Dave Mustaine si Cacat Vokal

Untuk membedakan bunyi dan suara, kita bisa melakukan eksperimen sederhana ini: ngeden.

Dengan gigi terkatup dan bibir terbuka, apa yang bisa kita keluarkan dari rongga mulut ketika ngeden? Ya, bukan suara, melainkan bunyi. Sebab saat ngeden, rembesan bunyilah yang sejatinya kita dengar.

Bunyi mencuri-curi kesempatan untuk merembes di antara lidah dan sela-sela gigi. Bunyi beruntung selalu sanggup keluar lewat mulut manusia ketika mereka ngeden. Sedang suara? Suara tak pernah seberuntung itu, ia tak pernah benar-benar bisa lenggang kangkung dari bibir bahkan amandel sekalipun. Ngeden-nya manusia membuat suara hanya tertahan di tenggorokan. Kecekak.

Pada titik tertentu, suara yang tercantol di tenggorokan itu mencoba berontak. Tak bisa keluar mulut sebab barikade amandel, ia mencoba mencari jalan alternatif terdekat: hidung, sela-sela mata, dan telinga. Walau pada akhirnya, suara memang ditakdirkan Tuhan untuk keluar hanya lewat mulut. Maka sementara ngeden masih berlangsung, suara yang tak sanggup keluar itu hanya bisa berputar-putar memenuhi seisi kepala.

Di fase ngeden yang lebih ekstrem kemudian, kepala sering tak mampu menampung kelebihan bobot suara, sehingga kepala jebol, lalu suara yang memenuhi seisi kepala itu ambrol ke bawah ke sub-sub pencernaan manusia, keluar berbentuk bunyi ‘plus-plus’, bunyi yang bukan hanya bunyi; bunyi dalam bentuknya yang baru dan berlebih.

Dan sejauh ini, saya percaya, tak diperlukan disiplin ilmu ketat untuk berteori tentang segala hal yang berbasis pada ngeden. Sesukanya saja. Yang ngeden kita, lalu yang mengambil kesimpulan adalah kita sendiri. Inilah yang namanya hikmah.

Pada pembahasan lain, seringkali ngeden diasosiasikan dengan proses kehamilan, buang air, dan kegiatan bekerja keras lain mulai yang biasa sampai yang menyakitkan. Jarang kita temui ngeden yang menyenangkan. Tapi, adakah ngeden yang mengasyikkan semacam itu? Ada, cobalah sing along lagu-lagu Megadeth; In My Darkest Hour, Tornado Of Souls, Sweating Bullets, sampai yang berhasil membawa Grammy ke pangkuan band metal ini, Dystopia. Inilah beberapa prasarana ngeden yang menyenangkan. Mari bicara serius tentang ini mulai dari sini.

Megadeth
Megadeth | Sumber: alphacoders.com

Membahas Megadeth sendiri, tabu rasanya jika tak serius mengetengahkan ihwal khusus Dave Mustaine. Ia adalah sejarah, awal dari segala cerita. Dan sebagian kita mungkin tahu, Mustaine sang vokalis, tak lepas dari teknik vokalnya yang penuh anomali. Benar bahwa nuansa vokal yang keluar dari mulut Dave Mustaine ialah berupa-rupa. Bisa a, i, u, e, atau o dengan beragam ekspresi —geram, story telling, sedih, tawa, hingga yang semangat. Tapi, karakter vokal Mustaine di hampir semua lagu Megadeth selalu sama: ngeden.

Dalam teori, ekses dari ngeden ini sering disebut nasal, atau resonansi hidung. Sedang kata teori pula, bernyanyi idealnya memakai resonansi mulut, bukan hidung. Tapi sepertinya, serupa yang saya lakukan sekarang, tak perlu dikenal sebagai ahli vokal untuk peka bahwa ngeden dalam bernyanyi akan menghasilkan suara buruk dan tak jelas. Awam pun punya kepekaan itu. Apalagi, ngeden dan bernyanyi adalah kegiatan yang sangat dekat dengan manusia mana pun.

Dave Mustaine, jadi, bukanlah vokalis yang baik. Ini fakta teknis. Ia menabrak segala teori vokal dan bernyanyi dengan teorinya sendiri. Suaranya ngeden berlebihan, memaksa, dan cempreng. Amit-amit jabang bayi di mata saya dan barangkali juga Agnez Mo. Jujur saja, butuh waktu lama bagi saya untuk terbiasa dengan musik Megadeth sebab hal ini.

Meski begitu di fakta yang lain, jarang ada yang bisa membayangkan Megadeth tanpa warna vokal Dave Mustaine. Banyak orang mencintainya. Scott Ian, gitaris Anthrax bahkan sempat memaksa Jagad trash metal untuk sepakat menjuluki Mustaine sebagai ‘The Godfather of Trash Metal’. Jagad Metal tentu mengenal baik siapa Scott Ian yang memang punya kekuatan memaksa sebesar itu.

Maka, agaknya ada pertanyaan yang harus dimunculkan di sini: Mengapa vokal Dave Mustaine jarang secara tegas disebut sebagai ‘cacat vokal’ –alih-alih malah ‘keunikan’— itu membuatnya berhak dicintai dan didengar banyak orang? Tak ada jawaban pasti dari tempat saya duduk ini.

Dave Mustanie
Dave Mustanie | Sumber: musicfeeds.com.au

Tapi mungkin, bahasa lirik lah yang membuat segala cacat Dave Mustaine nyaris dilupakan orang. Bahkan dihilangkan. Sekuat itukah lirik Megadeth? Didukung cara penyampaian pesan yang kuat dan penulisan lagu yang sempurna, lirik memang poin unggul Megadeth. Dalam kasus Dave Mustaine, dengan hanya menguasai sedikit teknik vokal saja —cacat lagi, orang sekelasnya tentu mudah mengurutkan pikiran dan pesan yang ingin disampaikannya secara jelas.

Namun terutama, berkat bahasa lirik Megadeth itulah barangkali yang membuat pikiran dan pesan mereka itu dianggap berharga, diperhatikan, dan patut didengar. Jenis bahasa yang digunakan Megadeth adalah bahasa yang kuat. Bukan berarti menciptakan lirik yang baik, Megadeth menggunakan kata-kata serba hebat dalam gaya serba kembung. Lirik Megadeth dapat dikatakan kuat karena bahasanya dibangun dari pikiran yang urut, dan disusun dalam bentuk penulisan lagu yang kuat.

Itulah barangkali yang menjadikan Dave Mustaine dan Megadeth pada poin terpentingnya bukan melulu teknik vokal. Sama kiranya seperti puisi yang pada tempat pertama bukanlah keterampilan teknis pembacaan, misalnya.

Keduanya mungkin serupa, lirik dan puisi. Keduanya membutuhkan penghayatan, penguasaan dan cerapan pengalaman, hingga dari itu ide, gagasan, pesan dapat menjelma dalam bentuknya yang baru; puisi menjelma keindahan, lirik menjadi kekuatan, kekuatan yang dalam bahasa Mustaine, “Kekuatan yang membuka pikiran orang, mengajari mereka tentang hal-hal, dan membiarkan kekuatan itu berkembang menjadi banyak hal lain”.

Sama juga dengan puisi yang bukan melulu soal silat kata-kata indah yang berliku-liku, lirik bukan pula selalu soal kata-kata yang unggul, heroik, menghentak dan hebat —apalagi di genre metal, Megadeth sering dituntut untuk serba hebat dan gagah dari ujung rambut ke kaki. Puisi menjadi puisi sebab ia sendiri adalah keindahan yang digugah dan dibangun, kemudian beranak rupa kata-kata. Lirik menjadi kuat karena ia disusun bersama penulisan lagu penuh musikalitas, lalu kata-kata merupakan anak-anak maknanya yang lahir dari rahim lirik itu.

Dalam Megadeth, lirik mereka bukan kuat karena kata-kata dan diksi yang dipilih, tetapi lebih karena lirik mereka ditempa dalam penghayatan, kecerdasan, citarasa, intensitas keterlibatan, pengetahuan alur pesan, yang kemudian diisi dengan; clean dan distorsi di waktu yang pas, modulasi yang tepat, pesona melodi, keserasian unisound, nafas gitar, serta hentakan-hentakan yang melahirkan keindahan musikal.

Dan dengan sendirinya, seperti yang sekarang terjadi, kekuatan lirik Megadeth menembus demarkasi ruang dan waktu sebab itu. Dalam ruang, lirik yang diusung Megadeth melingkungi kepentingan yang mencakup banyak orang. Dalam waktu, liriknya menjadi penting ketika persoalan yang dikemukakan terjadi dalam waktu yang sangat panjang. (lagu kebangsaan mereka, Holy Wars, salah satunya, sebuah kegelisahan akan kesia-siaan perang yang juga menjadi kegelisahan manusia di belahan bumi manapun, dan belum selesai sampai sekarang).

Kalau sudah begini, penikmat musik metal mana yang punya waktu luang menghujat warna vokal Dave Mustaine, dan tidak sing along saat mendengar suaranya?

Ananta Damarjati

Alumni Ponpes Kedunglo. Redaksi di Solusi Publishing.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com