Cold Brew Coffee ala Dongeng Kopi

Cold brew coffee
Cold brew coffee © WK Eka P

Sebermulanya adalah kopi.

Begitulah tagline Dongeng Kopi yang sering saya sambangi. Salah satu kedai kopi yang sedang populer di Yogya dan terletak di Jalan Wahid Hasyim No 3. Saya bukan peminum kopi, sangat buruk bahkan untuk sekadar mencecap. Untuk hal itu, saya sering diejek kawan saya Nody Arizona. Sehingga belakangan baru saya mulai tertarik dan perlahan beradaptasi dengan berbagai varian kopi. Juga iseng membaca sejarahnya.

Daftar menu sudah dihadapan. Saya membolak balik untuk mengeja setiap jenis olahan kopi. Hingga sampai pada sajian yang sering saya anggap unik; cold brew.

“Mau dengan potongan apel Kak, lebih segar?” tanya Njuk, salah seorang pelayan.

Saya mengangguk. Setuju.

Ethiopia, abad ke-9; sejauh itulah sejarah kopi tercatat. Biji-bijian asli ditanam. Untuk pertama kali di dataran tinggi daerah tersebut. Ketika kemudian Bangsa Arab (700-1000 M) memperluas lintas dagang bersamaan dengan penyebaran Islam, biji kopi terbawa serta hingga ke Afrika Utara, ditanam secara masal di sana. Kemudian menyebar lagi dari Asia sampai Eropa.

Di Indonesia sendiri berdasarkan data AEKI (Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia), kopi masuk ke Indonesia tahun 1696 dari jenis Arabika. Dibawa oleh Komandan Pasukan Belanda Adrian Van Ommen dari Malabar-India, yang kemudian ditanam dan dikembangkan di Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Pengembangan-pengembangan yang dilakukan kurun 1706-1714 menjadikan kopi sebagai komoditas dagang yang juga sangat diandalkan oleh VOC. Bahkan kemudian Indonesia (Hindia Belanda) berhasil mengekspor kopi untuk pertama kali pada tahun 1711. Hal itu menjadikan Hindia Belanda sebagai pionir perkebunan kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia. Tak heran jika kemudian VOC memonopoli perdagangan dari tahun 1725-1780. Selanjutnya sudah bisa ditebak, kopi mengalami peningkatan produksi (terutama di Jawa) pada 1830-1834. Saking populernya kopi dari Jawa, mereka orang-orang Eropa menyebut “secangkir Jawa”.

Begitulah kurang lebih sejarah (sangat singkat) kopi yang ternyata begitu jauh dari meja kedai yang sedang saya duduki. Siapa bisa duga, bahwa 12 abad setelah pertama kali biji kopi ditemukan, kita bisa mengeja nama-nama menarik di daftar menu: espresso, cappuccino, macchiato, latte, frappuchino, flat white, avogato dan yang paling menarik bagi saya belakangan ini adalah cold brew.

Cold brew coffee
Cold brew coffee © WK Eka P
Pesanan saya datang. Hitam pekat dengan aroma potongan apel.

Cold brew merupakan olahan kopi yang diseduh dengan mengandalkan suhu ruang, bukan langsung air panas. Cara pembuatannya tergolong menarik. Saya melihat kopi yang tertampung pada saringan ruang atas tabung, akan keluar setetes demi setetes seperti infus. Bisa sehari atau berhari-hari. Tetesan-tetesan itu akan mengendap. Hingga kemudian disajikan dengan bongkah es dan potongan buah.

Otten Magazine dalam salah satu artikelnya menuliskan baru pada tahun 2014 lalu cold brew mulai populer (di Indonesia). Sebagai gambaran bagaimana manusia selalu mengeksplorasi cara minum kopi secara habis-habisan.

Masih ulasan dalam artikel majalah tersebut, Amerika Serikat dan Australia adalah dua dari negara yang merasakan manisnya bisnis cold brew, terutama sepanjang musim panas. Pemburu kafein dengan bahagia menikmati kopi seduh dingin. Beragam merek muncul menghiasi dunia kopi di sana. Mereka seakan-akan berlomba-lomba menyajikan rasa terbaik dengan kemasan menarik yang membuat penikmat kopi bertepuk tangan. Brand semacam Chameleon Cold Brew, Stumptown, Grady’s Cold Brew serta Starbucks adalah sedikit nama yang mengusung maraknya sajian kopi seduh dingin.

Di Indonesia sendiri bisnis cold brew coffee tak hanya dijalankan oleh pemilik coffee shop, tapi juga para pebisnis kecil yang memasarkan kopi seduh dingin mereka di sosial media. Sebuah perkembangan yang mengesankan. Sebut saja nama-nama seperti No Sleep Coffee, Kolt Bruh, 92 Bottle Coffee dan Ais Bruh mulai meramaikan kopi seduh dingin di Indonesia.

Bagi Anda, yang mungkin ingin menghadiahi kawan sesama pecinta kopi, Anda tak usah khawatir. Dongeng kopi dan beberapa kedai di Yogya saya kira telah melakukan hal yang sama. Mengemas secara menarik dalam botol kecil yang ringkas di bawa. Sehingga anda bisa membawa kemanapun pergi, menikmati “biji dari surga” yang tak pernah berhenti bertransformasi di tangan para pecinta kopi.

WK Eka P

Pengelola lapak buku Pojok Cerpen. Masih beradaptasi dengan kopi yang sering membuat bibirnya sariawan.