Café of Lifestyle

Black Canyon Coffee
Desain interior yang elegan. © Eko Susanto

Gaya hidup merupakan salah satu elemen yang melekat dalam ngopi. Bagaimana kita memilih tempat, memesan satu atau dua menu, sampai keluar dari tempat ngopi adalah jalin-kelindan pemaknaan terhadap diri kita sendiri. Sebagian menyukai dan nyaman jika berada di tempat lengang, sebagian lagi lebih comfort saat di tengah keramaian. Preferensi tersebut adalah salah satu aspek yang membuat ngopi, menjadi tak cuma sekedar meminum kopi.

Saya telah lama merasakannya. Bahwa ngopi tak lagi sekedar meminum cairan hitam yang mengandung kafein. Salah satunya adalah ketika saya masuk ke dalam Black Canyon.

Black Canyon bukan tempat ngopi ‘biasa’. Terletak di kawasan padat mahasiswa kelas menengah, Jalan Babarsari, Catur Tunggal, Black Canyon menawarkan tempat berlevel eksekutif untuk menghilangkan penat atau mengisi jadwal lengang Anda.

Dengan interior yang didesain nyaman dan jarak antar set-meja yang tidak berdekatan, kesan elegan langsung muncul dengan kuat. Di lantai satu, ada sekitar sepuluh set meja-kursi dan 5 buah sofa. Saya terkesan saat pertama kali masuk, kesan berkelas langsung memadati benak saya. Ada 4 meja di lantai 1 yang terisi waktu itu. Saya memilih kursi di tengah, sehingga bisa dengan leluasa memandangi keseluruhan ruangan.

Lantai dua, deretan meja dan kursi diatur sedemikian rupa sehingga tak nampak sama sekali ada kesan berjejalan. Semuanya begitu rapi dan classy. Ada juga smoking room khusus yang langsung berhadapan dengan panorama Jalan Babarsari yang terkenal tak pernah mati. Untuk yang barangkali menggemari melamun sambil merokok, tempat ini adalah pilihan utama.

Seorang perempuan berpakaian hitam dengan ramah mendatangi saya setelah usai memilih tempat duduk. Ia memberikan buku menu yang cukup tebal. Setelah melihat-lihat, saya putuskan memesan mocha.

* * *

Black Canyon Coffee
Jarak antar kursi memberi privasi dan nyaman. © Eko Susanto

Black Canyon Coffee (BCC) adalah merek waralaba dari Thailand. Sedang Yogyakarta merupakan salah satu dari 13 kota di Indonesia yang memiliki kafe Black Canyon. Selain Yogya, BCC telah hadir di Jakarta, Semarang, Denpasar, dan beberapa kota lain. Bahkan di Bali, daerah pertama kali BCC muncul, sekarang telah ada 4 gerai BCC.

“Mulai konsep interior, warna dan aksen sudah ditentukan sama pusat, mas. Bahan-bahan, saos, ambil langsung di Bali, kantornya di Indonesia, ” tutur Aditya Kurniawan, salah satu supervisor Black Canyon yang menemani saya nongkrong malam itu.

Mata saya lalu tersedot ke tulisan yang terpampang di salah satu sudut kafe. “A drink from paradise, available on earth,” dengan secangkir kopi hitam pekat di bawahnya. “Sebuah minuman dari surga yang tersedia di bumi,” begitu kira-kira terjemahannya. Adit, sapaan pria ini, lalu beranjak dari tempat duduknya. Seperti mengerti apa maksud saya, ia datang kembali membawakan sebungkus kecil kopi.

Ia lalu memberikan bungkus kecil berlabel Black Coffee itu kepada saya, “Ini yang kita pakai, mas. Ukuran 14 gram.”

Selain mocha, menu yang menarik dan menjadi andalan BCC Raflesia (sebutan untuk BCC Yogya) adalah Black Canyon Hot Coffee dan Espresso. Cara penyajiannya pun benar-benar memanjakan para pengunjung. Setiap pemesanan hidangan yang berbahan dasar kopi, seperti Mocha yang saya pesan, akan mendapatkan bonus Jasmine Tea.

Adit menjelaskan bonus Jasmine Tea untuk konsumen ini. “Untuk penawar, mas. Supaya gak terlalu keras di sini (lalu ia memegang pangkal tenggorokannya). Jadi untuk yang gak suka ngopi tapi pengen nyoba, gak perlu khawatir akan merasa gak nyaman di mulut,” tuturnya.

Selain kopi, BCC Raflesia juga memiliki beragam menu makanan. Tentu saja yang menjadi andalan adalah sajian ala Thailand.

Seperti Tam Yum Gaong yang mendapat label sebagai racikan makanan terbaik di Thailand. Menu ini adalah gabungan antara pasta dan sup udang, dengan kuah berwarna merah terang yang memancarkan aroma pedas. Sudah terbayang bukan lezatnya?

* * *

Black Canyon Coffee
A drink from Paradise...available on earth. © Eko Susanto

Sejak didirikan pada 3 Mei 2012, BCC Raflesia mendapat respon yang baik dari konsumen. Terutama malam hari. Untuk terus menjaga dan memantapkan nama di hati para konsumen, BCC Raflesia mengadakan Klinik Tarot tiap selasa jam 20.00. Klinik ini diasuh oleh JR Winarno, nama yang tak asing lagi di kalangan para penggemar Tarot.

Kalau ingin berkunjung pada Jumat malam, pengunjung akan mendapatkan bonus gelaran Saksofon akustik. Sedangkan untuk malam minggu yang menjadi titik paling ramai pengunjung, BCC Raflesia menyajikan penampilan pemain elekton dengan lagu-lagu yang akan tampil menemani para konsumen.

Adit sendiri mengakui jika para konsumen yang datang didominasi oleh mahasiswa. Ia bahkan juga mengakui, jika BCC Raflesia bisa dikatakan ‘meleset’ dalam penetapan segmen pasar yang dibidik.

“Awalnya pasar kita keluarga. Tapi semakin ke belakang semakin banyak mahasiswa yang nongkrong. Kaum muda menengah ke atas,” akunya.

Adit benar, saya merasakan ketika duduk di kafe ini. Banyak meja yang diisi oleh wajah-wajah muda dan segar. Di lantai ini, hanya ada 2 meja yang terisi oleh para paruh baya. Pelanggan di meja tersebut sedang berbicara serius satu sama lain. Di lantai 2, lebih banyak meja yang terisi. Seperti kata Adit, kaum muda menengah ke atas pula yang banyak mengisi meja di lantai 2 tersebut. Meskipun, saya melihat juga masih banyak meja yang tidak terisi.

Adit buka suara, “Kita masih akan genjot promosi, mas. Kalau siang gak ada acara, di sini cenderung sepi. Makanya itu kita akan terus dorong promosi. Salah satunya, kita banyak kerja sama dengan bank dan satu kerja sama bareng travel. Kita kasih diskon untuk konsumen mereka juga.”

* * *

Black Canyon Coffee
Black coffee from Black Canyon Coffee. © Eko Susanto

Nongkrong di kafe, memesan secangkir kopi atau menu lainnya, perlahan telah menjadi aktivitas yang terus-menerus dilakukan oleh banyak orang. Ini terjadi di semua level usia dan kapasitas finansial.

Setiap kafe, salah satunya BCC Raflesia, barangkali telah menetapkan segmen yang ingin disasar. Yaitu keluarga. Dengan menampilkan pelayanan berkelas khas restoran atau hotel yang telah mapan, BCC malah memperluas sayapnya ke hati para mahasiswa menengah ke atas.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Arys Aditya

Penerjemah lepas dan sampai sekarang bergelut di Kelompok Belajar Tikungan Jember, Jawa Timur.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405