Dari Kubis ke Kopi: Cerita Yusriadi Membangun Usaha Kopi

Yusriadi, petani kopi di Bondowoso
Yusriadi, petani kopi di Bondowoso | © Fawaz

Dahulu, selama masa sekolah di Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo, Yusriadi terbiasa meracik kopi untuk diminum para kiai. Kebiasaan membuat kopi itu, oleh kawan-kawannya sesama murid di pesantren, dianggap mengantarkan Yusriadi berhasil menjadi petani kopi. “Barokah dari membuat kopi selama di pesantren,” katanya, menanggapi keberhasilan menjadi petani kopi.

Saat Tim Ekspedisi Kopi Miko tiba sekira jam 10 malam, pabrik pengolahan biji kopi masih beroperasi. Mengenakan sarung dan jaket hitam, Yusriadi mengawasi 3 orang pekerja yang sedang mengupas kulit buah kopi.

Tinggi badannya sekitar 160 sentimeter, warna kulit sawo matang. Kini ia berusia 36 tahun. Sehari-hari ia bekerja mengelola kebun kopi, mengawasi pabrik pengolahan biji kopi, mengatur pengiriman biji kopi, dan terkadang menyangrai sendiri biji kopi yang akan dikirim kepada pembeli. Selain menjual biji kopi basah dan kering, ia juga menjual biji kopi yang sudah disangrai. Pelanggannya tersebar di Jakarta, Bandung, Bali, juga Bondowoso dan sekitarnya. Ia juga pernah menjual biji kopi ke Korea Selatan dan mulai melakukan penjajakan dengan pihak pembeli dari Kanada.

Selain menjual biji kopi produksi kebunnya, Yusriadi juga menampung biji kopi hasil dari kebun petani lainnya di Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Bali, kemudian disalurkan kepada pembeli langganannya.

Dalam sehari, pabrik pengolahan biji kopi yang ia kelola bisa memproduksi rata-rata 2 ton biji kopi siap jual. Saat puncak musim panen, produksi biji kopi siap jual di pabrik pengolahannya bisa mencapai 20 ton. Menurut Yusriadi, sejauh ini sebanyak apapun biji kopi yang berhasil diproduksi, semuanya selalu habis terjual.

Bicara tentang usaha kopi yang ia geluti, tahun 2008 selalu diingat olehnya sebagai tahun kehancuran sekaligus tahun kebangkitan. Awalnya ia menolak ajakan bapaknya bekerja di bidang pertanian dan jual-beli biji kopi, ia lebih memilih usaha jual beli kubis. Pada 2008 usaha jual beli kubis yang sudah ia mulai sejak 2002 hancur berantakan. Ia ditipu pembeli, berton-ton kubis yang ia kirim ke salah satu kota di Kalimantan tidak dibayar. Saat saya tanya berapa tepatnya volume kubis yang dikirim dan tidak dibayar, Yusriadi tak menjawab. Kawannya yang berada di sebelahnya sembari bercanda, menjawab, “Kira-kira bisa dapat mobil Pajero-lah.”

Mendapat kabar si penipu berada di Jakarta, Yusriadi bergegas mengejar. Atas bantuan rekannya yang bertugas sebagai polisi di Jakarta, dalam 2 hari ia berhasil melacak keberadaan orang yang merugikannya. Namun, belum sempat menagih piutang, orang itu berhasil kabur. Yusriadi tak berani kembali ke Bondowoso karena malu kepada orangtuanya.

Di saat galau itulah, ia nongkrong di Anomali Coffee yang terletak di Jalan Senopati, Jakarta Selatan. Dulu ia pernah diminta bapaknya mengantarkan pesanan kopi luwak ke Anomali Coffee.

Dari pagi hari sebelum kedai kopi buka, hingga malam ketika kedai kopi tutup, Yusriadi berada di sana. Melihat wajah lusuh dan hilangnya semangat hidup Yusriadi, Salah satu pemilik Anomali Coffee, Muhamad Abgari (Agam) mengatakan ke Yusriadi, “Kamu ngapain di sini terus, cepat balik, olah kopi yang baik dan diantar ke sini.”

Yusriadi tak segera pulang. Ia sempatkan dulu berkeliling Jakarta, mengunjungi kedai-kedai kopi yang semarak. Melihat kondisi kedai kopi di Jakarta, ia merasa ada peluang besar usaha kopi di hulu, di desa tempatnya tinggal. Kemudian ia memutuskan untuk pulang dan memulai usaha di bidang kopi.

Dibimbing oleh bapaknya dengan bekal peralatan manual bantuan Pemerintahan Orde Baru yang diterima desa, Yusriadi belajar mengolah biji kopi hasil panen dari kebun bapaknya. Tak lama setelah mengolah kopi di kampung, ia kembali lagi ke Anomali Coffee dengan membawa satu pick-up kopi hijau. “Itu penjualan pertama. Dihargai Rp45 ribu per kilogram. Sampai sekarang, pun tetap kirim kopi ke sana. Ada ikatan yang kuat buat saya kalau sama Anomali Coffee,” terang Yus.

Yusriadi juga mencari pasar baru untuk biji kopi yang diolahnya dengan cara membawa sampel kopi dan menawarkan ke kedai-kedai. Pelan-pelan, usahanya ini membuahkan hasil, ia semakin serius menggeluti usaha di bidang kopi.

Penjemuran kopi
Penjemuran kopi | © Fawaz
Biji kopi arabika Ijen-Raung
Biji kopi arabika Ijen-Raung | © Fawaz

Pada 2011 saat Pemda Bondowoso menetapkan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan, menggandeng Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) dan beberapa pihak lainnya, pelatihan dan pendampingan kepada petani kopi di Bondowoso semakin intensif dijalankan. Yusriadi memanfaatkan tiap kesempatan yang ada agar usaha kopinya semakin baik. Berbagai pelatihan yang diselenggarakan Puslitkoka ia ikuti, baik di Bondowoso ataupun di luar Bondowoso. Ia juga berinisiatif mengikuti pelatihan dan kursus yang diadakan lembaga yang bergerak di bidang kopi. Hasilnya sertifikat nasional dan internasional bidang citarasa dan penyangraian kopi berhasil ia raih.

Kerja keras dan keuletan Yusriadi menggeluti usaha kopi diakui masyarakat luas. Saat ini selain mengelola usaha kopi, Yusriadi juga dipercaya menjabat sebagai Ketua DPD Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki) Kabupaten Bondowoso.

Malam kian larut, Yusriadi mengajak kami ke kediamannya tak jauh dari pabrik pengolahan kopi. Mesin sangrai kopi yang ia datangkan dari Turki berada di bagian paling depan rumah. Tepat di sebelahnya ada mesin penggiling biji kopi. Yusriadi mengambil beberapa gram biji kopi yang telah disangrai, memasukkannya ke dalam mesin penggiling. Selanjutnya kertas penyaring ia letakkan di atas wadah penampung, menabur serbuk kopi di atas kertas penyaring, dan menyiramnya dengan air panas. Air panas yang bertemu serbuk kopi menetes memasuki wadah, setelah melalui proses itu semua, kopi disajikan kepada kami.

“Tidak usah pakai gula ya, kan ini ekspedisi kopi, bukan ekspedisi tebu.” ujar Yusriadi kepada Nanda, salah seorang Tim Ekspedisi Kopi Miko yang sepertinya sudah mabuk kopi. Hehe..

Menurut Yusriadi, para petani sudah semakin baik menjaga mutu dan kualitas biji kopi yang dihasilkan di kebun mereka. Ini harus dijaga, kalau bisa ditingkatkan lagi. Ke depannya, dengan peralatan penyajian kopi yang ada di rumahnya, Yusriadi mau mengajak petani untuk belajar bersama-sama cara menyajikan kopi yang baik agar rasa khas kopi arabika Java Ijen-Raung bisa keluar. Semua itu untuk semakin menyadarkan petani agar menjaga kualitas buah kopi yang dihasilkan di kebun mereka. Karena buah yang baik dan proses pengolahan yang baik sangat berpengaruh terhadap citarasa kopi.

Ekspedisi Kopi Miko

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba