Dari Petani Penggarap ke Pemilik Lahan, Cerita Petani Kopi di Dusun Tibu Dalem, Bali

Setidaknya 1.148 orang meninggal dunia akibat letusan Gunung Agung pada 17 Maret 1963. Ini berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali. Lebih 2.000 orang luka-luka, dan yang mengungsi, jauh lebih banyak lagi. Gunung Agung terletak di Kabupaten Karangasem, Bali. Mereka yang mengungsi, berbondong-bondong meninggalkan Karangasem ke kabupaten-kabupaten lain di Bali, atau ke Nusa Tenggara Barat, beberapa lainnya, memilih menjadi transmigran.

Bersama Badruddin dalam rangka Ekspedisi Munduk saya mengunjungi salah satu lokasi yang hingga saat ini dihuni para pengungsi letusan Gunung Agung. Sudah tiga generasi mereka menempati lokasi baru, mulai dari kakek hingga cucu. Lokasi tersebut berada di Kabupaten Tabanan, tepatnya di Tempek Nyaring Repet, Banjar Tibu Dalem, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali.

Tidak mudah mencari lokasi tersebut. Terletak di perbatasan Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Buleleng, Tempek Nyaring Repet, Dusun Tibu Dalem dikelilingi perbukitan berhawa sejuk. Di ujung jalan beraspal. pintu masuk pusat dusun ditandai dengan perkebunan kopi yang satu hamparan dengan pohon-pohon cengkeh. Jalan berubah dari aspal rusak ke beton dalam dua lajur. Tak panjang, hanya sekira satu kilometer saja. Sisanya, jalan-jalan masih tanah yang berdebu di musim kemarau dan becek saat musim hujan.

Dari 70 Kepala Keluarga yang mendiami Tempek Nyaring Repet, hanya dua KK saja yang bukan berasal dari Karangasem. Saya dan Badruddin tiba saat hari memasuki senja. Para perempuan pemetik kopi berkelompok meninggalkan kebun usai memanen kopi. Di kios yang berada di ujung kampung, beberapa orang sibuk menimbang buah kopi yang baru dipanen. Transaksi jual beli terjadi. Per kilogram buah kopi panen dihargai Rp5.000.

Perempuan pemetik kopi, awalnya mereka hanya menggarap lahan orang, kini mereka mempunyai lahan sendiri.
Perempuan pemetik kopi, awalnya mereka hanya menggarap lahan orang, kini mereka mempunyai lahan sendiri. | © Fawaz Al Batawy

Kedatangan awal mereka ke Dusun Tibu Dalem berstatus sebagai pengungsi, mereka tak memiliki lahan untuk digarap. Mereka tinggal di lahan-lahan milik penduduk lokal dan dipekerjakan untuk menggarap lahan tersebut. Lahan-lahan ditanami pohon kopi robusta dan cengkeh zanzibar. Oleh pemilik lahan mereka diizinkan membangun rumah sederhana di sekitar lahan.

Nengah Sugiana, 52 tahun, ketua Kelompok Tani Batur Amerta bercerita, “seluruh warga di Tempek Nyaring Repet adalah petani penggarap. Paling sedikit mereka menggarap satu hektar lahan yang ditanami kopi dan cengkeh. Lahan yang mereka garap dimiliki oleh warga Desa Banyuatis, Buleleng. Hasil panen kopi dan cengkeh di satu lahan yang mereka garap, dibagi dua, satu bagian untuk pemilik lahan, satu bagian lagi untuk penggarap”.

Uang hasil menggarap, sebagian digunakan untuk keperluan sehari-hari, sisanya ditabung untuk membeli lahan yang juga ditanami kopi dan cengkeh. Dari 70 KK yang terdata, yang dahulu seluruhnya petani penggarap, kini semuanya sudah memiliki lahan sendiri selain lahan milik orang lain yang mereka rawat. Paling sedikit punya setengah hektar. Yang paling banyak ada yang sudah sampai memiliki lima hektar lahan.

Pengolahan pasca panen kopi dilakukan secara tradisional.
Pengolahan pasca panen kopi dilakukan secara tradisional. | © Fawaz Al Batawy
Hasil panen kopi tahun ini menurun sangat drastis.
Hasil panen kopi tahun ini menurun sangat drastis. | © Fawaz Al Batawy

Musim panen tahun ini adalah musim prihatin di Tempek Nyaring Repet. Cengkeh yang semestinya sudah berbunga dan siap dipanen, tidak berbunga sama sekali. Buah kopi yang tumbuh bergerombol di batang-batang kopi menurun drastis dari musim panen sebelumnya. Jika tahun lalu satu hektar kebun kopi mampu menghasilkan 80 kuintal buah kopi, tahun ini maksimal 14 kuintal saja. Menurut beberapa petani yang kami temui, cuaca yang tidak menentu menjadi penyebab panen tahun ini menurun drastis.

Di Tempek Nyaring Repet, budidaya dan perawatan kopi dan cengkeh menggunakan pupuk organik. Bukan karena alasan ramah lingkungan, penggunaan pupuk organik dipilih karena biaya yang dikeluarkan lebih murah dibanding membeli pupuk kimia. Mereka menggunakan kulit buah kopi untuk memupuk pohon-pohon mereka. Kebiasaan ini akhirnya terus menerus diberlakukan dan menjadi kebijakan tiap kali melakukan penyuluhan kepada para petani anggota kelompok tani.

Menurunnya hasil panen tahun ini tidak membuat para petani di Tempek Nyaring Repet mengeluh berlebihan. Mereka kecewa, namun mereka menyikapi ini masih dalam tahap wajar. “Ini mungkin teguran dari Dewa-Dewa kami, supaya kami tidak sombong, supaya kami bekerja lebih keras lagi, dan supaya kami mengambil dan memberi secara seimbang”, ujar Komang Wawan (26 tahun, petani kopi dan cengkeh) menyikapi penurunan hasil panen tahun ini.

Para petani di Tempek Nyaring Repet, Banjar Tibu Dalem, Bali, adalah contoh nyata, bagaimana bertahan hidup dengan baik. Mereka datang karena bencana menimpa kampung halaman, memulai bekerja sebagai petani penggarap, dan kini sudah memiliki lahan sendiri. Mereka tetap tenang menghadapi penurunan drastis hasil panen tahun ini, tidak berlebihan, tidak banyak mengeluh, dan menyarikan banyak pelajaran dari musibah yang sedang mereka hadapi.

Ekspedisi Kopi Miko

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba