Cold Brew di Blue Shelter: Rumah Kopi Anak Mapala yang Riang Gembira

“Di Blue Shelter kami hanya punya sebuah gudang, teman yang baik, dan cara membuat kopi. Karena kopi sachet bukanlah mindset”.

/1/

Ketika memasuki BlueShelter (Walang Biru), tulisan di atas ini akan terpampang jelas di salah satu bagian dinding. Tulisannya berwarna putih, dengan dasar cat berwarna biru cerah. Di sinilah sebuah tempat dimana oleh pemilik kopinya, kita akan disuguhi kenikmatan kopi sesungguhnya. Kenikmatan kopi dari tangan seorang yang terbiasa melancong dengan kaki serta lidahnya. Rasa itu soal selera, yang beda adalah cara. Rasa kopi tidak pernah diam di satu tempat, ia berpindah. Berpindah dengan ‘cara’ si barista, dan ‘selera’ lidah para penikmatnya. Katakan tidak pada kopi instan (sachet), meski ia memang tidak berbahaya, tetapi melemahkan semangat pecandu kopi yang setia.

Blue shelter adalah sebuah Rumah kopi yang cukup sederhana, dengan luas yang mungkin tidak lebih dari 4×15 meter. Lampu ruangannya kuning remang, meninggalkan kesan setengah romantis yang umumnya digemari oleh banyak anak muda (juga yang tua). Berbagai macam perabot hanya terbuat dari kayu dan bambu (sebagian dikerjakan oleh tangan sendiri). Terdapat tiga buah meja kayu kecil dan dua belas buah kursi bambu yang menggunakan sandaran, lalu satu meja panjang, dan sepuluh kursi bambu tak bersandar. Dari sepuluh kursi bambu yang tidak bersandar itu, setengah jumlahnya diletakkan di depan meja barista seperti meja dan kursi bulat di sebuah bar (bartender). Ini agar tercipta interaksi antara penikmat kopi dan barista.

Suasana di Blue Shelter
Suasana di Blue Shelter | © Chalid Bin Walid Pelu
Sebuah obrolan santai
Sebuah obrolan santai | © Chalid Bin Walid Pelu

Bagi mereka di blue shelter, minum kopi bukan hanya soal seduh-minum-bayar-pulang. Ia lebih dari itu. Minum kopi adalah filosofi. Penikmat kopi berhak mengetahui apa yang mereka minum dan nikmati, serta bagaimana minuman tersebut diseduh. Kopi adalah cinta yang berhak dinikmati dan dibawa pulang ceritanya. Bukan hanya masuk ke lidah, kemudian puas, lalu bayar dan pulang tanpa kesan apa-apa.

Pemilik sekaligus peracik kopi (barista) adalah David. Ia anggota aktif Mapala Fakultas Hukum di Universitas Pattimura Ambon (Mahupala Unpatti). Usianya sekitar 23 tahun dan belum menikah.

Selain sebagai senior di Mapala, ia juga dibantu oleh beberapa juniornya untuk mengelola rumah kopi ini secara bersama. Mereka inilah yang bertanggung jawab penuh dalam mengurusi lidah pelanggan.

Rumah kopi blue shelter terletak agak berdekatan dengan kampus Unpatti dan bersebalahan dengan basecamp Mapala mereka. Pengunjungnya kadang-kadang saja. kadang suka cita saja, kadang duka cita.

Memang, dalam urusan pelanggan, blue shelter masih mencari dan menunggu pelanggan setianya. Sebab, terhitung sejak saya menjadi penikmat kopi di tempat ini, rumah kopi ini baru dibuka sekitar dua minggu sebelumnya.

Sebagai peminum kopi amatiran, minum kopi bagi saya adalah sebuah teka-teki. Setiap kali kita menyeruputnya timbul pertanyaan akan rasanya. Apakah kopi ini enak? Pahitnya dapat? Apakah rasa secangkir kopi yang berkualitas haruslah pahit? Ataukah haruslah manis? Lalu bagaimana rasa pahit secangkir kopi yang berkualitas dan bukan berkualitas? Hal-hal sesederhana ini juga kadang atau sering memelintir isi kepala saya. Sederhana, tapi membutuhkan jawaban.

Tetapi soal selera, saya punya beberapa standar bagaimana kopi cocok untuk saya. Apakah kopi itu harus pahit, manis, atau boleh jadi kombinasi antar keduanya. Tapi poin pentingnya, kopi enak adalah kopi yang bisa membuat saya kembali untuk menikmatinya.

/2/

Di blue Shelter terdapat dua varian biji kopi utama yaitu arabica dan robusta. Untuk arabica, tersedia empat varian yang antara lain Atjeh Gayo, Toraja Sapan, Bali Kintamani, dan Mandheling Sumatra. Sementara untuk robusta hanya memiliki satu varian saja yaitu Java Preanger.

Selain itu, Coffe Based (dasar penyeduhan) di blue shelter memiliki 11 pilihan, antara lain espresso, long black/americano, capuccino, cafe latte, iced latte, french press, pour over, vietnam drip, cafe au lait, ibrik/cezve, dan tubruk drip. Semua ini adalah dasar penyeduhannya.

Yang paling standar dalam cara penyeduhan di atas adalah menggunakan biji kopi Java Preangrer. Dan tentu saja kita bisa mengganti varian biji kopi yang berbeda tergantung dengan selera. Misalnya coffee based dari espresso adalah java preanger, maka kita juga bisa mengganti espresso java preanger dengan espresso atjeh gayo atau espresso Bali Kintamani atau apa saja jenisnya tergantung selera. Kita hanya perlu menambah Rp2 ribu saja untuk mengganti varian biji kopi tersebut.

Meracik kopi
Meracik kopi | © Chalid Bin Walid Pelu

Sementara itu, untuk daftar menu yang dapat kunyah di blue shelter, tersedia kentang goreng, roti bakar (coklat, keju, dan coklat+keju), dan yang kampas kompling juga linggis-Out Of Stock (tentu saja ini hanya bercanda). Hehehe

Di Blue Shelter, kita bisa menikmati kopi sambil bercerita tanpa harus merasa terganggu dengan arus lalu lintas. Sebab, kedai ini agak jauh dari jalan utama. Kita juga bisa bersantai sambil mendengarkan lagu favorit. Juga free wi-fi dengan tidak perlu khawatir untuk ketinggalan infomasi. Meskipun dari beberapa hal tentang rumah kopi ini masih nampak begitu sederhana, tapi jangan salah, kesederhanaan itu masih menampakkan beberapa hal yang membuat rumah kopi ini juga menjadi cukup unik serta istimewa.

Selain karena dikelola oleh anak muda (yang belum menikah dan masih kuliah), keunikan lain dari Blue Shelter yang pertama adalah (1), cara meracik dan menyeduhkan kopinya masih sangat manual (Manual Brewing), dan kedua (2) memiliki menu Cold Brew Coffee.

/3/

Manual brewing adalah bagian dari teknik atau cara penyajian kopi dengan cara yang tidak menggunakan mesin elektrik. Penyeduhan kopi hingga bisa dinikmati hanya menggunakan alat-alat yang masih manual. Cara ini memang tak sulit, tapi membutuhkan ketepatan si peracik agar dapat memahami soal rasa dan selera dari penikmat kopi sendiri. Kopi yang sesuai, dengan lidah penikmat yang beragam.

Papan daftar menu
Papan daftar menu | © Chalid Bin Walid Pelu
Daftar Menu Makanan di Blue Shelter
Daftar Menu Makanan di Blue Shelter | © Chalid Bin Walid Pelu

Untuk coffee based yang tersedia di Blue Shelter, ada berbagai macam jenis seperti long black/americano, cappucino, cafe latte, iced latte yang semuanya ini menggunakan espresso sebagai bahan dasar, sementara untuk french press, pour over, vietnam drip, cafe au lait, ibrik/cezve dan tubruk drip cara penyeduhannya menggunakan drip (seduh dan netes), tidak menggunakan espresso sebagai bahan dasar. Semua serba manual, kecuali untuk Coffee Grinder (penghalus biji kopi) yang menggunakan mesin elektrik.

Dalam menggunakan teknik penyeduhan secara manual, memang ada beberapa kelebihan serta kekurangan. Semisal, soal waktu yang tentu kalah cepat dibanding menggunakan mesin. Belum lagi, soal rasa yang tak selalu konsisten. Sebab, jika menggunakan teknik yang masih manual, takaran kopi sesuai tangan dan kualitas akan jauh berbeda-beda. Tidak seperti mesin elektrik yang takarannya sudah diukur dari awal, tinggal tekan dan croot. Kopi meluncur ke cangkir-cangkir. Rasanya sama. Konsistensi tingkat mesin.

Tetapi di situlah letak hal yang paling istimewa dari penyeduhan manual. Si Barista masih bisa melakukan eksperimen terhadap biji kopi, menciptakan variasi biji-biji kopi sebelum jadi seduhan kopi dalam cangkir. Meski tidak selalu konsisten, tetapi rasa kopi yang dihasilkan bagi saya adalah rasa kopi buatan manusia. Justru dengan begitu, para barista lebih mempunyai kesempatan untuk terus bereksperimen dengan selera dan rasa para penikmat.

Bagi sebagian orang, manual coffe brewing membuat kopi yang dinikmati terasa sangat manusiawi, diciptakan oleh tangan manusia yang mengerti betul soal rasa dan cinta. Minum kopi itu bukan soal tuang-seduh-aduk. Ada yang harus dilampaui dari itu (filosofi lagi).

/4/

Jika kita menganggap diri sebagai pecinta kopi, maka cobalah cold brew barang sebentar. Jenis minuman kopi yang sedang dicari akhir-akhir ini oleh para pecinta kopi. Minuman kopi yang dinikmati dingin, tapi tidak bisa dianggap sebagai kopi dingin biasa. Cold brew telah menjadi kopi dengan banyak penggemar. Memperkaya dunia per-kopi-an Indonesia.

Cold brew dibuat dengan cara perendaman yang umumnya menggunakan air dengan suhu ruangan atau air dingin. Meski agak menyerupai Ice Coffee, perbedaan cold brew adalah cara penyeduhannya tidak sedikit pun menggunakan air panas. Ini berfungsi agar dapat mengekstraksi karakter acidity kopi. Dan hasilnya adalah cold brew yang memiliki kadar asam rendah serta ringan tetapi memiliki rasa kopi yang masih sama kuatnya. Cara pembuatanya pun bisa memakan waktu sekitar 8-12 jam.

Karena rasa penasaran, saya pun mencobanya. Satu hal yang perlu diingat, karena proses pembuatanya yang memakan waktu lama, ini menjadikan cold brew sebagai jenis kopi yang tidak selalu ready stock (tersedia). Ia tidak bisa dipesan seperti kopi-kopi pada umunya. Coldbrewtidak seperti espresso yang bisa saja dipesan di rumah kopi dan ia senantiasa muncul di atas meja. Cold brew kadang harus dipesan jauh sebelum proses pembuatan. Satu cangkir cold brew bahkan bisa dihargai hingga Rp200-300 ribu, tergantung kualitasnya. Tetapi pada umumnya harga dari cold brew bisa dibayar dengan cukup merogoh kocek sekitar Rp25-30 ribu. Tetapi di Blue Shelter, cukup dengan Rp18 ribu, kita sudah bisa menikmatinya. Murah bukan?

Selain murah, hanya di Blue Shelter lah satu-satunya dari banyak rumah kopi yang bisa menyediakan cold brew di Kota Ambon. Meski Rumah kopi ini masih berumur dua minggu, tapi caranya menjadi rumah kopi adalah hal yang perlu dinikmati. Jika kamu ke Ambon, mampirlah ke sini. Kamu akan menemukan teman yang ramah, kopi berkualitas yang murah harganya, obrolan panjang, suasana sepi yang bikin hati syahdu seketika, serta sumber air yang memang sudah jauh lebih dekat, lebih dekat dari pada iklan.

Chalid Bin Walid Pelu

Mahasiswa tingkat akhir dan penikmat kopi apa saja.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com