Catatan Cupping Liberika Jambi

Catatan Cupping Liberika Jambi
Kafe Coffee Life, Pondok Labu, Jakarta Selatan © Nuran Wibisono

Beberapa hari lalu Mas Puthut EA mengirimi saya sekantong biji kopi liberika Jambi. Sekantong kopi kiriman ini berhasil membuat saya girang. Tentu kesenangan ini bukan tanpa alasan.

Kopi liberika termasuk kopi “langka” di Indonesia. Kopi ini masuk Indonesia pada tahun 1875, kala banyak pohon kopi arabika dan robusta di Nusantara terjangkit hama karat daun (Hemileia vastarix). Liberika didatangkan langsung dari Afrika karena kopi ini lebih tahan penyakit.

Saat hama kopi sudah berhasil ditanggulangi, kopi liberika kembali “undur diri” dan menyerahkan kembali panggung kopi pada arabika dan robusta. Ibarat manusia, liberika adalah manusia yang sangat rendah hati. Saat ini liberika jelas kalah jauh soal popularitas ketimbang dua saudara tuanya, arabika dan robusta. Dua kopi ini yang malang melintang di dunia persilatan kopi.

Di Indonesia, daerah utama penghasil kopi liberika adalah Jambi dan Bengkulu. Tahun lalu, Jambi menghasilkan sekitar 270 ton biji kopi liberika. Iya, memang sedikit saja. Dan hampir semuanya diekspor. Negara yang paling banyak membeli kopi liberika Indonesia adalah Malaysia. Sisanya masih dipakai untuk kebutuhan pasar dalam negeri. Salah satu produk kopi yang memakai kopi liberika adalah Kopi 1001 khas Bengkulu. Meski begitu, saya hampir tak pernah menemui ada penjual yang menjual kopi liberika. Untuk beli, biasanya pembeli harus datang langsung ke Tanjung Jabung Barat, daerah penghasil kopi liberika di Jambi.

Mengingat jarangnya kesempatan mencicipi liberika, saya langsung menghubungi Syahrani Rahim. Ia pemilik kafe Coffee Life, sebuah kedai kopi di bilangan Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Kami janjian hari Minggu malam. Sekalian nonton bareng sepak bola antara tim terbesar dunia Manchester United, melawan Manchester City, tim antah berantah yang sedang berjaya karena kuasa uang.

Coffee Life merupakan tempat kopi yang menarik. Desainnya berkonsep industrial warehouse Amerika circa 60-70. Yang lebih menarik lagi, desainer Coffee Life ini adalah Sir Dandy, seniman cum vokalis band rock n roll brandalan, Teenage Death Star. Di satu bagian kafe, ada satu lukisan besar buatan Sir Dandy.

Catatan Cupping Liberika Jambi
Kafe Coffee Life, Pondok Labu, Jakarta Selatan © Nuran Wibisono

Malam itu, saya ditemani oleh Abduh, seorang barista senior di Coffee Life. Syahrani juga ikut membantu proses cupping.

“Ini kita cupping tiga kopi. Panama, Flores Bajawa, dan Liberika,” kata Rani, panggilan Syahrani.

Rani dan Abduh sama-sama belum pernah mencoba liberika. Wajar, seperti yang sudah dibilang di atas, liberika memang bukan pemain utama dalam dunia kopi. Karena itu Rani dan Abduh penasaran dengan rasa liberika.

Air sudah dijerang. Kopi diseduh. Kami menunggu 4 menit, sebelum break pertama dimulai. Panama menguarkan wangi yang tajam. Flores Bajawa dan liberika Jambi juga menguarkan wangi yang aduhai.

Kopi yang dicicipi malam itu, digiling dengan dua cara. Kasar dan halus. Ternyata setelah dibandingkan, giling halus lebih cocok untuk liberika Jambi.

Catatan Cupping Liberika Jambi
Tiga kopi. Panama, Flores Bajawa, dan Liberika. © Nuran Wibisono
Catatan Cupping Liberika Jambi
Kopi Liberika © Nuran Wibisono

Sweet-nya lebih keluar. Jauh mengalahkan Panama dan Flores Bajawa,” kata Rani.

Menurut Rani, sudah ada kategori sweetness di beberapa penilaian kopi. Salah satu yang memasukkan sweetnesss dalam lembar penilaian cupping adalah perusahaan sangrai kopi legendaris dari Chicago, Intelligentsia Coffee & Tea.

Perusahaan yang dibentuk sejak 1995 ini menilai kopi berdasarkan aroma, yang lalu diikuti oleh sweetness dan acidity. Mereka menyebut sweetness dan acidity sebagai “…dua atribut yang paling mudah dirasakan sewaktu kopi masih panas.” Dalam lembar penilaian mereka, rasa manis alami kopi bisa memberi nilai yang tinggi.

Namun liberika Jambi masih memiliki beberapa kekurangan. “Kalau digiling kasar, selain rasanya flat, juga keluar aroma dan jejak rasa asap,” kata Abduh. Hal ini bisa jadi akibat proses sangrai yang kurang tepat. Selain itu, body kopi liberika Jambi masih kurang. Menurut Rani dan Abduh, ini bisa diakali dengan sangrai yang sedikit lebih dark.

Secara keseluruhan, liberika Jambi jelas punya pangsa yang besar di Indonesia. Hanya perlu dikenalkan dan kembali dipopulerkan.

Apalagi secara rasa, liberika tak kalah dengan arabika. Liberika lebih terasa mantap kalau digiling halus dan diseduh ala kopi tubruk. Dengan sedikit perbaikan, kopi ini punya potensi untuk jadi primadona baru.

Nuran Wibisono

Penyuka jalan-jalan dan musik bagus.

  • erlia

    Saya dari tanjab barat jambi, tempat ditanamnya kopi liberika, jika ada yang minat dengan kopi liberika bisa saya bantu mendapatkan. hub. 081381275647

  • Jadi pengen nulis Liberika Jember 😀
    Sedikit catatan, kalau tidak salah Robusta itu masuk ke Indonesia setelah Liberika akhirnya kalah juga dengan HV seperti sebelumnya yang dialami Arabika.
    Untuk roastingan Produk Cold Brew ALkoffie biasanya pake Full City. Disini bisa muncul flavournya. Acidity nya lumayan dan Sweetness nya masih okelah. Oya, ukuran grindernya pake coarse (kasar).

    Catatan penting: Lek mulih Jember kabari Ran. Tak kek’i Cold Brew ALkoffie Liberika Sidomulyo sing fresh