Dari Gulai Ikan Hingga Teh Talua

Penampakan Gulai Ikan khas Pak Malin dan berbagai makanan pendampinganya
Penampakan Gulai Ikan khas Pak Malin dan berbagai makanan pendampinganya | © Erika Hidayanti

Ranah Minang terkenal dengan beragam makanan khasnya. Sebagian masyarakat Indonesia tentu sudah tak asing dengan masakan ala Ranah Minang. Mengobati rasa mabuk perjalanan Padang-Jambi-Padang sebelum kembali terbang ke Jakarta, kami mampir ke sebuah resto yang sudah banyak dikenal di sekitar pesisir Padang. Rumah Makan Pak Malin namanya.

Pak Malin yang dimaksud bukan Malin Kundang, cerita legenda dari Sumatra Barat itu. Ini Pak Malin yang lain, juga ada di Sumatra Barat, di dekat Kota Padang, sekitar 50 meter ke arah selatan menuju Painan. Posisi tepatnya ada di sekitar Pelabuhan Samudra Bungus. Pemandangan sepanjang jalan itu sangat indah dengan panorama pantai dan perbukitan pantai barat Sumatra.

Perjalanan darat saya dan rombongan dari Padang ke Jambi beberapa waktu lalu memang membutuhkan waktu tak sebentar. Selain waktu yang cukup panjang, rute yang dilewati juga tak mudah. Kami mesti melalui beberapa belokan tajam, jalan menanjak, dan sisi-sisi pegunungan.

Menuju Rumah Makan Pak Malin, kita dapat melalui jalan raya dari Padang arah ke Painan, setelah gardu induk PLN Bungus, belok kiri masuk sejauh sekitar 75 meter. Rumah Makan Pak Malin memang sudah cukup dikenal oleh warga kota Padang sebagai rujukan untuk makan siang karyawan kantoran, pengunjung, atau wisatawan lokal. Biasanya, wisatawan yang datang ke sana diantar oleh orang lokal karena lokasi rumah makan yang tak begitu mencolok.

Kali pertama sampai di rumah makan ini saya langsung disambut sang pemilik rumah makan. Sembari memesan, dengan cekatan karyawan rumah makan menyediakan air putih dan keripik singkong balado khas minang. Pak Malin sangat ramah terhadap pengunjung, sehingga kita bisa cari tahu menu apa saja yang disajikan di rumah makannya.

Gulai Ikan Baracua yang sama sekali tak bau amis
Gulai Ikan Baracua yang sama sekali tak bau amis | © Erika Hidayanti

Rumah makan Pak Malin terkenal dengan gulai ikannya. Beragam ikan laut dan air payau dibuat jadi gulai nikmat ala Pak Malin. Gulai ikan disajikan dengan sayur daun singkong, jengkol, terong balado yang dicampur dengan ikan asin dan sambal cabai merah serta sambal cabai hijau. Ikan Baracua dimasak sangat pas, empuk, rasanya menyatu dengan kuah gulai. Aroma ikan dan gulai menyatu bercampur dengan bumbu rempah pala.

Tak hanya Baracua, di rumah makan ini pun saya mencicipi gulai Ikan Kerapu atau Ikan Karang. Rasanya tak kalah sedap, bumbu gulainya benar-benar meresap ke daging dan tulang ikan ini. Tak sedikit pun bau amis tercium, yang terasa hanya bumbu rempah khas minang yang sedap.

Pak Malin tak hanya menyediakan makanan olahan lezat dari berbagai ikan tersebut. Setelah habis menikmati gulai ikan dan berbagai makanan pendamping lainnya, kami langsung minum teh khas minang yang sudah disedikan. Teh Talua namanya, atau dalam bahasa lokal lebih sering disebut Tetalua.

Tetalua adalah minuman yang dibuat dari campuran air teh dengan kuning telur ayam kampung. Teh dan telur dikocok hingga mengembang dan tanpa bau amis sama sekali. Biasanya, tetalua juga disajikan dengan perasan jeruk lemon untuk menambah kesegaran.

Teh Talua, minuman khas Minang
Teh Talua, minuman khas Minang | © Erika Hidayanti

Menikmati tetalua biasanya dilakukan masyarakat di desa-desa minang di pagi hari menjelang matahari terbit sebagai teman sarapan, atau ketika malam beranjak meninggi di mana suhu mulai menyusut. Konon, teh khas ini menjadi minuman andalan para lelaki sebagai penambah stamina dan energi untuk beraktifitas.

Masyarakat di pedesaan banyak yang bekerja sebagai petani, berladang, atau memiliki ladang di lereng bukit. Selain itu, ada juga yang beternak dan berprofesi sebagai nelayan. Pekerjaan tersebut pasti menguras tenaga, maka tetalua adalah minuman wajib bagi lelaki minang yang hendak pergi bekerja.

Tetalua juga dipercaya masyarakat Minangkabau bisa menghangatkan suhu tubuh. Maklum, sebagian besar dataran di provinsi tanduk kerbau ini masih berbukit, jadi daerah dengan hawa dingin masih banyak ditemui di Sumatra Barat.

Nah, yang unik dari tetalua di Rumah Makan Pak Malin adalah kocokan telurnya. Pak Malin bisa membuat tetalua dengan tujuh lapis atau tingkatan. Demi menciptakan tetalua dengan tujuh lapis dan tanpa bau amis ini butuh waktu pengocokan yang lama dan sampai saat ini baru Pak Malin yang bisa melakukannya. Sayang, saat saya berkunjung, Pak Malin tak sempat membuatnya. Walhasil saya harus menelan kekecewaan untuk tidak mencicipi tetalua tujuh lapis khas Pak Malin.

Siang hari itu, saya dan rombongan merasa sangat puas dan kenyang. Sajian gulai ikan dan tetalua membuat kami segar dan berstamina untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Jika Anda ke Padang, cobalah menyempatkan diri datang ke rumah makan yang sudah berdiri sejak 1990 itu, dijamin Anda akan ketagihan.

Erika Hidayanti

Indonesia asli, darah campuran Sunda-Jawa-Bugis yang senang mencuri waktu untuk ngopi dan nulis di samping jendela kamar.