Diarios de motocicleta: Bukan (sekadar) Film Touring Motor

diarios-de-motocicleta-che-guevara-highwaymagazine.wordpress.com
Diarios de Motocicleta | Sumber: highwaymagazine.wordpress.com

Diarios de Motocicleta adalah film yang pantas dan wajib untuk ditonton para remaja generasi milenial kiwari. Film ini mampu membuka mata Anda bagaimana sebuah kondisi real Amerika Selatan waktu itu digambarkan secara gamblang bersama bergulirnya detik demi detik. Bagaimana kemiskinan mampu digambarkan secara estetis untuk menciptakan kesan melankolis.

Film garapan Walter Salles, Sutradara asal Rio Dejeneiro, Brazil ini memperlihatkan kepada Anda bagaimana seorang Che Guevara menghabiskan waktu mudanya. Ia menggambarkan potret eksotis nan miris Amerika Selatan di tahun 50an. Bagaimana setiap potret wajah di setiap daerah selalu ditampilkan untuk menguatkan kesan mendalam. Selain itu juga sebagai efek penegas bagaimana gambaran realis masyarakat Amerika Selatan yang sedang terjajah sebuah sistem yang menindas.

Perjalanan dimulai dari Buines Aires menuju daratan Venezuela. Perkiraan sejauh 8000 km jarak yang harus ditempuh. Dua pemuda yang haus akan petualangan itu Ernesto Guevara de la Serna (Gael Garcia Bernal) dan Alberto Granado (Rodrigo De la Serna). Ernesto yang kerap dipanggil Fuser adalah calon dokter yang akhirnya memutuskan untuk melakukan touring panjang. Meninggalkan sejenak deretan tugas desertasi dan perkuliahan yang membosankan. Bersama Mial, panggilan akrab Fuser kepada si gendut Alberto. Mereka adalah dua pemuda yang memiliki tujuan dan indentitas yang sama, impian dan cita-cita. Karena kesamaan itulah mereka memutuskan untuk sejenak pergi berpetualang membayar tuntas akan nafsu muda mereka.

“Ini bukanlah kisah yang mengesankan. Kisah dua sahabat ketika mereka melakukan perjalanan bersama. Menyusuri jalan yang telah ditakdirkan dengan identitas yang sama: impian dan cita-cita. Apakah cara pandang kami terlalu sempit, terlalu memihak, terlalu mendesakkan? Apakah kesimpulan kami terlalu keras? Mungkin, tapi perjalanan tanpa arah menjelajahi Amerika Selatan kami yang luas, telah banyak mengubahku. Aku bukanlah diriku lagi. Setidaknya, di dalam aku sudah tidak sama”.

Ernesto Guevara de La Serna

Tepat tanggal 4 Januari 1952 mereka menarik gas motor jenis Norton 500 yang sudah usang dan sering mengencingkan oli di mana-mana. La Pederosa, nama kuda besi itu, adalah pemberian Mial. Dengan bunyi yang tak lagi bersahabat di telinga dan asap knalpot yang keluar tanpa dapat dibendung, La Pederosa menyusuri jalanan sunyi Amerika Selatan. Perjalanan panjang yang akan mengantarkan mereka menuju tempat yanag paling terpencil dari jiwa manusia.

Sebagai gambaran awal, Anda akan melihat gagahnya dua orang anak motor menyusuri jalan demi jalan. Dengan berbagai peristiwa khas touring anak motor kebanyakan. Motor jatuh, salah satu komponen motor rusak, tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit, serta cekcok mulut khas dua orang sahabat. Kesialan pun kerap mereka alami sebagai syarat untuk menjadi anak motor yang kaffah. Bagi saya yang paling konyol jika Anda berkesempatan menonton film ini, jangan lewatkan menit ke 40 di film ini. Anda akan menyaksikan kejadian paling konyol yang harus mereka alami. Melakukan manuver zig zag yang berakhir dengan ditabraknya seekor sapi dari kerumunan karena rem blong.

Kisah percintaan ditampilkan secara singkat dan seperlunya. Tidak berlebihan seperti film biopik yang banyak di produksi di Indonesia. Yang banyak menggambarkan kisah percintaan tanpa makna. Sepertinya Walter Salles sengaja membatasi scene kisah cinta untuk film yang digarapnya ini. Walaupun begitu, Miramar sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana selayaknya para pemuda dan pemudi menuruti hawa nafsunya akan cinta.

Diarios de Motocicleta
Diarios de Motocicleta | Sumber: www.mystorybook.com

Setelah melewati menit 48, Anda tidak akan disuguhkan lagi gambaran dua orang anak motor yang gagah menaklukan jalanan Amerika Latin dengan La Pederosa. Setelah melewati diagnosa dokter mesin yang mereka temui di Los Angeles, Chile, La Pederosa harus berhenti karena kelumpuhan. Ya, La Pederosa setelah itu hanyalah tinggal rangkaian besi rusak yang tidak dapat dikendarai lagi.

Akan tetapi, perjalanan tetap mereka lanjutkan dengan berjalan kaki. Lha, Setelah ini Anda akan masuk ke dalam dunia magis penuh nilai kemanusiaan yang dibuat oleh Walter Salles. Bagaimana kemudian mereka lebih banyak mendapat kesempatan untuk melakukan interaksi langsung dengan pribumi Amerika Latin. Bagaimana sisi gelap benua kelahiran Fuser ditampilkan secara perlahan. Dari terang menuju ke dalam kegelapan. Seperti gradasi dalam warna pallete. Setiap setting bergerak ritmis mengikuti jalannya cerita.

Jiwa dan perasaan Anda akan diajak untuk menyelami sisi kemanusiaan yang digambarkan secara terstruktur. Bahkan kerap kali Anda akan menemukan beberapa adegan yang akan ditampilkan berulang-ulang di antara monolog pilu Fuser. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, Amerika Latin tahun 50an digambarkan secara eksotis untuk menimbulkan kesan tragis.

Walter Salles membuat metronom alur miliknya sendiri. Bunyinya akan dimulai monoton dengan ketukan ritmis yang stagnan. Kemudian berubah cepat, semakin cepat, dan berhenti tepat di akhir cerita. Selain itu pemilihan angle kamera yang ciamik membuat film ini dapat menangkap setiap kerutan penderitaan manusia pribumi yang divisualkan.

Lewat dialog ringkas yang tak banyak fafifu, film ini mampu menunjukkan dialog para pribumi yang penuh dengan kepolosan. Menyajikan percakapan hangat yang menghadirkan perasaan pilu bagi siapapun yang mendengar. Berkisah tentang kehidupan mereka ditindas oleh manusia lain yang mengatasnamakan pembangunan.

Saya rekomendasikan film ini juga bisa ditonton untuk anak muda dan para ibu yang menggemari sinetron Anak Jalanan. Nikmatilah bagaimana kisah anak motor yang sebenarnya menjejali alam pikir Anda. Bagi anak muda, kisah ini dapat menjadi contoh sebagai stimulus untuk meningkatkan rasa empatinya pada penderitaan rakyat. Sedangkan untuk para ibu, film ini dapat dijadikan contoh untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi pemuda yang baik. Paling tidak, mampu membuka mata mereka untuk bisa melihat dan menentukan sikap pada sebuah ketidakadilan.

Maka dari itu, jangan banyak fafifu dan langsung saja tonton Diarios de Motocicleta. Anda tidak harus menyiapkan helm, jaket, sepatu dan piranti safety riding lainnya hanya sekedar untuk menikmati sinema ini. Apalagi takut kepada para polisi fasis yang akan menilang Anda. Paling tidak, siapkan dua batang cerutu. Satu buat Anda untuk menikmati film, satunya lagi untuk Che Guevara agar semangat revolusi bisa hadir menemanimu.

Ahmad Wijayanto

Mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra indonesia yang suka design.