Cerita dari Festival Ngopi Sepuluh Ewu

Hari Jadi Banyuwangi selalu meriah. Banyak even berskala nasional maupun internasional. Tujuannya jelas: memperkenalkan Banyuwangi pada wisatawan lokal maupun asing. Ini juga untuk mengubah persepsi Banyuwangi yang selama ini kondang sebagai santetnya.

Salah satu even yang digelar di hari jadi kota ini adalah Festival Ngopi Sepuluh Ewu. Ini adalah hajatan kedua setelah sukses diadakan setahun lalu. Tahun lalu panitia acara ini menyediakan sewu (seribu) cangkir kopi yang bisa disruput dengan gratis.

Festival Ngopi Sepuluh Ewu
Suguhan yang disediakan oleh warga. Ada kopi, kacang rebus, rengginang, dan berbagai jajanan lain. © Priya Purnama

Festival Ngopi Sepuluh Ewu dilaksanakan pada 23 November 2014. Tempatnya adalah Desa Kemiren, desa yang sudah lama dikenal sebagai desa yang masih kental nuansa budaya Osing. Tahun ini jumlah cangkir meningkat jadi 10 ribu, alias sepuluh ewu. Panitia menyiapkan 2,5 kuintal biji kopi robusta yang diambil dari perkebunan kopi di daerah Kalibendo dan Kemiren.

Bahkan ada seorang dermawan yang suka rela membantu, yaitu Setiawan Subekti. Pak Iwan —panggilan akrab Setiawan— sendiri merupakan seorang tester kopi internasional yang sudah melalang buana di banyak negara sebagai juri kompetisi kopi. Selain memberikan hasil kebun kopinya untuk acara ini, Iwan dikenal sebagai pengusaha yang membeli kopi dari petani lokal untuk kembali dijual di Bali. Kopi ini dikenal dengan sebutan Kopi Kemiren, atau Kopi Jaran Goyang.

Saya pun penasaran dengan event ini, karena tak bisa hadir dalam even tahun lalu. Pagi sekitar pukul 8.00 WIB, saya sudah berada di Desa Kemiren. Saya melihat banyak warga desa melaksanakan kerja bakti sebelum acara festival berlangsung di malam hari. Sedangkan panitia pelaksana memasang spanduk dan banner di perbatasan Desa Kemiren sebagai tanda bahwa acara ini akan berjalan meriah.

Festival Ngopi Sepuluh Ewu
Kopi Kemiren yang mahsyur disebut sebagai Kopi Jaran Goyang. © Priya Purnama
Saya bertemu dengan penduduk desa bernama Bu Supinah. Saat saya temui, beliau ssedang membuat lepet, jajanan khas yang terbuat dari ketan, kacang, dan parutan kelapa yang dibungkus dengan daun janur. Mirip ketupat.

Menurut pengakuan ibu Supinah, jajan yang mereka hidangkan adalah buatan mereka sendiri. Sedangkan kopi untuk acara itu sudah disediakan oleh panitia penyelenggara ataupun kopi milik warga desa.

Bu Supinah punya cerita menarik. Tahun lalu mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara, yang juga taipan media, Dahlan Iskan, hadir dalam festival ngopi ini. Ia menangis terharu karena keramahan warga Desa Kemiren.

Karena desa masih cenderung sepi, saya memutuskan untuk kembali lagi selepas Maghrib. Selepas adzan Maghrib, warga mengeluarkan kursi dan meja di pinggir jalan utama Desa Kemiren. Saya pun turut membantu menata dan membawakan peralatan seperti oncor (obor) untuk penerangan. Yang menarik adalah, hampir seluruh warga Desa Kemiren mengenakan pakaian adat Osing.

Saya pun mencoba berkeliling melihat jalannya festival. Setiap saya bersirobok dengan warga desa, lagi-lagi mereka dengan ramah menawarkan untuk berkunjung ke tempat mereka. Saya hanya bisa senyum dengan mengucapkan terima kasih.

Festival Ngopi Sepuluh Ewu
Kopi robusta dari Kemiren dan singkong goreng adalah teman yang tak pernah berkhianat. © Priya Purnama
Tiba-tiba hati saya terketuk untuk mampir ke tempat nenek yang logat Osingnya sangat kental. Dibandingkan tempat lain yang jajannya lebih bervariasi, nenek ini hanya menyediakan jajan yang sederhana yaitu gorengan sawi, alias singkong goreng.

Dengan nada tuanya beliau berucap “nyorot kopai olong lek beno penyar pikirane. Pangane roh ikau roti Osing,” saya pun tertawa dengan candaan si nenek yang membandingkan gorengan sawi dengan roti.

Saya pun menyeruput kopi yang katanya khas Banyuwangi. Srupuuut. Kopi robusta ini kental dan pahit. Menurut cerita sang nenek penjual gorengan Sawi, bagi masyarakat Osing, kopi harus lah pahit. Kalau tidak pahit bukan kopi namanya.

Bahkan ada anekdot ngopi bisa buat kita bersaudara. Kesadaranku pun mengiyakan kalau anekdot itu benar. Bagaimana tidak saya berkunjung di desa Kemiren terasa berkunjung di rumah saudara sendiri. Kopi juga merobohkan semua sekat. Bupati, artis, atau siapapun yang ikut ngopi di festival ini ya sama-sama penikmat kopi.

Kopi memang menempati peran penting dalam laku sosial masyarakat Kemiren. Mereka juga punya kelakar: kalau orang ngumpul ya harus ngopi. Kalau ngeteh itu untuk orang sakit.

Saat sedang asyik menikmati kopi, terdengar suara gendang dan tabuhan musik tradisional dari kejauhan. Saya bergegas menghampiri. Ternyata itu adalah hiburan musik tradisional dan tarian Barong cilik Kemiren. Memang dikhususkan untuk menghibur para pengunjung. Wah anak-anak kecil disini sudah mencintai budaya sendiri sejak dini. Bagus lah, kalau bukan anak-anak ini siapa lagi yang akan melestarikan budaya mereka. Mereka lah penerus yang akan melestarikan budaya asli meskipun di serang oleh budaya modern.

Priya Purnama

Seorang penggemar berat kesebelasan sepak bola Chelsea. Putra asli Osing yang pernah menuntut ilmu di Jember.