Dinginnya Dago, Hangatnya Caffe Latte dan Alunan Musik yang Bikin Melamun

Beberapa kawan membuka stand buku di sana, tak hanya itu, jika dilihat dari rundown yang diposkan dalam instagramnya, tema-tema diskusi dan juga beberapa deretan musisi akan ikut meramaikan soft launching di tempat ini.

Siang itu Dago sedang tak terik. Selama di perjalanan, saya dihinggapi rasa was-was karena takut hujan datang lebih cepat. Bukan apa-apa, motor tua yang saya tunggangi selalu ngadat bila hujan tiba. Benar saja, setelah memarkirkan motor, gerimis membasuh beriringan dengan dingin yang cukup menusuk. Pandangan saya tertuju pada beberapa meja dan kursi yang berada di halaman. Hari itu, coffee shop baru yang berada di Jalan Pakar Kulon No 112 akan ikut menyemarakkan coffee shop lainnya yang memang sudah bertebaran di Bandung. Coffee shop baru itu bernama 372 Kopi Dago Pakar.

Sebetulnya coffee shop ini adalah cabang dari coffee shop sebelumnya yang berada di Jalan Dago nomor 372.

Halaman di 372 Kopi Dago Pakar
Halaman di 372 Kopi Dago Pakar | © Hendi Abdurahman

Setelah gabung bersama kawan-kawan lainnya, saya tergerak untuk memesan kopi, dan caffe latte menjadi pilihan saya sore itu. Karena dalam rangka soft launching, semua jenis kopi dihargai Rp 10.000, termasuk caffe latte yang saya pesan.

“Atas nama Akay,” seorang pelayan berteriak dengan muka yang dilempar bolak-balik ke kiri dan ke kanan. Mendengar nama saya dipanggil, saya langsung angkat tangan, dan caffe latte siap untuk saya sesap.

Obrolan basa-basi menjadi penting, caffe latte yang saya pesan tak akan terasa nikmat tanpa rokok. Setidaknya, begitu pikir saya. Namun, ruangan yang saya duduki adalah ruangan tanpa asap rokok. Sesama perokok, intuisi saya dan Nurul tiba-tiba terbangun, lalu secara bersamaan kami berdua pergi ke ruangan belakang. Menyesap kopi dan menghisap rokok. Dinginnya udara sore itu beradu dengan hangatnya secangkir caffe latte, rokok, dan obrolan ke sana kemari bersama Nurul.

Caffe Latte di Kopi 372 Kopi Dago Pakar
Caffe Latte di Kopi 372 Kopi Dago Pakar | © Hendi Abdurahman

Di ruangan belakang, daun pohon pisang terombang-ambing angin, sedangkan kami semakin asyik bercerita. Menjelang malam suasana semakin seru, beberapa musisi berdatangan untuk mengisi acara dan siap membawakan lagu-lagu untuk menghibur para pengunjung 372 Kopi Dago Pakar. Sky Sucahyo menjadi yang pertama saya saksikan, alunan lagu-lagu yang dibawakannya membawa saya pada khayalan. Dengan ukulele yang dipetiknya, ia membawakan lagu yang tak saya kenal tapi begitu enak di kuping. Itulah kali pertama saya melihat dan menonton dia bernyanyi.

Suaranya enak dan syahdu, sementara para penonton tak henti-hentinya melongo yang diselingi tepuk tangan. Terlihat jelas dari raut wajah Sky Sucahyo bagaimana dia begitu senang saat penonton bertepuk tangan. Meski para penonton tak banyak yang ikut bernyanyi, harmoni yang dia sajikan begitu pas dengan suasana kafe yang hangat. Tak hanya itu, jarak yang sangat dekat dengan penonton menimbulkan keintiman. Sungguh lagu-lagunya membawa saya dan kawan-kawan berimajinasi akan satu dan lain hal.

Suasana 372 kopi makin hangat saja, pelayan tak jarang bolak-balik mengirimkan pesananannya. Ruangan yang disediakan untuk manggung para musisi kembali ramai. Kali ini Sandrayati Fay yang akan tampil. Dari keseluruhan para musisi yang tampil, saya begitu terpikat dengan cara dia bernyanyi. Suaranya yang penuh gairah, petikan gitarnya yang mempesona hingga emosi yang ia tularkan kepada para penonton sangat terasa. Saya begitu terbawa suasana dan mengkhidmati penampilan Sandrayati Fay ini.

Di tengah-tengah penampilannya, ia meminta perwakilan dari penonton untuk membacakan puisi. Seorang laki-laki bertopi maju dengan percaya diri. Tadinya saya pikir laki-laki ini hanya bermodal keberanian, tapi tak disangka, ia membawakan puisinya dengan bagus dan penuh penghayatan.

Tiap setelah lagu selesai, para penonton bertepuk-tangan dengan penuh gairah yang bikin suasana makin cair. Dalam beberapa lagu yang dibawakan Sandrayati Fay malam itu, saya dan juga mungkin beberapa penonton lainnya dibawa melayang dan berkhayal.

Penampilan Sky Sucahyo di 372 Kopi Dago Pakar
Penampilan Sky Sucahyo di 372 Kopi Dago Pakar | © Hendi Abdurahman
Penampilan Sandrayati Fay di 372 Kopi Dago Pakar
Penampilan Sandrayati Fay di 372 Kopi Dago Pakar | © Hendi Abdurahman

Saya memejamkan mata, tak lama datang Danilla dan Rara Sekar dengan masing-masing membawa kopi di tangan kanannya. Tepuk tangan dan riuhnya penonton makin menjadi-jadi dengan kedatangan mereka berdua. Mereka masuk ke panggung utama dan bertegur sapa dengan para penonton lainnya, lalu ketiganya berpelukan seolah melepas kangen. Namun, saat mereka hendak berkolaborasi untuk bernyanyi bersama, saya terbangun dan saya tak menangkap adanya Danilla, begitu pula Rara Sekar. Mereka hanya ada dalam khayalan yang diiringi lagu dari Sandrayati Fay. Saya telah melamun dan berkhayal terlalu dalam. Tapi tak apa, lamunan saya tadi merupakan lamunan yang diinisiasi dari alunan musik dan suara seorang Sandrayati Fay.

Kopi dalam gelas saya hampir habis, hanya tinggal menyisakan satu atau dua tegukkan saja. Lalu acara di 372 kopi diteruskan oleh musisi lain yang hendak tampil. Saya pergi ke luar, untuk kemudian ngobrol bareng kawan atas tempat ngopi yang enak ini, atas penampilan Sky Sucahyo dan Sandrayati Fay yang telah saya tonton dan nikmati, dan tentang siapa yang akan saya ajak ke tempat ini, esok.

Hendi Abdurahman

Pejalan kaki di Minggu Pagi, Pegiat Komunitas Aleut.