Derby Della Capitalle di Amarello

Suasana awal nonbar DDC di Solo
Suasana awal nonbar DDC di Solo © Rizki Akbari S

Langit sore tiba-tiba mendung ketika saya tiba di Stasiun Lempuyangan. Masih satu jam lagi sebelum kereta benar-benar berangkat menuju Solo. Hujan datang tanpa permisi. Disambut gelegar petir, hujan semakin kencang nan deras. Saya sempat mengurungkan niat untuk pergi. “Kalaupun di Jogja hujan, barangkali di Solo cerah,” pikir saya sejenak. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap berangkat. Kira-kira pukul 18.10 prameks berangkat ke Solo.

Sial! Saya lupa jika di akhir pekan seperti ini, prameks pasti disesaki mahasiswa dan para pekerja yang hendak kembali ke Solo. Benar saja, kereta prameks sudah dipadati penumpang. Walhasil, terpaksa saya harus berdiri di sepanjang perjalanan Jogja-Solo. Kondisi itu diperparah dengan AC yang tidak hidup, lebih tepatnya kipas pendingin kereta yang berjalan tidak maksimal, jadinya panas luar biasa.

Di luar hujan makin deras, di dalam kereta hawa terasa makin panas. Beberapa penumpang mencoba membuka jendela kereta untuk mengurangi hawa panas di dalam kereta. Tapi sia-sia sebab hujan deras menyebabkan air masuk bila jendela dibuka. Masing-masing dari kami, para penumpang akhirnya pasrah dengan keadaan panas di dalam kereta. Lha mau kipas-kipas, tangan saja susah digerakkan saking sesaknya orang di dalam kereta.

Hari minggu malam biasanya saya habiskan waktu untuk bersantai di kos. Membuka beberapa buku baru yang belum sempat saya sentuh. Merasakan aroma kertasnya, membacanya sembari menikmati kiriman kopi dari teman di Bangka Belitung. Ah, sungguh mengasyikkan. Tapi minggu malam kali ini saya putuskan untuk pergi ke Solo: menyaksikan laga Derby Della Capitalle (laga DDC) antara SS. Lazio vs AS. Roma.

* * *

Pukul 19.20 prameks tiba di Stasiun Purwosari. Saya yang harusnya turun di stasiun Balapan, memilih turun di stasiun Purwosari karena tak tahan dengan kondisi dalam kereta yang panas dan sesak. Apa boleh buat, saya harus menempuh sisa perjalanan ke lokasi sedikit lebih lama. Hanya taksi dan ojek kendaraan yang tersisa malam itu. Saya pilih ojek. Namun, sial. Lagi-lagi sial. Tukang ojek tiba-tiba tidak menampakkan dirinya saat saya sedang membutuhkan. Baru setelah lima belas menit menunggu, ia akhirnya nongol. Masih ada sekitar setengah jam sampai kick off pertandingan dimulai pukul delapan malam.

Lima belas menit perjalanan saya tempuh untuk sampai ke lokasi nonbar. Pintu masuk sudah dibuka. Tiket nonbar dan stiker Roma Club Indonesia (RCI) Solo saya dapatkan dengan membayar Rp18 ribu saja. Dari pintu masuk, ke area nonbar saya menaiki satu lantai dengan tangga, kemudian dilanjut dengan naik lift. Area nonbar malam ini diadakan di Sky Lounge, lantai 5 Hotel Amarello Solo. Lantai paling atas dari hotel ini.

Masih belum banyak orang nonbar yang terlihat ketika saya sampai di lokasi. Barangkali hanya 20an peserta. Sementara waktu tinggal lima menit menuju kick off pertandingan. Barangkali hujan sedikit menghambat mereka untuk hadir tepat sebelum laga dimulai.

Sementara saya menunggu, di layar nonbar sudah menampilkan line-up pemain. Tak ada nama Edin Dzeko, Francessco Totti dan Danielle De Rossi di susunan pemain inti AS. Roma. Spalletti menurunkan M. Salah, El Shaarawy, dan Diego Perotti sebagai trio penyerang. Sementara Lazio menempatkan Alesandro Matri sebagai ujung tombaknya. Sebelum peluit kick-off tanda dimulainya pertandingan, kedua tim mengheningkan cipta sejenak, sebagai bentuk penghormatan atas kepergian Cesare Maldini. Ciao Cesare!

Situasi awal arena nonbar saat pertandingan belum berlangsung
Situasi awal arena nonbar saat pertandingan belum berlangsung © Rizki Akbari S

Laga pun dimulai. Beberapa Romanisti mulai berdatangan memadati area nonbar. Menit kelima, puluhan pendukung Lazio (biasa disebut Laziale) berbondong-bondong datang menempati sisi kiri depan area nonbar. Puluhan lain Romanisti kemudian menyusul memadati arena. Tak beberapa lama dengan dikomandoi salah seorang saja, Laziale mengumandangkan yel-yel dukungan. Kami Romanisti yang hadir saat itu merasa bergidik sejenak, karena gelegar suara dan kekompakan mereka.

Memasuki menit ke 15 pertandingan, AS. Roma menyerang ke jantung pertahanan Lazio. Diawali dengan umpan lambung oleh Lucas Digne, El Shaarawy yang berdiri bebas di tengah kotak pinalti menyundul bola ke arah kiri gawang Marcheti. Dan goool! Satu kosong Roma sementara memimpin. Gol itu sontak disambut teriakan kami Romanisti yang hadir di area nonbar. Semua berdiri mengangkat tangan meluapkan kegembiraan sembari mengucap keras-keras nama El Shaarawy sebanyak tiga kali. Keras, lantang, dan kompak, serasa kami hadir menonton langsung di stadion Olimpico.

Meski tertinggal sementara, Laziale yang hadir malam itu masih tetap menyanyikan yel-yel sebagai dukungan kepada timnya. Selepas gol itu, serangan yang dilakukan Roma makin deras. Sayang, tak ada gol lagi yang tercipta di babak pertama.

Agenda nonbar laga DDC ini diselenggarakan RCI Solo sebagai event rutin sekaligus salah satu event terbesar pasca pergantian kepengurusan di RCI Solo. Sebelumnya, ada event “Fun Football Together,” dengan mengundang komunitas RCI dari Semarang, Sragen, Magelang, Salatiga, Solo, dan Jogjakarta. Fun Football Together ini dimaksudkan untuk memperat tali persaudaraan sesama pencinta Roma, dan juga sebagai bentuk persiapan menghadapi event Gathering Nasional, pada 2-4 September nanti di Semarang. Sayang, di acara kali ini RCI Semarang tidak bisa hadir dikarenakan sedang menggelar event Tournament Fans Club. Acara nonbar DDC ini merupakan bagian dari progam koordinator RCI solo yang baru. Progam komunitas yang diadakan untuk skala yang besar. Acara nonbar kali ini mengundang RCI yang dekat dengan Solo seperti RCI Magelang, Sragen, Salatiga, Jogjakarta dan beberapa RCI di daerah Jateng lainnya.

Biasanya, lokasi nonbar diselenggarakan di Jackstar, sebuah ‘café & resto’ di daerah Solo. Namun karena ingin mencari suasana baru, akhirnya panitia memillih Amarello Hotel. Acara ini digagas RCI Solo yang bekerjasama dengan pihak Djarum. Seluruh perlengkapan dan fasilitas nonbar disediakan oleh pihak Amarello hotel yang diakomodasi Djarum. Pihak RCI Solo hanya menjualkan merchandise Djarum.

Sebetulnya, nonbar laga DDC kali ini Lazio bertindak sebagai tuan rumah, namun karena kesepakatan bersama dan komunitas fans bola yang diundang cukup banyak, akhirnya RCI Solo yang bertindak sebagai panitia acara. Reza Zainul Ikhsan; mantan koordinator, salah satu pendiri RCI Solo dan juga panitia dalam acara ini mengatakan 120 tiket terjual habis. Acara ini tergolong sukses, walau hujan sempat membuat panitia ketar-ketir, takut tak ada yang datang.

Beruntung, dengan harga tiket hanya Rp18 ribu, peserta nonbar mendapat fasilitas camilan dan minuman. Maka, ketika jeda babak pertama, kami antri untuk mengambil sajian itu. Ada sajian makanan pedas seperti tahu, tempe serta roti disediakan di meja makan. Es teh manis minumannya. Hotel Amarello sebenarnya juga menyediakan menu makanan dan juga minuman, namun sayang, hanya beberapa saja yang pesan. Saya mencoba memesan secangkir kopi, namun rasanya biasa saja tak ada yang spesial. Jangan ditanya harganya. Harganya lebih mahal dari kedai-kedai kopi biasa. Karena disajikan di hotel berbintang, harga kopi juga berbintang. Tak apalah, karena saya belum sempat minum kopi seharian ini. Saya membayar Rp25 ribu untuk secangkir kopi tersebut.

* * *

Babak kedua laga DDC dimulai. Roma memegang bola pertama pada babak kedua ini. Tak ada pergantian pemain dari kedua kubu. Kali ini Romanisti yang hadir di arena nonbar, mulai mengumandangkan yel-yel: “Forza Roma, Roma Champione,” diulang berkali-kali, sembari bertepuk tangan, sayang malam itu Romanisti yang hadir kurang kompak dan terlihat malas untuk mengumandangkan yel-yel.

Sementara itu di lapangan, Lazio memegang kendali, beberapa kali serangan dilancarkan. Tapi tak ada satu pun penyelesaian yang berbuah gol. Pada menit ke 56, ada dua pergantian pemain dilakukan Lazio. Alesandro Matri digantikan Miroslav Klose, dan Antonio Candreva digantikan Keita Balde. Serangan Lazio makin sering menghantam lini pertahanan Roma. Menit ke 60, berganti Roma memasukkan amunisi segar. Edin Dzeko masuk menggantikan El Shaarawy.

Selang 4 menit masuknya Dzeko, berawal dari sebuah serangan dari tengah lapangan. Radja Nainggolan berlenggak lenggok melewati beberapa pemain Lazio. Dia terjatuh tapi bola diberikan pada Diego Perroti yang langsung melepaskan tendangan keras ke gawang Marcheti. Bola membentur tiang gawang kanan, dan berbalik ke arah depan gawang Lazio. Bola liar tersebut tepat berada di jalur lari Edin Dzeko, tak perlu dengan tenaga yang keras Dzeko menceploskan bola ke arah kiri Marcheti dan goool. 0 – 2 Roma memimpin.

Romanisti di arena berteriak sambil mengucap nama Edin Dzeko sebanyak tiga kali. Pendukung Lazio di area nonbar, tertunduk lesu melihat timnya kebobolan dua gol.

Keunggulan dua gol ini membuat suasana nobar menjadi tambah panas. Romanisti yang sejak tadi terlihat malu untuk meneriakkan yel-yel, kini mulai bersemangat. Tak mau kalah, teriakan romanisti dibalas Laziale. Untung, malam itu kami tak saling baku hantam. Kesukaan tim boleh berbeda-beda, tapi tetap kita semua bersaudara.

Yel-yel Laziale lebih lantang dan berlangsung terus menerus, hingga akhirnya dukungan tersebut membuahkan hasil.

Laziale bernyanyi dan menyalakan flare selepas gol dari Marco Parolo
Laziale bernyanyi dan menyalakan flare selepas gol dari Marco Parolo © Rizki Akbari S

Menit ke 75 terjadi duel memperebutkan bola udara di dalam kotak pinalti. Klose berhasil menyundul bola ke arah gawang Szczesny yang sudah kosong. Marco Parolo yang berdiri bebas tinggal meneruskan bola, dan goool. Lazio berhasil menyarangkan gol untuk menipiskan kedudukan menjadi 1-2. Laziale yang hadir makin kencang meneriakkan nyanyian dukungan sambil menghidupkan flare di area nonbar. Beberapa lainnya berjoget dan melonjak-lonjak. Sedang Romanisti yang hadir masih tetap diam adem ayem di kursi masing-masing.

Pasca gol Marco Parolo, kontan permainan dikuasai Lazio. Memasuki menit ke 80, Roma kembali membangun serangan. Berawal dari bola muntah sepakan pemain Roma yang tidak berhasil dibuang dengan baik oleh pemain Lazio, Alesandro Florenzi yang berlari dari sisi kanan lapangan menyepak bola ke pinggir gawang dan goool. Gol ketiga berhasil dicetak malam hari itu. Saya dan Romanisti yang hadir malam itu menyambutnya dengan berdiri, melonjak kegirangan, sambil mengucap Alesandro Florenzi sebanyak tiga kali. Flare merah dinyalakan, sambil bersenandung Forza Roma. Tak mau diam menyaksikan kekalahan timnya, Laziale yang hadir juga menyalakan dua flare sekaligus, sambil terus meneriakkan yel-yel. Romanisti yang hadir juga membalas dengan menyalakan satu flare lagi. Kepulan asap merah dan biru bercampur menjadi satu, memenuhi area nonbar.

Memasuki lima menit akhir, Romanisti dan Laziale yang hadir malam itu, sama-sama menghabiskan flare yang tersisa. Asap pembakaran flare sempat mengepul dan membuat arena nonbar berkabut tebal. Banyak yang memegang hidung dan menutup mulut mereka, bau asap flare sungguh membuat sesak. Namun, itu justru membuat adrenalin makin terpacu. Suasana nonbar seringkali diciptakan semirip mungkin dengan nonton langsung di stadion. Tak apalah bagi kami para pendukung tim kesayangan sesekali menghirup asap flare yang kadang bikin sesak dada dan pedih di mata.

Menit ke 87, Diego Perotti berhasil merebut bola di area tengah, dengan menyisakan tiga bek saja, Perrotti berlari ke arah tengah gawang dan melepas tendangan terukur di arah kanan yang tak terjangkau Marcheti. Dan goool. Gol keempat bersarang di gawang Lazio. Romanisti makin bersorak, semua berdiri dan menunggu peluit panjang tanda pertandingan habis. Laziale yang hadir juga berdiri sembari tetap meneriakkan yel-yel mendukung tim kesayangannya, walau malam hari ini, Roma yang bermain apik.

Peluit panjang dibunyikan. Lazio harus mengakui kemenangan Roma malam hari itu. Roma bermain lebih solid dibandingkan Lazio. Kemenangan ini membuat Roma tetap kokoh di posisi 3 klasemen Serie-A, memangkas jarak menjadi selisih empat poin dengan peringkat 2 Napoli. Sedang Lazio berada di posisi ke 8 klasemen.

Perwakilan Romanisti yang hadir berfoto bersama usai pertandingan
Perwakilan Romanisti yang hadir berfoto bersama usai pertandingan © RCI Solo

Acara nonbar ditutup dengan pembagian doorprize oleh panitia. Laziale yang hadir malam itu langsung pamit meninggalkan kami Romanisti di area nonbar. Mereka kecewa dengan kekalahan timnya. Apalagi kekalahan ini dialami saat Lazio menjadi tuan rumah di stadion Olimpico. Romanisti yang masih di area nonbar menutup acara kali ini dengan berfoto bersama. Masing-masing RCI yang hadir berfoto dengan latar yang sudah disediakan panitia. Beberapa RCI dari masing-masing daerah menyempatkan berfoto sendiri, dan terakhir seluruh perwakilan RCI Jateng, DIY, dan Solo malam hari itu berfoto bersama-sama. Masing-masing dari kami pulang dengan senyum bahagia.

Kemenangan laga Derby Della Capitalle malam hari ini membuat kami optimis musim depan AS. Roma bisa berjaya di liga Serie A dan Liga Eropa tentunya. Sebab kami Romanisti tak pernah lelah untuk terus mendukung Roma, baik itu kalah ataupun menang. Forza Roma! Roma Hungry For Glory!

Rizki Akbari Savitri

Pembela Serigala dari kota Roma, AS Roma. Redaktur kopi di minumkopidotcom.