pengunjung. Pemain akustik band telah bersiap-siap mengambil tempat di depan pintu masuk. Sang vokalis yang berbaju biru mulai menyapa pengunjung. “Lagu apa ya yang enak didengar saat hujan begini?” tanyanya. Dia juga mempersilakan pengunjung yang berada di luar untuk memasuki bagian dalan kafe.

Setelah menyapa pengunjung. ‘Dia’, lagu yang dipopulerkan Maliq & D’ Esential didendangkan.

Sebenarnya citra sebagai tempat berkumpul para musisi di District sana muncul dengan sendirinya. Segala komunitas bisa menggunakan Dictrict sebagai tempat nongkrong. Titin memberi penjelasan bahwa foto-foto yang ditampilkan di coffee shop ini merupakan karya pengunjung supaya bisa dilihat lebih banyak orang.

Baru berjalan enam bulan tergolong masa-masa kritis bagi usaha yang bergerak di bidang kuliner. Titin menerangkan District sudah dikunjungi orang sejak awal buka. Promosi di masa awal melalui berbagai kanal membantu coffee shop ini dikenal masyarakat. Jika awalnya District hanya menampung 60 orang saja sekarang bisa lebih dari 100 orang bisa ditampung dalam waktu bersamaan.

Saya datang terlalu sore dan diterpa hujan pula, kalau saja agak malam sedikit bisa jadi saya tidak mendapatkan tempat. Pesan tempat memang digunakan bagi mereka yang hendak datang ke tempat ini. Namun pemesanan tempat hanya bisa dilakukan pada hari-hari biasa. Itu pun 30 menit sebelum kedatangan. Kalau ada acara reguler atau pertandingan bola pemesanan tempat bisa dipastikan tidak bisa dilakukan.

Lagu demi lagu didendangkan. Kini giliran Esok Kan Masih Ada karya Utha Likumahua.

Hujan sudah redah. Saya pun meninggalkan District. Suara penyanyi di dalam coffee shop masih terdengar. Semakin jauh saya melangkah suara penyanyi itu makin melemah.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405