Dari Minangkabau ke Yogyakarta

Ledre Café © Danu Saputra

Ledre Cafe mengingatkan saya akan film-film koboi. Namun yang membedakan Ledre dengan kedai dalam film-film koboi, kedai ini tidak menyediakan minuman keras tapi menghadirkan kopi sebagai salah satu menu andalannya. Masyarakat kita memang lebih mengenal kopi sebagai tali perekat jejaring sosial masyarakat daripada bir.

Ornamen kayu yang ditata rapi menyambut kedatangan saya. Begitu masuk, ada sofa-sofa berwarna merah dan meja kayu tersedia. Para pengunjung saya lihat sedang menikmati hidangan. Beberapa di antaranya sedang memainkan komputer jinjing dan masuk ke dunia maya. Di bagian luarnya terdapat meja-meja dan kursi-kursi kayu, di dindingnya ada peta kopi Indonesia dari ujung barat sampai timur, dari Aceh sampai Papua.

Ledre Cafe
Peta Kopi Indonesia © Danu Saputra

Saya tertarik pada dapur yang dibuat serupa bar dalam film-film koboi. Ada tujuh kursi kayu besar dengan sandaran namun nyaman tersedia. Di dinding bar dan tiang penyangga pun dilapisi kayu-kayu persegi panjang yang ditata rapi. Jika duduk di sini pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan para karyawan Ledre sekaligus bisa menyaksikan atraksi pembuatan kopi.

Saya menyebutnya atraksi. Tak salah memang. Penyajian kopi di sini tidak sama dengan coffee shop kebanyakan. Ledre tidak menggunakan mesin otomatis pembuat espresso. Di sini alat pembuat espresso menggunakan mesin manual. Jadi dibutuhkan keterampilan khusus untuk menghasilkan ekstrak kopi dengan kualitas yang prima. Saya jamin tidak semua orang bisa. Para barista yang terbiasa dengan mesin modern sekalipun akan kesulitan menghasilkan espresso dengan kualitas baik dengan mesin manual.

* * *

Aziz Setyawiyaja memberikan sapaan dengan senyum. Dia adalah salah satu pengelola Ledre. Sebelumnya saya telah bertemu dengannya di Omah Kopi, Omah S’dulur. Tak lama ini ia baru saja mendirikan kedai kopi, saya dipersilakan singgah di Jalan Pandega Marta 409 Pogungrejo, Sleman, Yogyakarta, pada kesempatan bertemu sebelumnya.
Ledre Cafe
Mesin espresso manual. © Danu Saputra

Saya duduk di salah satu kursi yang tersedia di meja bar. Ia baru saja membuat kopi espresso dengan mesin manualnya. Mahasiswa Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM (Universitas Gadjah Mada) ini membuka usaha dengan rekanannya Oki Prayuda, modal dan manajemen usaha kedai kopi ini mereka lakukan bersama. “Kalau modal utang keluarga dengan jaminan kepercayaan,” katanya, ia melanjutkan “Namanya pinjam ya harus kembalikan.”

Oki, juga sedang berada di kedai. Lelaki ini menggunakan kacamata dan topi yang kesannya asal pakai, sebagian rambut depannya bisa terlihat. Lekaki ini mirip dengan Uya Kuya. “Hati-hati dihipnotis,” karyawan kedai memberi peringatan. Tapi para pengunjung kedai ini tak perlu khawatir, karena yang membuat mirip dengan Uya Kuya hanyalah wajah, cara berpenampilan, dan kalau boleh saya jujur maka perlu ditambah perutnya. Ia sama sekali tak punya kemampuan menghipnotis seperti Uya Kuya.

Dua orang ini pun membuat pembagian tugas. Oki mendapat tugas untuk mengatur perkara marketing sedangkan Aziz pada SDM dan kualitas produk. Mereka dalam menjalankan kedai yang mulai buka jam 6 hingga jam 00.00 ini masih dibantu oleh tiga orang lain. Rere, Trio dan Asna, namun saat saya datang hanya ada Rere dan Asna. Trio yang biasa menyajikan kopi di sini sedang tak masuk kerja.

* * *

Tak lama setelah kedatangannya saya, seorang lelaki berkaos merah yang di depannya bertuliskan ‘I Love SG’ datang. Lelaki itu bernama Wahyu, salah seorang pelanggan setia sekaligus kawan dari Oki dan Aziz.

Ia lapar namun ingin makan makanan yang tidak bikin kenyang. Maklumlah, di sore hari tadi sudah berolahraga dengan berlari-lari bersama Oki. Bedanya Oki hanya berjalan-jalan saja, Wahyu bercerita. Adu debat pun terjadi. Oki berseloroh jika jalan lebih sehat daripada berlari, “Coba deh kalau diperlombaan adanya cuma jalan sehat, tidak ada lari sehat.”

Asna yang bertugas menjaga kasir memberikan referensi menu, kentang. Wahyu setuju dengan pilihan yang ditawarkan. Ia memesan potato igen dan minum lemon tea.

Seseorang di kursi di duduk didekat bar mengaku sedang kehabisan rokok. Karena di Ledre tidak tersedia rokok, maka ia ijin untuk mencari rokok. Wahyu dan Oki mensarankannya untuk membeli di warung yang letaknya tak jauh dari kedai ini berada. Tak lama kemudian ia datang lagi. “Sudah dapat rokoknya, eh bukan dapat sih tapi beli,” katanya. Asna menyahut, “Kalau rokok dapat bisa menyebabkan tit.” Mahasiswi Manajemen UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) ini tidak meneruskan apa yang hendak dikatakan. Lelaki yang berada di dekat meja bar jadi bertanya-tanya. Apa yang dimaksudkan oleh Asna. Begitu masing-masing sudah mulai bisa menebak-nebak. Gelak tawa pun pecah.

* * *

Mengobrol ke sana-kemari membuat saya hampir lupa memesan minuman. Karyawan yang ada pun tidak memberikan daftar menu yang bisa dipesan. Jika saya hanya numpang duduk di kedai ini, tentu ini tidak baik bagi berlangsungnya usaha yang dirintis oleh Aziz dan Oki.

Kedai ini memang tidak menyediakan buku menu, adanya papan menu yang terletak di dinding atas bar. Menu yang ada dibagi emnjadi tiga bagian, aneka kopi, minuman segar, dan makanan yang bisa dipesan di sebelah kanan. Saya melihat-lihat menu kopi yang disajikan. Single origin dari berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia tersedia, ada pula kopi dari Maroko. Ada satu kopi yang membuat saya tertarik, karena saya belum pernah mencobanya. Kopi Minangkabau.

Aziz segera membuatnya. Kopi yang digunakan dalam membuat menu ini adalah kopi Sidikalang, namun disajikan dengan cara penyajian Taloa. Aziz pun mulai beraksi, dari tempat duduk saya dengan leluasa saya bisa menyaksikannya.

Ledre Cafe
Aziz Setyawiyaja meracik kopi Taloa.
Ledre Cafe
Kopi Taloa siap disruput. © Danu Saputra

Ia memulai dengan mendidihkan air panas melalui kompor gas yang letaknya tak jauh. Setelahnya ia menyiapkan mesin bermerek Presso manual sebelum digunakan untuk membuat espresso. Ia memanaskan mesinnya dengan air hangat terlebih dahulu dan mengeluarkan airnya. Selain untuk membersihkan juga supaya tidak terkejut bila nanti dituangkan air yang bersuhu tinggi.

Kemudian ia mengambil wadah yang terbuat dari batok kelapa. Kopi Minangkabau adalah kopi yang bercampur dengan kuning telur ayam kampung. Kuning telur yang sudah ia pisahkan itu kemudian ditaruh diwadah batok kelapa yang bercampur gula aren. Ia mengocoknya dengan kayu manis sampai berbuih. Setelah berbuih kemudian ia campur dengan kopi yang dikeluarkan dari mesin Presso.

Kopi pun ada dihadapan saya. Kopi minangkabau disajikan dengan dibarengi dengan wadah yang terdapat butiran biji kopi dan jeruk nipis. “Jeruk nipis itu digunakan bila kuning telur dirasa terlalu amis. Meskipun aroma kopi dan kayu manis sebenarnya mampu menekan aroma kuning telur.

Saya pun meminum Kopi Minangkabau. Rasa kopi terasa berpadu dengan aroma kayu manis. Wahyu pun mulai bercanda, karena di kopi yang saya pesan ada telur. Ini identik dengan obat kuat. “Wah, langsung strong nih,” katanya sambil mengangkat bagian lengan kanannya. Gelak tawa lagi-lagi terdengar di Ledre.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.

  • Pinto Anugrah

    sedap 😀
    nama lokal dari Kopi Minangkabau itu “Kopi Talua”, jadi “taragak” (kangen) saya, hohoho

  • Nody Arizona

    Hihihi.. Jaraknya jauh kak Pinto, sampai Jogja jadinya “Kopi Taloa”. Selain ‘u’ jadi ‘o’, adakah perbedaan makna menurut bahasa Minang kak?