Cerita Ngopi di Pare Corner

Gambar Jimi Hendrix menghias dinding ruangan di Pare Corner Coffee
Gambar Jimi Hendrix menghias dinding ruangan di Pare Corner Coffee © Desriyanti Demetria Sembiring

Mengisi waktu liburan kuliah kali ini saya memutuskan untuk tinggal sementara di Kampung Inggris, Pare. Bisa dibilang ini liburan produktif saya demi masa depan yang lebih baik. Pare bukanlah tempat yang baru buat saya. Tahun lalu saya sudah pernah datang ke tempat ini dengan tujuan yang sama. Yaitu belajar Bahasa Inggris. Yang membedakannya adalah kali ini saya datang bersama teman.

Hari ini mungkin sedikit berbeda dengan hari yang sudah saya lalui selama beberapa hari di Pare. Pada tanggal 28 Mei seorang teman baru yang saya temui di Pare yaitu mbak Mey menginjak usia 23 tahun. Kami ingin membuat hari spesial untuknya dan mungkin menjadi kenangan manis yang terus diingatnya.

Hal inilah yang mendorong saya bersama teman-teman datang ke salah satu cafe. Kami merencanakan untuk memberikan kado spesial untuk mbak Meysia. Pare Corner Coffee merupakan salah satu tempat pilihan utama kami karena banyak orang yang merekomendasikan dan membicarakannya. Tempat ini adalah salah satu tempat nongkrong dan ngopi yang banyak dikunjungi para pendatang di Pare. Pertama kali saya lihat tampak dari luar cafe ini dalam benak saya mungkin tidak terlalu besar, namun ternyata cafe ini cukup besar. Ketika kami memasuki ruangan cafe, kami langsung memberikan kue untuk mbak Meiysa. Tak lupa juga kami bernyanyi selamat ulang tahun padanya.

Cafe ini terbagi atas smoking area dan ruangan tanpa asap rokok. Pada saat pertama tiba kita memilih area no smoking karena dilengkapi AC, dan alunan musik yang diputar memberikan tambahan kenyamanan nongkrong di dalamnya. Namun sepertinya itu tidak membuat kami betah berlama-lama di area ini, dan memutuskan untuk beralih ke smoking area yang sepertinya lebih menarik dan memang membuat saya sedikit terkejut ketika memasukinya. Ternyata ruangannya cukup besar serta terdiri atas dua lantai. Yang menarik dari sini juga ada live music yang ditawarkan dan pengunjung bebas menyumbangkan suaranya atau sekedar request lagu.

Hiburan Musik Akustik di Pare Corner Coffee
Hiburan Musik Akustik di Pare Corner Coffee © Desriyanti Demetria Sembiring
Salah satu sudut ruangan yang diisi oleh vespa cantik nan bercahaya cocok untuk tempat selfie
Salah satu sudut ruangan yang diisi oleh vespa cantik nan bercahaya cocok untuk tempat selfie © Desriyanti Demetria Sembiring

Design dari dari setiap sudut ruangan berbeda-beda. Di lantai dua menawarkan kursi santai dengan meja bulat di tengahnya dan tempatnya agak jauh dari hiruk pikuk pengunjung lainya. Sedangkan di bagian bawah cafe tempat duduknya menggunakan sofa panjang. Cukup untuk menampung pengunjung dengan jumlah banyak. Disisi lain ada pula kursi tinggi yang menyerupai kursi bar serta ban mobil yang dimodifikasi menjadi kursi. Hal yang unik juga dari tempat ini adalah design interior dimana mereka memajang beberapa motor-motor tua beserta vespa di dekat panggung live music serta di sudut ruangan cafe. Dinding dari ruangan ini juga terpampang mural tulisan serta gambar-gambar tokoh yang memberikan motivasi tersendiri kala melihatnya.

Kami memesan beberapa menu. Seperti spaghetti, jamur crispy, chicken sausage dan tidak lupa memesan hot coffee, cold chocolate serta minuman yang lain yang saya lupa namanya. Bagi penikmat kopi, Pare Corner menawarkan beberapa menu minuman seperti: Jamaica Blue Mountain, Java Arabica, Sumatra Mandhailing, Arabica Gold, Robusta Super, Lampung dan masih banyak lagi. Sembari menunggu pesanan kami mencoba menikmati hiburan musik. Tak lupa kami request lagu Jamrud: ‘Selamat Ulang Tahun’ untuk teman baru kami.

Hari itu pengunjung di Pare Corner cukup ramai. Kursi cafe terisi penuh baik di lantai dua maupun di lantai bawah. Salah satu yang membuat saya jatuh cinta dengan tempat ini adalah pelayanannya yang cukup baik dan sangat ramah kepada setiap pengunjung. Suasana cafe yang vintage, ada dua ruangan untuk perokok dan non-perokok, ada pula hiburan musik akustik, ditambah pelayanannya yang baik membuat saya semakin nyaman berlama-lama.

Waktu sudah menunjuk pukul sembilan malam. Tak terasa kami sudah menghabiskan waktu 3 jam lebih di tempat ini. Sebenarnya kami enggan untuk meninggalkan tempat ini karena sudah sangat nyaman. Sayangnya karena kami tinggal di asrama, mengharuskan kami untuk pulang sebelum pukul setengah sepuluh malam. Saat kami akan keluar cafe tiba-tiba pelayan Pare Corner mengajak kami berkeliling ke salah satu ruangan. Di sini terpajang beberapa vespa yang terlihat cantik dan bercahaya. Kami pun mengabadikan beberapa foto di ruangan tersebut. Tak lupa saya menyempatkan diri untuk berfoto bersama pelayan Pare Corner Coffee. Bagi kamu yang akan berkunjung ke Pare atau sedang berada di Pare jangan lupa berkunjung ke tempat ini. Saya jamin tak akan mengecewakan. Saya ingin segera kembali lagi ke kafe ini secepat-cepatnya. Bertemu dan bercengkarama lebih lama dengan pelayan kafe yang ganteng nan kece abis. Eh…