Celoteh Orang Gusuran di Film Jakarta Unfair

Jakarta Unfair
Jakarta Unfair | © Muhammad Azami

Saya sepakat bahwa berdasarkan data, angka kemiskinan di Jakarta menurun. Iya, menurun bukan karena orang miskin bertambah sejahtera, tapi orang miskin pada mati dan hilang keberadaannya di Jakarta,” ujar seorang warga gusuran Kampung Akuarium.

Tak ada yang istimewa. Dari hari ke harinya, warga beraktivitas di antara puing-puing bangunan bekas rumahnya yang digusur. Sesekali terlihat alat berat sedang bekerja. Mengerjakan sebuah entah proyek apa. Dan beberapa anak kecil berlarian bermain mengitari alat berat tersebut. Hanya sebuah musholla sederhana dan beberapa tenda darurat yang tersisa di Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara.

Sejak digusur dan direlokasi ke rusun Rawa Bebek dan Kapuk Muara, beberapa warga masih bertahan disana. Alasan mereka tak mau direlokasi sederhana, mereka menuntut keadilan atas kesewenangan Pemprov DKI Jakarta terhadap hak atas ruang hidup mereka. Dan tawaran solusi relokasi ke rusun bukan jawaban untuk jaminan hidup yang lebih baik.

Maka pada minggu malam 6 November lalu, para pemuda di Kampung Akuarium berduyun-duyun memasang bambu untuk layar tancap pemutaran film Jakarta Unfair. Sebuah film dokumenter yang merekam tentang warga yang tergusur dan yang sedang terancam tergusur dalam perjuangan atas ruang hidup mereka.

Semua peralatan nobar (nonton bareng) disediakan serba sederhana dari swadaya warga Kampung Akuarium. Hanya berbekal sebuah proyektor sewaan dan toa musholla sebagai pengeras suara film. Setelah semuanya beres, dalam satu kali informasi melalui pengeras suara, seluruh warga Kampung Akuarium berkumpul di samping Mushola.

Persiapan Nonton Bareng Jakarta Unfair
Persiapan Nonton Bareng Jakarta Unfair | © Muhammad Azami
Suasana Nonton Bareng Jakarta Unfair
Suasana Nonton Bareng Jakarta Unfair | © Muhammad Azami

Selepas isya, nobar dimulai. Semua terselenggara dengan khidmat meski hanya beralas puing bangunan dan beratapkan langit mendung Jakarta. Suasana nobar berlangsung sunyi, sehingga suara-suara percakapan dan musik di dalam film terdengar jelas. Beberapa kali sorak-sorai anak-anak terdengar, kala ada salah satu tokoh kampung mereka yang nongol di layar.

Di beberapa segmen film, terekam aktifitas warga Kampung Akuarium yang masih bertahan pasca 3 bulan penggusuran. Tergambar juga aktivitas warga yang sudah direlokasi ke rusun Rawa Bebek dan Kapuk Muara. Mereka yang sudah pindah ke rusun, bercerita mengenai kerugian sosial dan ekonomi setelah mereka direlokasi. Berhimpitan dengan anggota keluarga di kamar rusun, tak ada lagi kegiatan ekonomi, hingga momok petugas rusun yang menyegel kamar mereka karena 3 bulan tak bayar yang menghantui mereka. Dulu mereka punya rumah sendiri, usaha sendiri. Kini semua itu hanya tinggal kenangan.

Film Jakarta Unfair mencoba menuangkan suara warga korban penggusuran yang tenggelam dalam arus media utama. Opini mengenai positifnya penggusuran dengan dalih “kepentingan bersama” merupakan opini yang dibangun untuk melegalkan penggusuran. Ditambah lagi, opini kelas menengah Jakarta yang makin menenggelamkan suara warga korban penggusuran dengan labeling “biang kerok banjir” atau “warga liar” kepada warga korban penggusuran.

Dikerjakan secara keroyokan oleh beberapa mahasiswa dengan berbagai latar belakang serta dukungan dari Watchdoc, film ini akhirnya dapat dirilis setelah berbulan-bulan live in dan riset lapangan. Mulai dari Bukit Duri, Kampung Baru Dadap, Kampung Akuarium, hingga rusunawa relokasi korban-korban penggusuran. Disana mereka melakukan “bunuh diri kelas “, menanggalkan status sebagai mahasiswa dan hidup sebagai warga kampung. Satu hal yang telah hilang dari agenda para mahasiswa yang kian hari kian tenggelam dengan asyiknya dunia politik kampus.

Tentu saja keresahan terhadap gerakan mahasiswa saat ini turut melatar belakangi anak-anak muda yang membuat film Jakarta Unfair ini. Saya rasa, membuat film semacam ini bisa disebut juga sebagai model New Social Movement era digital. Keberadaan film seperti ini juga menjawab pertanyaan, kemana gerakan mahasiswa hari ini. Seperti oase di tengah gurun pasir, mungkin itu peribahasa yang tepat untuk kehadiran film ini.

Sesudah film selesai diputar, giliran warga yang bersuara. Salah satu yang bersuara adalah Bu Rini, Tokoh Masyarakat dan ibu pejuang yang gigih melawan penggusuran kampungnya. Dalam sambutannya, Ia meminta warga Kampung Akuarium untuk tetap menjaga semangatnya dalam memperjuangkan keadilan. Mendengar kata-katanya, saya jadi teringat tagline yang digunakan oleh film Jakarta Unfair ini. Bahwasanya “Setiap Petak Tanah adalah Kehidupan dan Perjuangan”.

Bagi kalian yang penasaran dengan filmnya, anda bisa mendatangi kampung-kampung terdekat yang menyelenggarakan nobar semacam ini. Kalau tidak ada, ajak teman-teman terdekat untuk berswadaya menyelenggarakannya. Mumpung film ini belum naik tayang di bioskop loh… Eh nggak bakal masuk bioskop deh. Hehe…

Muhammad Azami

Doyan aksi meski sering dipukuli.