Dari Lapau ke Lapau: Athena di Ranah Minang

Ambo yo miskin, Nak. Dunsanak ambo sukses sadonyo, ambo se sorang yang indak. Apak ambo karajo di Semen Padang. Bininyo duo.

Pria berkulit gelap dengan codet di pipi itu akhirnya menceritakan tentang dirinya. Dia bilang di keluarganya hanya dia sendiri yang miskin, berkebalikan dengan semua saudaranya. Bapaknya bahkan orang yang cukup punya posisi di Semen Padang, sampai-sampai mampu beristri dua. Ia sedikit tertawa saat bicara bagian itu. Antara geli dan bangga, tampaknya.

Padahal, di awal perbincangan mukanya selalu ditekuk. Ia mengeluhkan Ketua RT yang dianggapnya tak adil dalam menentukan penerima berbagai macam bantuan pemerintah. Dia berpanjang-panjang bercerita tentang distribusi bantuan pemerintah yang dianggapnya hanya menguntungkan orang-orang terdekat Ketua RT. Dari mulai bantuan pengganti subsidi bahan bakar minyak sampai beras miskin, dianggapnya tak dibagikan secara adil.

Saat tempo bicaranya melambat, saya biasanya bisa menangkap maksudnya. Tapi seringkali tidak. Bicaranya cepat sekali, jadi aku hanya mengangguk-angguk dan bertanya satu-dua hal sepele. Mulut kami juga kerap mesti bekerja bergantian antara mengobrol, menyesap kopi dan mengunyah kudapan. Di depan, pemandangan juga terlalu menarik untuk dilewatkan.

Kepala kami kerap mendongak ke sana, ke titik di mana lima anak sedang berlomba mencapai puncak batang pinang. Di bawah mereka, anak-anak lain berteriak-teriak sambil menonton, membuat suasana lebih ramai. Aku terkesima bahwa di kota ini, hampir di tiap RW ada kegiatan sejenis. Kata kunci “PRRI” yang ada di kepala sejak berencana datang ke kota ini kemudian tertimpa suara sorak sorai dan wajah-wajah ceria dari anak-anak pada hari itu.

Kopi Ranah Minang
Kopi di lapau, Ranah Minang © Maulida Sri Handayani

Saat mata kembali ke pria tadi, dia sedang menyesap kopinya. Ia meminum kopi hitam lokal, meski si empunya warung juga menyediakan kopi saset. Begitupun lelaki yang baru datang belakangan. Ia memesan kopi hitam pada si Uda empunya warung. Aji, teman saya yang asli Minang bilang, rata-rata lapau atau warung memang menyediakan kopi hasil produksi rumahan. Ia tak paham secara rinci jenis kopinya atau merknya.

“Yang jelas kopinya tidak dicampur jagung,” tandas Aji.

Saya sendiri mengira kopinya jenis robusta. Rasanya agak pahit dan mengundang asam lambung. Tapi itu hanya perkiraan. Selain saya tak terlalu paham dan peka dengan rasa kopi, saya lebih suka memperhatikan orang-orang yang ada di lapau. Tak jarang juga berbincang-bincang dengan mereka. Dari kunjunganku ke tiga kota di Sumatera Barat (Padang, Solok dan Padang Pariaman), saya mengamati orang Minang punya budaya minum kopi yang kuat.

Tanpa harus mengenalnya lebih dulu, pria dengan codet di pipi tadi mau berbicara tentang politik di kampungnya. Ia juga membicarakan hidupnya. Di lapau kecil lain, di kecamatan yang sama, saya juga bertemu ibu-ibu yang sedang rehat dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik roti. Mereka tak segan berbicara dengan orang asing.

Entah kopi dan teh memang berfungsi sebagai pelumas proses sosial, entah kami memulai perbincangan dengan cara yang dianggap benar, entah kombinasi keduanya. Yang jelas, kami selalu bisa berbincang dengan akrab dengan sesama pengunjung lapau. Di Tanah Priangan, tempatku dibesarkan, rasanya jarang kutemui perempuan pedesaan yang berbincang lantang di tempat publik, tentang masalah politik pula.

Setelah beberapa hari di sana, saya mendapati beberapa orang Minang yang bilang bahwa mereka senang nongkrong di warung karena semua informasi didapat dari sini. “Biasanya, orang sini diam di lapau sejak pagi sampai siang. Minum teh talua atau kopi. Siang-siang mereka pulang. Berladang, bagi yang punya ladang.” Demikian kata Pak Yus, sopir yang mengantar kami.

Talua adalah telur dalam bahasa Minang, jadi teh talua artinya teh telur. Teh dicampur dengan telur, susu dan gula. Telurnya bisa telur ayam kampung atau telur bebek. Banyak orang mempercayainya sebagai minuman penambah energi. Haji Zainir salah satunya. Dia merasa hari tanpa dimulai teh talua akan menjadi hari tanpa semangat. Di Padang Pariaman, tiap pagi Zainir ngepos di kedai yang sayangnya saya lupa namanya. Saat itu kami yang memerlukan panduannya ke beberapa tempat, ikut ngopi dulu di kedai itu.

Bade ngaleueut naon, Neng?”

Lelaki pemilik kedai bertanya dalam bahasa Sunda halus. Ia bertanya minuman atau makanan yang hendak saya pesan. Pak Iid, pemilik kedai itu, berasal dari Tasikmalaya. Sejak tadi, mungkin ia mendengar kami mengobrol dan kemudian tahu saya berasal dari Bandung, maka ia pun bertanya dalam bahasa Sunda. Setelah membawakan kopi hitam bergula untukku, Iid duduk-duduk di meja pengunjungnya dan mengobrol bersama mereka.

Begitulah lapau-lapau di Ranah Minang. Pemilik, pelayan, dan pengunjungnya tidak tersekat urusan jual-beli semata. Mereka semua berbaur membicarakan politik, desas-desus di sekitar, masalah ekonomi, dan semua topik lain. Aji bilang, orang Minang memang tumbuh di tiga tempat: surau, rantau, dan lapau. Surau untuk belajar agama, rantau sebagai tempat mencari penghidupan, dan lapau sebagai tempat bersosialisasi dan belajar politik.

Seperti di kedai itu, saat seorang lelaki berbatik merah datang. Ia menyapa dan bertanya kegiatan kami kepada uni yang memandu kami. Lalu terjadilah percakapan berikut.

Iko adiak-adiak ko nio penelitian.”

Kalau lah penelitian bisa apo adiak-adiak ko? Ka dipangakan sudah itu? Adiak-adiak ko masih sakola, alun bisa manga-manga lai. Untuak ka braja se iko baru.”

Saya tentu tak menangkap apalagi memahami percakapan itu secara realtime. Yang jelas terlihat adalah muka manyun teman saya. Di mobil, barulah saya dan Fina bertanya mengapa wajah Aji ditekuk begitu rupa. Ternyata, bapak itu bilang kami ini hanya anak sekolahan. Penelitian hanya untuk belajar, nantinya tak berguna untuk apapun.

Aji merasa, lelaki yang disebutnya calon wakil kepala daerah itu, telah menyepelekan kami. Eh, Fina malah berseru girang mendengarnya. “Sebagai pengacara,” kata Fina, “gue lebih seneng di-underestimate. Biar saja disepelekan, jadi pas di persidangan lawan kita kecele.” Tampaknya Fina berusaha sekali mengusir rasa kesal Aji.

Saya sendiri lebih tertarik dengan fakta bahwa calon kepala daerah mementingkan acara ngopi-ngopi di lapau. Ternyata, memang demikian kebiasaannya. Calon kepala daerah perlu bertandang ke lapau-lapau supaya mereka bisa dikenal publik. Itulah kenapa tadi juga ada orang-orang yang relatif parlente dan pandai bicara di sana. Aji menyebutnya sebagai “penanti recehan politik pilkada”.

Mendengarnya, tiba-tiba saya teringat Athena. Tepatnya, demokrasi Athena 2500 tahun lalu, yang gambarannya tak terlalu baik di mata Platon dan Aristoteles itu. Dan penanti recehan itu mengingatkanku pada sofis—orang-orang pandai bicara namun logikanya bengkok dan moralnya diragukan. Bedanya, di sini tak ada semacam Socrates yang berbincang dengan para pengunjung lapau dan membantu mereka membangun pengetahuan. Atau… jangan-jangan ada?

Maulida Sri Handayani

Perempuan Sunda yang menyukai percakapan. Tinggal di Jakarta.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405