Demokrasi di Warung Kopi

Donggala
Secangkir kopi susu di warung kopi Nagaya, Donggala. © Neni Muhidin

Matahari memang sudah mulai meninggi namun kami tak sedang dikejar jadwal yang ketat. Masih ada cukup waktu untuk mampir di sebuah kedai. Kopi di hotel tua tempat kami menginap di kota Palu rasanya tak cukup membuat terjaga.

“Kita singgah di Donggala,” simpul Hedar Laudjeng dari Perkumpulan Bantaya, tuan rumah kami. “Di sana ada kopi enak.”

Di sanalah kami tiba setelah setengah jam menyusuri teluk meninggalkan kota Palu. Memerlukan beberapa kali berbelok di jalan-jalan sempit, khas kota pelabuhan tua, untuk tiba di salah satu warung kopi tertua di Donggala. Sebelum memasukinya, kawan kami hanya memberi satu petunjuk lagi, “Warung ini sudah menjadi legenda.”

Cat biru di pintu dan jendelanya langsung bisa mengatakan bahwa warung itu sudah menjamu sekian generasi peminum kopi di kota itu, yang dulu menjadi persinggahan teramai di Sulawesi Tengah.

Tungku, panci, saringan kopi, yang semuanya terlihat sudah begitu tua, membuat saya membayangkan generasi demi generasi kapal datang membongkar sauh dan muatan. Lalu awak-awaknya rehat ke sana sembari membawa berita dan cerita dari tempat-tempat jauh. Kabar-kabar itu mungkin kini melekat di alat-alat itu, berbaur dengan resapan kopi, yang semuanya senantiasa bisa membuat orang terjaga.

* * *

Rupanya, ketika kami mampir, warung kopi itu menjelma panggung milik seorang lelaki tambun bersuara berat, berjanggut putih, yang duduk di sudut ruangan—di mana semua pengunjung bisa melihatnya.

Saat kami melewati ambang, ia berhenti sejenak menunggu hingga kami menemukan tempat duduk masing-masing. Sebentar saja kami sudah bergabung menyaksikan Sang Pria Tua tengah terlibat debat tentang pelabuhan kota Donggala. Kelak kami dengar dari kawan, pelabuhan adalah perihal yang sungguh ia kuasai.

Menyaksikan adegan demi adegan mencengangkan ini, saya langsung teringat dua orang, Antonio Gramsci dan Jurgen Habermas.

Lalu lintas percakapan di warung itu mengingatkan kepada konsep ‘Masyarakat Sipil’ ala Antonio Gramsci. Menurut aktivis cum pemikir sosialis Italia ini, masyarakat sipil adalah kelompok masyarakat yang menyediakan ‘gelanggang’ di mana gagasan-gagasan hegemonik tentang tatanan ekonomi dan sosial “dipertarungkan, dibentuk dan disanggah.” Mereka yang datang bisa siapa saja, seperti di warung itu, bisa pegawai negeri atau pensiunan, bisa pedagang atau anggota dewan. Tetapi di sana mereka lebur membicarakan urusan bersama.

Seperti di kedai-kedai Eropa beberapa abad lalu, Sang Pria Tua juga bebas berbicara mengkritik apa saja. Lewat narasinya yang haru, ia memang sedang mengenang masa lalu pelabuhan yang dulunya terdengar sungguh bergairah. Bahwa perahu begitu banyak yang berlabuh, buruh begitu senang karena bongkaran barang sangat banyak, pedagang dan pegawai begitu sibuk lalu-lalang. Pelabuhan begitu ramai dan menguntungkan bagi kota. Namun itu hanya pembuka bagi semburan kritiknya.

Ia segera menambahkan kesaksian, atau ungkapan kekesalan, tentang masa kini: sekarang perahu begitu sedikit yang berlabuh, buruh kekurangan barang untuk diangkut, banyak orang meninggalkan kota mencari tempat yang lebih menguntungkan. Dan melihat semua itu, “Pemerintahnya tidur!”

Seorang pegawai muda berpakaian seragam agaknya kurang siap dengan serangan itu, dan merasa perlu membela diri. Ia menyodorkan kabar bahwa pelabuhan itu masih disinggahi kapal dan bahwa masih banyak pegawai yang mengurusnya, dan seterusnya. Bicaranya mirip brosur wisata atau potensi kabupaten. Membosankan sekaligus mencurigakan. Segera Sang Pria Tua menyanggah, ia bisa membandingkan keadaan sekarang dengan masa lalu yang tak pernah dirasakan Sang Pegawai Muda. Tetua lain pun menimpali serupa. Gagasan umum bahwa pemerintah selalu berniat baik untuk “membangun daerah”, agaknya gagal dipertahankan di gelanggang ini.

* * *

Pelabuhan Donggala
Hanya beberapa perahu dan satu kapal kecil berlabuh di Pelabuhan Donggala. © Beta Pettawaranie
Gudang Donggala
Satu dari 4 gudang besar Koperasi Kopra yang semuanya sudah rusak dan terlantar di Pelabuhan Donggala. © Beta Pettawaranie

Orang-orang yang datang ke warung ini juga mengingatkan saya kepada frasa ‘Ruang Publik’ Jurgen Habermas, yang menurutnya baru muncul di Eropa para akhir abad ke tujuhbelas atau awal abad ke delapanbelas dari kedai-kedai kopi atau salon. Di sana orang-orang dari kelas berbeda bisa datang, dengan gaya santai tanpa perlu mengikuti pakem aristokrasi, dapat membicarakan apa saja yang dianggap menarik untuk diperbincangkan. Gaya bicara mereka pun bisa seenaknya, dari yang sastrawi hingga sarkastis.

Di sana mereka bisa saling serang tanpa merasa terlalu tertekan oleh identitas atau posisi lawan bicara. Seperti ketika Sang Pria Tua masih sibuk menyerang lawan bicaranya, tiba-tiba Sang Peracik Kopi, pemilik warung kopi, masuk gelanggang. Ia memotong dan mengingatkan Sang Pria Tua, “Kau terlalu berlebihan!” lalu menyebutkan data lengkap dengan angka-angka, yang membantah jumlah berlebihan yang disebutkan Sang Pria Tua. Ia mengakui bahwa argumen Sang Pria Tua tidak keliru, namun angkanya berlebihan. Sang Pria Tua terdiam, hanya dagunya yang mengangguk perlahan.

Sang Peracik Kopi, seorang pria jangkung, mungkin adalah generasi ke sekian peracik kopi di warung itu. Sementara Sang Pria Tua adalah generasi ke sekian syahabandar dan pedagang jarak jauh. Trah mereka tak pernah berada jauh dari pelabuhan yang sedang mereka perbincangkan, meski dengan posisi sosial dan fungsu yang berbeda. Dengan demikian, Sang Peracik Kopi, tentu tak kalah koleksi data dan analisa dari siapa pun di ruangan itu. Siapa pun tahu, barangkali sejak bisa memahami bahasa, ia sudah menyerap banyak pengetahuan dari para pelanggannya.

Sebagaimana Masyarakat Sipil di Ruang Publik, Sang Pria Tua bukan hanya menyerang pegawai pelabuhan yang duduk di kursi seberangnya, ia berbicara pada semua pengunjung, termasuk kami. Ruangan itu mungkin enam kali lima meter, dengan seluruh empatbelas kursi melingkar dan terisi penuh, dengan sendirinya, semua perhatian tertuju pada siapa saja yang angkat bicara. Dan agaknya, di sini orang bebas berbicara apa saja.

Melanjutkan kritiknya tentang nasib buruk pelabuhan kesayangannya, ia kemudian melengkapi ceritanya dengan kisah sedih tentang perusahaan kopra yang sudah mati dan hanya meninggalkan gudang tua (mungkin ini salah satu buah kegagalan kebijakan nasional yang membunuh banyak industri nasional?). Lalu kritiknya melebar ke mana-mana, salah satunya, tentang praktik kecurangan pelaku usaha dalam melaporkan ‘manifest’, untuk mengurangi pembayaran pajak.

Ia menyimpulkan, “Setan sudah minta pensiun kepada Tuhan. Waktu ditanya Tuhan, setan menyawab, ‘sebab manusia sudah menjadi setan semua.’” Yang disambut tawa semua pemirsanya.

Akhirnya, tentu saja, serangannya merambat ke dunia politik, mengkritik partai politik dan wakilnya di parlemen kota yang hanya memikirkan diri sendiri. Lalu, bersama yang lain, menimbang-nimbang anak muda mana yang bisa memuaskan bila didudukkan ke kursi parlemen.

Saat seorang anak muda iseng bertanya mengapa bukan Sang Pria Tua saja yang naik jadi ‘anggota dewan’, dengan cepat ia membalas: “Tahu diri dong, saya ini sudah usia enampuluhan.”

* * *

Melihat ritus itu saya bertanya-tanya. Nyaris mustahil ia ingin menjaga agar kopi pelanggannya tetap hangat. Donggala terlalu dekat dengan garis khatulistiwa dan musim kemarau tahun ini sedang berada di puncaknya. Warung itu juga begitu kering dan bersih sehingga sulit membayangkan lalat akan memilih masuk ke sana untuk berenang.

Apa mungkin ia tengah berusaha menghindarkan kopi para pelanggannya dari terpaan debu? Mungkinkah ini kebiasaan yang melekat sejak pelabuhan kota itu masih sangat sibuk dengan kendaraan yang lalu-lalang sepanjang hari? Saya hanya menduga, setelah mendengar potongan kisah sejarah yang dituturkan Sang Pria Tua.

Saya tak sempat bertanya, terpukau oleh lakon dan kopi yang memang enak.

Artikel ini pertamakali dipublikasikan di http://www.insist.or.id

Nurhady Siromorok

A researcher, writer and translator. Writes non-fictions. Published, "Laskar Pemimpi: Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi Indonesia" (2008); "Membangun Kesadaran Kritis" (2010); "Merdesa" (2010), and several contributions in anthologies as well as translation.