Demi Semangkuk Camcao Bu Saeni

Foto 3 Seporsi Dawet Bu Saeni
Seporsi Dawet Bu Saeni | © Retno Septyorini

Ada satu perempatan di salah satu sudut kota Jogja, di Kabupaten Bantul tepatnya, yang menyajikan berbagai kuliner jaman dulu yang tak lekang dimakan waktu. Perempatan Dongkelan namanya. Kalau dari arah Jogja, perempatan ini berada di sisi utara lampu merah kedua di Jalan Bantul. Sudah sejak lama perempatan yang merupakan pertemuan antara Jalan Bantul dan Ringroad Selatan ini dikenal sebagai salah satu sentra kuliner kenamaan di Bantul, salah satu kabupaten di sisi selatan Jogja yang dikenal dengan keindahan Parangtritisnya.

Berbagai stan kuliner beroperasi secara bergantian sejak pagi hingga malam hari, mulai dari kedai yang menjajakan aneka jenang tempo dulu, sate, lumpia, hingga minuman-minuman penggugah selera seperti beragam jenis jamu, dawet hingga camcao. Konon camcao di sini merupakan salah satu minuman legendaris di Bantul. Namanya Camcao Bu Saeni. Meski demikian camcao yang dijajakan di sini lebih dikenal dengan sebutan Camcao Ndongkelan alias camcao yang dijual di kawasan Dongkelan.

Selain menggunakan ojek, Camcao Bu Saeni dapat diakses menggunakan Bus Jalur Bantul. Kalau dari Jogja, Anda dapat menggunakan Bus Kota Jalur 2 lalu turun di Pojok Beteng Wetan yang penyebutannya kerap disingkat menjadi Jokteng Wetan. Selanjutnya tinggal nyebrang saja lalu naik Bus Jalur Bantul. Jangan lupa untuk ngode Pak Kondektur untuk turun di Apotek Nova, sebuah apotek yang letaknya persis di sisi utara perempatan Dongkelan. Dari jalan ini Anda tinggal nyebrang saja. Warung Bu Saeni diapit dua warung kecil yang menjajakan bunga.

Kalau sampai di lokasi, jangan harap akan terpampang papan nama Camcao Bu Saeni. Pasalnya nama Saeni tak lain merupakan nama penjual yang melanjutkan usaha sang ibu sejak puluhan tahun lalu. Camcao Bu Saeni merupakan satu-satunya camcao yang ada di kawasan ini. Jadi kalau sudah sampai Dongkelan enggak mungkin salah tempat.

Foto 1 Lapak Sederhana Dawet Bu Saeni
Lapak Sederhana Dawet Bu Saeni | © Retno Septyorini
Foto 2 Persediaan Camcao Bu Saeni
Persediaan Camcao Bu Saeni | © Retno Septyorini

Seingat saya, warung camcao ini sudah ada sejak akhir 90-an. Saat ditanya sejak kapan berjualan, Bu Saeni pun menjawab sejak umur 14 tahun. Bu Saeni merupakan generasi kedua. Ia meneruskan jualan camcao yang dulu dipegang oleh sang ibu.

“Berarti sudah ada dari 25 tahun ya, Bu?” tanya saya kemudian.

“Lebih, Mbak”.

Capet-capet terdengar tahun 70 sekian meluncur dari ibu berpawakan besar ini”.

Menurut hemat saya, camcao yang dijual di Perempatan Dongkelan memang oke. Gimana enggak coba, di tengah gempuran minuman cepat saji yang begitu populer saat ini, nyatanya Camcao Bu Saeni tak kurang akal untuk memikat minat calon pembeli. Berkali-kali sudah saya dibuat kecelik lantaran tak kebagian saat ingin membawa pulang camcao enak dari sini. Meski hanya beratapkan sebuah payung warna-warni mirip tempat santai yang kerap tersedia di pantai, namun camcao Bu Saeni mampu menawarkan daya pikat tersendiri.

Tercatat ada beberapa keunggulan yang ditawarkan minuman legendaris ini. Pertama tentu terkait soal rasanya. Karena dibuat secara tradisional, citarasa camcao yang ditawarkan acapkali berbeda. Jum’at kemarin misalnya. Sesampainya di depan warung, ternyata siang itu saya tidak perlu mengantri. Hanya terlihat beberapa pesanan camcao ukuran jumbo yang dibungkus rapi di atas meja. Mungkin dalam satu plastik berisi 2 porsi camcao yang minta dijadikan satu.

Di sini tersedia beberapa alternatif penyajian yang dapat dipilih pembeli. Pertama, pembeli dapat menikmati camcao lengkap. Camcao lengkap akan berisi satu sendok besar camcao yang ditambah dengan larutan gula jawa dan segarnya santan yang telah dicampur dengan es batu. Selain itu pembeli juga dapat meminta camcao yang ditambah larutan gula atau hanya camcao saja. Karena lebih suka pakai es sendiri, biasanya saya memesan camcao gula. Untuk mendapatkan efek dingin tinggal dimasukkan sebentar di lemari es.

Selain dapat dibawa pulang, Bu Saeni juga menyediakan kursi plastik untuk pelanggan yang ingin ngiras alias minum di tempat. Namun berkali-kali datang ke sini, jarang sekali saya melihat pembeli yang ngiras di sini. Apa mungkin karena gelas-gelas yang terpajang di warung tergolong mungil jika dibandingkan dengan porsi yang dibuat tatkala minuman ini dipesan untuk dibawa pulang? Entahlah. Kalau saya pribadi memang lebih suka menikmati camcao bersama orang rumah. Selain ada temannya, minum di rumah terasa lebih nyaman, juga tanpa debu dan asap kendaraan yang berterbangan di sepanjang jalan. Jadilah setiap beli, pasti dibawa pulang.

Kalau dibawa pulang, satu porsi Camcao Bu Saeni itu setara dengan 3 gelas kecil berukuran sekitar 200 mili. Jika Anda mampu menghabiskan satu plastik besar camcao dari sini, ada kemungkinan Anda dapat menggusur rasa lapar selama beberapa saat. Satu yang terpenting, saya tidak pernah batuk usai menikmati camcao dari kedai sederhana ini.

Sebagai orang yang dikaruniai tenggorokan yang super sensitif dengan pemanis buatan, senang rasanya mendapati warung yang menjual minuman dengan gula murni. Apalagi porsi besar camcao di tempat ini hanya dibanderol dengan harga selembar uang bergambar Mohammad Hoesni Thamrin ditambah lima keping uang bergambar Herman Johanes alias 2,5K saja. Jadi selain aman di kantong, aman pula di tenggorokan saya.

Sesampainya di rumah, seporsi camcao tadi langsung memenuhi mangkok berdesain ayam jago yang kerap digunakan untuk menyajikan mie ayam kampung. Setelah dicicip sesendok dua sendok, ternyata citarasa camcao terbilang unik. Paduan segarnya camcao dan manisnya kuah gula jawa lengkap dengan sekelebat ada rasa asam yang begitu ringan membuat citarasa minuman lawas ini begitu pas di lidah.

Dalam sekejap, rasa segar yang terasa dari indera pencecap mampu mengusir penat yang bergelayut sekian lama di kepala. Jadi selain rasanya yang bikin adem, harganya juga bikin ayem. Jika kualitasnya tetap terjaga, saya meyakini bahwasanya Camcao Bu Saeni ini tetap akan eksis hingga nanti-nanti. Jadi kapan nih mau ngejogja, eh ngebantul lagi?

Retno Septyorini

Penyuka Cerita


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405