Coto Begadang 354: Jangan Begadang Kalau Tak Ada Kenangannya

Musim yang basah tiba di kota Makassar. Makassar malam hari begitu melankolis pasca ditudung hujan sore tadi. Ketika kesedihan bergelayut manja pada diri saya yang memang begitu gampang bersedih, dan langit kota Makassar mengamininya, maka saya akan pergi makan coto.

Warung Begadang 354 yang terletak di bilangan Perintis Kemerdekaan III menjadi tempat makan coto kesukaan saya. Warung ini nyaris tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi tengah malam. Selain nama warungnya yang memang warung begadang, orang-orang lebih akrab dengan nama Coto Begadang dan Nasi Kuning Begadang. Padahal warung ini mulai buka pada pagi hari hingga menjelang pagi hari kembali. Berbeda dengan warung-warung begadang lainnya yang memang hanya buka pada malam hari hingga menjelang pagi hari.

Saya datang sendiri di tempat ini, memesan semangkuk coto yang berisikan campur kecuali hati, lalu duduk di meja paling depan menunggu pesanan. Menatap ke seluruh ruangan yang berwarna hijau serta pramusaji yang lalu lalang. Sesekali menengok keluar ke arah jalanan yang sedikit sesak sebab motor pelanggan yang parkir di badan jalan.

Saya mengingat-ingat kembali, siapa saja yang pernah menemani saya makan di tempat ini. Hal itu membuat saya sedikit masygul. Tempat ini memang menyimpan banyak kenangan saya. Tersebab itu rahasia saya, maka saya tidak akan mengatakannya di tulisan ini.

Tampak depan Warung Begadang 354 Makassar
Tampak depan Warung Begadang 354 Makassar | © Hardiansyah Abdi Gunawan

Pesanan saya datang. Hawa dingin kota Makassar pasca diguyur hujan, kelelahan memikirkan skripsi yang tidak kunjung kelar, serta kenangan yang membuat saya masygul akan terbayar dengan semangkuk coto dengan irisan daun bawang yang harum, bumbu kacang yang gurih serta sambal yang pedas.

Tidak lengkap rasanya coto tanpa perasan jeruk nipis. Ini juga bisa membantu menurunkan kadar lemak. Itu sebabnya saya mungkin tidak gemuk-gemuk walau tiap hari makan coto. Menikmati coto di malam hari bagi saya adalah upaya merawat kenangan. Saya pernah jatuh cinta pada seorang perempuan di tempat ini. Jadi, tiap kali bertengkar hebat maka saya akan mengajaknya makan coto di tempat ini, lalu pertengkaran kami akan reda begitu saja dan cinta kami akan tumbuh sekali lagi. Tapi, cerita itu sisa kenangan. Akhirnya kami berpisah tersebab satu hal yang kami masing-masing tidak bisa terima. Meski, sekali-kali kami masih sering makan bersama di tempat ini.

Saya menyukai perasan jeruk nipis dan tidak menyukai kecap. Sedangkan dia sebaliknya. Katanya, jeruk nipis tidak baik untuk perempuan, sebab dapat mengeringkan rahim. Lalu saya akan berdalih, saya tidak perlu kecap yang manis, sebab saya sudah manis. Lalu, kami akan tertawa kecil dan melanjutkan menyantap coto kami masing-masing.

Saya menyeruput seluruh kuahnya beserta potongan-potongan ketupat. Dan yang tersisa dari mangkuk coto saya hanya isinya. Saya akan meminta kuahnya lagi, lalu memeraskan jeruk nipis, menambahkan sambal, lalu menyeruputnya sekali lagi. Itu adalah salah satu cara saya mengenyangkan diri serta merawat kenangan saya, juga menjaga isi kantong saya.

Sajian Coto Begadang paling enak dinikmati dengan ketupat
Sajian Coto Begadang paling enak dinikmati dengan ketupat. | © Hardiansyah Abdi Gunawan

Soal harga, Warung Begadang 354 ini cukup terjangkau. Untuk satu porsi coto Makassar seharga 7ribu saja dan ketupat seribu rupiah. Cukup terjangkau, dan sangat cocok untuk mahasiswa seperti saya. Berbeda dengan sebagian warung coto yang menambahkan biaya lebih untuk tambahan kuah. Sungguh sangat pengertian.

Saya telah menandaskan coto saya. Saya teringat puisi yang pernah saya tulis; Coto Makassar serupa pelukan ibu/kau bisa datang saja sesukamu. /Memeras jeruk nipis/serupa memeras perasaanmu, /di hadapan ibu.

Hardiansyah Abdi Gunawan

Pemukim di Kenangan