Coffee Life: Kopi Tanpa Bendera

Bagian dalam ruangan Coffee Life
Bagian dalam ruangan Coffee Life // Sumber: liquivier.blogspot.co.id

Lelaki itu bertubuh tambun. Berkulit putih. Berambut ikal dengan bulu janggut dan kumis sedikit tampak tebal. Tingginya sekitar 170 sentimeter. Duduk di salah satu meja, tatapannya lurus ke sebuah layar laptop di depannya. Dia tak bergeming ketika saya bersama seorang teman memasuki ruangan itu.

“Mas Rani ya?” Saya menyapanya.

“Oh ya, silakan duduk,” jawabnya sambil tersenyum simpul.

Nama lengkapnya Syahrani Rahim. Akrab dipanggil Rani. Dia adalah pemilik Coffee Life, sebuah kedai kopi di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan. Malam itu, kami memang sudah berjanji bertemu untuk berbincang seputar kedai kopi usahanya itu.

Bersama sang kakak, Rani membuka kedai ini sejak 2013 silam. Semuanya memang berawal dari kecintaannya pada kopi—jika tidak bisa dibilang sebagai agama keduanya. Sejak masih tinggal di Melbourne, Australia (2004-2011), Rani terbilang penikmat kopi yang akut. Khususnya pada kopi Arabica. Maka saat kepulangannya ke Indonesia pada 2011, dengan perkembangan kopi di Indonesia yang belum signifikan, adalah sebuah petaka baginya secara pribadi. “Padahal, sebelumnya saya dimanja (kopi),” ujar Rani. Menurut Rani, saat itu di Indonesia tak begitu banyak kedai yang mau menggarap kopi secara serius.

Di tengah-tengah obrolan, Abdul salah satu barista di Coffee Life kemudian membawakan kami ceret kaca berisi kopi serta tiga gelas kecil. Kopi dibuat secara manual brewing. Oleh Rani, kami diminta untuk mencium aroma dan rasa kopi. Tepatnya mengidentifikasi karakter si kopi. Mulai dari sweetness (tingkat kemanisan), acidity (keasaman), mouthfeel (sensasi kopi di mulut: berat, ringan, tea like, atau creamy), dan flavor. Agak mirip cupping, bedanya kopi tak ditubruk. Abdul sengaja tak memberitahu saya maupun Rani jenis kopi pertama yang disajikan itu. Hingga dua kopi berikutnya usai kami identifikasi.

Sebetulnya saya agak kikuk ketika diminta melakukan cupping karakter kopi model itu. Maklum, konsumsi kopi saya tak jauh-jauh dari varian kopi ala warkop kampus dari pinggiran Jakarta. Maka, malam itu saya serasa mendapat kehormatan untuk belajar menikmati kopi ala kelas menengah Jakarta. Sebuah pengalaman baru bagi saya.

Identifikasi karakter dalam 3 ceret kopi
Identifikasi karakter dalam 3 ceret kopi © Thohirin

Coffee Life sedang tak begitu ramai malam itu. Hanya beberapa pengunjung yang tengah berleyeh-leyeh di beberapa sudut ruangan. Desain ruangannya cukup unik. Di dalam ruangan itu, ada satu ruangan khusus yang dijadikan barber shop berukuran kurang lebih 3×4 meter. Secara umum desain ruangan Coffee Life bergaya arsitektur ala rumah industrial Amerika tahun 60-70an. Didesain Sir Dandy, seniman cum vokalis band rock n roll brandalan; Teenage Death Star. Di salah satu bagian dinding, menggantung lukisan yang dibuatnya.

Alunan musik hiphop menamani obrolan saya dengan Rani. Abdul kemudian ikut bergabung sambil membawakan ceret kedua berisi kopi yang berbeda. Tak banyak, hanya 15 gram kopi dengan 250 air. Takarannya sama seperti kopi pada ceret pertama. Kami kembali diminta mengidentifikasi karakter dari kopi kedua yang dibawa Abdul. Gelas juga diganti agar aroma dan rasa kopi kedua tak berbaur dengan kopi pertama.

Kopi Ethiopia Hachira Coffee Life dalam kemasan
Kopi Ethiopia Hachira Coffee Life dalam kemasan © Thohirin

Coffee Life menyediakan banyak jenis varian kopi Arabica. Baik kopi lokal maupun luar. Untuk single origin dari Indonesia beberapa di antaranya tersedia Minang Solok, Sumatra Dolok Sanggul, Toraja, Kalosi Bone-bone, dan Bali Kintamani. Sementara untuk kopi luar masih didominasi oleh kopi Afrika dan Amerika Selatan, seperti Kenya Kagumo, Ethiopia Hachira, Ruanda, dan Brazil. Sebetulnya, kedai ini tak mengkhususkan stok kopi dari beberapa wilayah atau negara, semuanya tergantung ketersediaan stok pasar. “Kalau Kutub Utara ada, ya kita ambil,” kata Rani.

Beberapa stok kopi itu Rani peroleh dari beberapa pemasok dan petani secara langsung. Untuk kopi lokal, beberapa ia berlangganan ke pemasok di Jakarta, yakni di daerah Kemang Timur dan Pasar Santa yang khusus memasok Toraja Sapan. Sisanya ia mendapat dari pemasok di Surabaya. Sementara untuk kopi luar, seperti dari Afrika dan Amerika Selatan, ia berlangganan ke salah satu pemasok di Australia. Maklum, hampir delapan tahun tinggal di sana membuatnya tak lagi diragukan soal dunia kopi di negeri Kanguru itu.

Untuk petani, Coffee Life mendapatkannya dari kelompok petani di Sumatra dan petani dari Pangalengan (Bandung Selatan) dan Pangandaran. Menurut Abdul, Jawa Barat memang mengalami peningkatan dari segi kualitas dan kuantitas produksi kopi, khususnya untuk Bandung, Garut, dan Pangandaran. Terutama sejak 2014, ketika kopi hasil petani Malabar, salah satu kecamatan di Bandung, menjadi juara di acara pentas kopi nasional. Meski tetap saja, Sumatra menduduki peringkat pertama produksi kopi di nusantara.

Pada tanggal 9-11 April ini, Coffee Life bersama beberapa kedai kopi lain di Jakarta dan Bandung juga mengadakan ekspedisi kopi ke kebun kopi di Pangalengan.

Dalam dua hari, Coffee Life bisa menghabiskan 1 kg kopi. Itu jika sedang sepi. Jika sedang ramai, seperti akhir pekan atau ada nonbar bisa 1 kilo dalam sehari. Terutama jika Manchester United (MU) sedang main “Kandangnya MU ini, Mas” Abdul menimpali.

Jika dihitung rata-rata, Coffee Life bisa menghabiskan 30 kg kopi dalam sebulan. Itu khusus yang dihabiskan di kedai, belum termasuk biji kopi mentah hasil roasting yang bisa dipesan dan dikirim ke beberapa pelanggan dari wilayah di Indonesia yang sebulan bisa mencapai 40-50 kg. Untuk kopi pesanan, Coffee Life menyediakan dua jenis ukuran 250 dan 500 gram.

(dari kiri ke kanan) Jaki, Rani, dan Abdul
(dari kiri ke kanan) Jaki, Rani, dan Abdul © Thohirin
Meracik Kopi Espresso
Meracik Kopi Espresso © Thohirin

Sehari-hari, Rani ditemani oleh tiga barista mengelola Coffee Life: Abdul, Jaka, dan Raffi. Jaka dan Raffi termasuk yang paling muda, baru bergabung awal 2016 lalu. Sementara yang paling senior di antara mereka, adalah Abdullah Hatim. Nama lengkap dari Abdul. Abdul sudah menjadi barista sejak 2008. Sejak 2013, baru ia bergabung dengan Rani di Coffee Life. Kini, di samping kesibukannya membantu Rani, Abdul juga tengah merintis bisnis roasting berbasis home industri di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan sejak 2014. Namanya Hatim Bean.

Abdul membawakan ceret kopi yang ketiga. Kali ini kopi lebih pekat. Namun tetap, aromanya masih sama seperti dua kopi sebelumnya. Di antara ketiganya, masing-masing memang memiliki karakter yang berbeda. Mulai dari warna kepekatan, aroma, maupun tingkat keasaman, manis dan pahit. Saya lebih suka yang ketiga, karena rasa pahit dan aroma kopinya lebih kuat.

Rani akhirnya meminta Abdul memberitahu kami jenis kopi dalam tiga ceret itu. Namun lebih dulu ia memastikan di ceret kedua adalah kopi Minang Solok. Tebakan Rani tak salah. Sementara di ceret pertama dan dan ketiga masing-masing adalah Kenya Kagumo, dan Ethiopia Hachira.

Menurut Rani, kini sulit untuk membedakan jenis kopi hanya dari aroma dan rasa. Karena, hasil panen biji kopi dari satu kebun yang sama pun kadang bisa menghasilkan jenis kopi yang berbeda. Namun, justru itulah salah satu keunggulan kopi lokal Indonesia. Hasil kopi dari beberapa daerah di Indonesia bahkan kadang bisa menyamai hasil kopi dari negara lain.

Dari Flores misalnya, yang bisa menyamai jenis kopi dari Brazil, atau dari Papua yang bisa menyamai kopi dari Ethiopia. Persoalannya kemudian ada di hulu: tak banyak petani kita yang bisa mengeksplorasi hasil kebun kopinya. Karenanya, belakangan beberapa petani dari luar Indonesia sengaja datang untuk mengajari petani lokal kita. Kemudian hasilnya dibeli. Namun dengan beberapa syarat, misalnya harus dipetik dalam bentuk biji merah.

Akhir perbincangan kami ditutup dengan kopi espresso (house blend) tanpa susu racikan Abdul. Kali ini blend terdiri dari: Sumatra Dolok Sanggul, Toraja, dan Bali Kintamani. Warnanya lebih pekat dari tiga kopi single origin yang sebelumnya. Rasa pahitnya kuat. Bercampur dengan rasa asam yang pas. Tapi jujur, saya langsung jatuh cinta.

Thohirin

Tertarik jurnalistik. Penyuka masakan pedas. Pernah bercita-cita menjadi pemain Timnas.