Cafea: Coffee Beans and Japanese Cuisine

Jatuh cintalah pada kopi serta kedai kopi, yang oleh karena kerja semesta, di sana kamu akan bertemu orang yang nantinya berarti dalam hidupmu.

Akhirnya Kelsi tertarik untuk mengulas kedai kopi lagi. Keinginan ini muncul setelah Kelsi bertemu dengan Mas Harry, pemilik Cafea, yang sudah berbagi cerita panjang tentang kopi dan kedai kopinya.

Lagipula menurut Kelsi, kedai kopi yang terletak di Jalan Lengkong Besar nomer 14 Bandung ini cozy untuk (kalau meminjam istilah kekinian) ngopi-ngopi cantique. Tipikal kedai kopi dalam film-film Hollywood. Kecil dan unik, serta terdapat di tepi jalan besar.

Kalau Kelsi sih memang suka dengan kedai kopi yang seperti ini. Rasanya ajaib, seperti penuh sihir.

Cafea
Cafea, kedai kopi minimalis dan unik di Bandung. © Kelsi Sawitri

Ya, Cafea termasuk minimalis, ada sekitar lima meja dengan empat kursi untuk setiap meja (kalau kepepet sih bisa juga untuk 6 orang hehe…). Tidak lupa, ada juga bar. Jika ingin lihat bagaimana secangkir kopi diracik, sitting on the bar would be nice.

Dari segi ruangan, konsepnya semi outdoor, karena sebenarnya ada di luar ruangan yang diberi atap. Karena itu, secara tidak langsung Cafea menyediakan smoking-area untuk pelanggannya. Sirkulasi udaranya sangat lancar sehingga pelanggan yang tidak merokok tidak akan begitu terganggu.

Mengenai desain, Cafea dibuat manis, dan klasik. Interiornya didominasi nuansa tanaman rambat, lukisan, furnitur kayu, dan bata merah. Classic and classy at the same time. Belum lagi meja di kolong langit (alias tanpa atap), yang mejanya baru akan tersedia mendekati malam. Maklum, kedai kopi ini biasanya akan ramai kalau sudah malam.

Ya, kedai kopi yang berdiri sekitar Februari 2014 ini buka sejak siang hingga dini hari. Walaupun seringkali memilih menomersatukan pelanggan yang sedang asyik mengobrol, dan memaksa Cafea tutup ketika pelanggan terakhir sudah pulang.

Hal ini disebabkan Mas Harry ingin mengembangkan budaya ngopi melalui kedai kopinya. Di mana dari secangkir kopi, pelanggannya dapat bersosialisasi dan bertemu dengan orang baru, lalu saling berbagi cerita.

Bahkan Mas Harry sendiri tidak ragu untuk berbaur dengan pelanggannya. Berbagi banyak cerita mengenai Cafea serta asal-usulnya, juga mengenai kopi. Mas Harry bilang, topik obrolannya dengan pelanggan begitu beragam, dari yang ringan hingga berat, mulai dari masalah keluarga hingga ranah politik dan pemerintahan.

Sayangnya Kelsi tidak begitu mengerti mengenai politik dan pemerintahan, waktu itu kami hanya berdiskusi mengenai Cafea dan kopi saja. Mas Harry bercerita banyak mengenai kopi dan brewing-nya.

Cafea
Dapat salam dari double espresso kopi aceh takengon yang memberi impresi asam di awal, disusul rasa pahit yang lama di mulut, namun tidak meninggalkan bekas-bekas rasa pahit nantinya. © Kelsi Sawitri
Cafea
Harga yang terjangkau membuat Cafea jadi jujugan mahasiswa dan pelajar. © Kelsi Sawitri

Sebenarnya di Cafea ada manual brewing, tetapi tidak tertera pada menu. Jadi, bagi para penggemar kopi yang ingin menikmati single origin dengan manual brewing bisa langsung pesan ke barista.

Hal menarik lainnya dari Cafea, kopi di sini ada yang dipetik langsung oleh Mas Harry (yaitu kopi yang berasal dari daratan Jawa Barat). Jadi, kopi di sini ditangani langsung sejak dari pemetikan green bean hingga cupping untuk pelanggan. Untuk kopi-kopi lainnya, juga dibeli dalam bentuk green bean, yang nantinya akan dilakukan roasting, grinding, brewing, hingga cupping di sini. Inilah yang membedakan Cafea dengan kedai kopi lain (yang rata-rata membeli biji kopi yang sudah di-roasting).

Belum lagi, barista di Cafea, selain mahasiswa yang bekerja paro waktu, ada juga yang berasal dari Pangalengan, tempat biji kopi dipetik. Secara tidak langsung, Mas Harry ingin mengajak belajar warga dari tempat penghasil kopi dan menyajikannya ke konsumen.

Begitu jauh Kelsi cerita mengenai kopi, sampai lupa bilang kalau selain kopi, Cafea juga menyediakan menu makanan dan minuman lain yang harganya terjangkau oleh mahasiswa, bahkan murid sekolah menengah, dengan kisaran harga Rp 10,000 – Rp 25.000.

Kelsi Sawitri

Penyuka kopi (dan pisang goreng). Mahasiswi semester terakhir di jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Kedai kopi kecil dan hangat gini nih yang saya suka. Terimakasih atas ulasannya, Kelsi. Wiken ini saya melipir ah…

    • Akhirnya sudah jadi melipir ya, Kak? *P.S: Baru baca komennya*