Cokotetra: Drinks & Library

Cokotetra
Cokotetra © Kelsi Sawitri

Selamat datang! Kali ini sebuah kedai kopi di bilangan Jalan Dago No. 322, yang bertajuk COKOTETRA. Cokelat. Kopi. Teh. Sastra.

Kedai kopi yang ulang tahunnya tepat sehari sebelum Kelsi, 22 November, buka setiap hari kecuali Kamis, dan jam operasionalnya bisa dilihat di akun twitter @cokotetra. Cokotetra memang baru buka sejak 2012, meski begitu penggemarnya telah banyak. Rasanya Cokotetra sudah jaditempat kongkow para mahasiswa.

Cokotetra berada di ruangan yang mungil, cuma ada lima meja smoking area, dan dua meja untuk berempat (atau bisa buat berenam) dan tiga meja untuk berdua di bagian no smoking area. Kelsi rasa, pemisahan antara smoking area dan no smoking area sangat berguna. Di antara konsumen Cokotetra ada yang tidaktahanasap rokok.

Di sana ada pula minibar. Jadi ingat, minibar ini salah satu bagian yang paling Kelsi suka dari kedai kopi.

Walaupun boleh dibilang tempatnya agak “nyelip”, tapi jangan salah, dekorasinya sangat cute, dengan dominasi warna jingga dan hijau. Katanya, pemiliknya memang suka pada warna hijau.

Perpustakaan mini
Perpustakaan mini © Kelsi Sawitri
Surat Kopi, salah satu koleksi perpustakaan Cokotetra
Surat Kopi, salah satu koleksi perpustakaan Cokotetra. © Kelsi Sawitri

Hal pertama yang bikin jatuh cinta sama Cokotetra adalah dekorasinya, eh bukan, tetapiperpustakaan mini. Betul, sesuai tagline-nya “Drinks & Library”, di sini memang ada perpusatakaan kecil di sudut ruang, dekat jendela. Satu lagi, Kelsi sih super suka sama coretan di kertas karton hitam, di dinding ruang smoking area. Belum lagi salah satu potongan puisi Joko Pinurbo pada papan tulis kecil depan kedai.

Benar-benar mengingatkan pada #SanctuaryWall-nya @blue_romance, fictional coffee shop karya @dearsheva. Belum lagi barista, waitress, dan pemiliknya yang ramah. Selalu mengajak pelanggan ngobrol dengan hangat, dari tentang kopi sampai tentang kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengajak berkenalan pelanggan yang pertama kali datang. “Supaya kalau datang ke Cokotetra lagi ga canggung”, katanya. Mas Rian, baristanya, yang baik dan punya segudang cerita, membuat betah. Pokoknya Cokotetra itu benar-benar mengingatkan pada Blue Romance.

Di Cokotetra, pelanggan juga boleh bertanya banyak tentang kopi, boleh mengintip yang ada di balik bar. Pelanggan bahkan ditunjukkan cara pembuatan secangkir kopi, atau teh, atau cokelat. Ada beberapa cara penyajian dan proses brewing yang meski dilalui untuk secangkir kopi, misalnya Kopi Tubruk, V60, Syphon, dan French Press.

Papan menu
Papan menu © Kelsi Sawitri
Papan kreatif di smoking area
Papan kreatif di smoking area. © Kelsi Sawitri

Kalau harga, Kel, Kelsi?

Cokotetra, menurut Kelsi masih termasuk terjangkau “dompet” mahasiswa (sangat bersahabat bahkan).

Satu lagi, kedai kopi tidak lepas dari yang namanya musik, dan lagu. Kebetulan, ketika Kelsi ke sana, Cokotetra sedang memutar salah satu radio jazz swasta di Bandung, KLCBS FM. Pasti terbayang, musik seperti apa yang mengalun sepanjang kamu menyesap kopi? Belum lagi suara kopi yang digiling. Ah, pecinta kopi mana yang tidak jatuh cinta pada Cokotetra?

Spesial buat kamu, Kelsi beri rekomendasi lagu yang cocok sebagai teman minum kopi, Coffee karya Copeland:

There’s plenty of time left tonight
I promised I’d have you home before daylight
We do the best we can in a small town
Act like big city kids when the sun goes down

If it’s not too late for coffee
I’ll be at your place in ten
We’ll hit that all night diner
And then we’ll see

There’s so many things I have to say
I’ll stay up all night to hear about your day
We do the best we can in a small town
Act like kids in love when the sun goes down.

Terakhir, seperti yang selalu Kelsi bilang dalam setiap ulasan kedai kopi ,“Maaf kalau terlalu dramatis, dan jangan pernah percaya kalau belum mampir ke sana, dan mencobanya sendiri.”

Kelsi Sawitri

Penyuka kopi (dan pisang goreng). Mahasiswi semester terakhir di jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung.

  • ah Bandung jauh dari Malang. agomes kalau pas kesana mampir ke Cokotetra.

    • Ayo, Kak… Kalau ke Bandung wajib mampir pokoknya. 😀