Disiram Dawet Ireng Kutoarjo

Di siang yang cukup panas, bersama seorang kawan, saya bertolak dari Stasiun Solo Balapan menuju Stasiun Kutoarjo. Awalnya, kami sempat bingung karena kereta Prameks menuju Kutoarjo baru ada jam 12 siang. Padahal, kami berencana berangkat pagi. Namun, jadwal keberangkatan dari stasiun rupanya sudah ada dari sekitar jam 7 pagi sedangkan kami tiba jam 7.30. Kami terlambat.

Walhasil, kami harus menunggu berjam-jam untuk menanti jadwal selanjutnya.

Untuk menyusuri rute Prameks: Solo-Jogja-Kutoarjo, kalian hanya perlu modal Rp15 ribu per orang. Perjalanan dari Stasiun Solo Balapan menuju Stasiun Kutoarjo memakan waktu sekitar 2 jam. Perjalanan yang tak sebentar, tapi juga tak terlalu lama. Tapi tak usah risau, sebab selama perjalanan, kalian akan disuguhi pemandangan dari bentangan sawah dan hutan yang masih asri. Terutama saat memasuki daerah Wates-Kutoarjo.

Perjalanan semakin tak terasa saat kami mengisinya dengan obrolan ramutu: cerita perkuliahan, lelucon, hingga aksi saling bully-an. Sesekali kami juga menggosip ala emak-emak arisan. Celotehan tadi menamani hingga kami tiba di Stasiun Kutoarjo. Ini kali pertama saya ke sana. Sempat khawatir, sebab ketika hampir tiba tak tampak bangunan kota yang megah dengan hiruk pikuk laiknya kawasan perkotaan.

Ternyata Kutoarjo tak seperti yang saya bayangkan. Sebelumnya, Kutoarjo memang merupakan sebuah kabupaten. Setelah Kutoarjo digabung dengan Purworejo, tepatnya tahun 1934, Kutoarjo hanya satu kecamatan yang berpenduduk kurang lebih 67 ribu jiwa.

Namun demikian, Kutoarjo merupakan kecamatan yang cukup ramai. Selain karena keberadaan Stasiun Kutoarjo, pusat keramian seperti Alun-alun kota, yang selalu dipadati pedagang kaki lima saat menjelang sore, serta jalan provinsi yang selalu dilewati banyak kendaraan. Hal tersebut membuat Kutoarjo tak kalah dari kota kabupaten Purworejo.

Hal yang juga membedakan Kutoarjo dengan kota lainnya yang pernah saya jumpai adalah arsitektur bangunannya—terutama toko-toko di pinggir jalan. Seperti ingin mempertahankan keaslian bangunan, toko-toko di sana masih bertipe bangunan lama. Pintu-pintu toko masih menggunakan pintu lipat kayu, laiknya toko Cina zaman baheula.

Seporsi Dawet Ireng
Seporsi Dawet Ireng | © Muhammad Sukron Fitriansyah

Usai berjalan-jalan menyusuri Kutoarjo, rasa lelah pun melanda. Kami memutuskan mencari minuman penghilang dahaga. Kebetulan, di Kutoarjo, Purworejo katanya, ada minuman khas bernama Dawet Ireng. Saya penasaran dan berinisiatif menyusuri setiap sudut Kutoarjo. Eh kebetulan sekali tak jauh dari Stasuin Kutoarjo terdapat kios kecil yang menjual Dawet Ireng. Kami pun memutuskan mampir dan segera memesan dua mangkuk Dawet itu.

Dawet ireng merupakan sajian khas Purworejo. Berbeda dengan dawet lainnya yang berwarna hijau, Dawet ireng justru berwarna hitam. Warna hitam berasal dari merang padi yang dibakar kemudian dijadikan sebagai pewarna dawet. Sedang dawet biasanya terbuat dari tepung beras yang dibentuk menyerupai bulir jeruk.

Di sajikan bersama dengan santan dan gula jawa, menghasilkan rasa yang manis dan segar. Tak terlalu manis, tapi pas. Apalagi diminum ketika siang hari. Tenggorokan terasa seperti disiram air terjun. Seger rek!

Selain rasanya yang segar, Dawet ireng juga baik bagi kesehatan. Dengan menggunakan bahan alami, Dawet ireng dipercaya dapat meredakan panas dalam dan melancarkan pencernaan. Tak ayal, Dawet Ireng ini banyak digemari oleh masyarakat, terutama di sekitaran Jawa Tengah.

Kini, Dawet Ireng sudah banyak kita temui. Bukan hanya di Kutoarjo, bila ingin merasakan sensasi eksotisme Dawet Ireng ini di daerah asalnya, ya bisa langsung datang ke Kutoarjo.

Muhammad Sukron Fitriansyah

Kurang tampan juga tidak jelek.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405