Café Galanga, Potongan Cerita Roman Seorang Koki Prancis dan Nelayan Bali

Saung-saung lesehan yang dipisahkan taman ala Bali, dan rumah pasangan pemilik di belakang pintu bambu
Saung-saung lesehan yang dipisahkan taman ala Bali, dan rumah pasangan pemilik di belakang pintu bambu | © Fransisca Agustin

Manusia lahir, hidup, lalu mati. Di antara masa-masa itu, berceceran jejak mimpi yang patah tumbuh hilang berganti. Kehidupan nyata tentu tak sama dengan fantasi. Hidup orang lain yang kita kira sempurna, belum tentu betul mereka nikmati sebagai dream come true. Bisa jadi mereka membayangkan fantasi kebahagiaan dengan orang lain, di tempat lain.

Hidup kami tak pernah kekurangan. Jauh dari kelaparan. Itu berkat kakek nenek kami yang kerja sangat keras dan hemat luar biasa. Tapi ada dampak lain. Tak ada kehangatan di rumah. Hanya ada kegelisahan yang menempel erat di pori-pori dinding dan urat nadi. Terlalu terbiasa berlari-lari dikejar cemas tak punya apa-apa dan siapa-siapa, sampai lupa berhenti melihat matahari, lupa tersenyum meresapi sinar hangatnya menimpa pipi.

Ya, saya tidak bisa menikmati waktu bersama keluarga. Merasa berbeda, dan selalu dihakimi. Orang lain mungkin memandang berbinar pada saya, berpikir saya berhasil meraih cita-cita. Cita-cita mereka. Tapi keluarga selalu menjadi yang paling depan mencari kekurangan. Mereka meyakini, itu bagus supaya saya tidak sombong dan selalu berusaha menjadi lebih baik.

Sudah puluhan tulisan saya yang dimuat. Sekian kali masuk koran dan televisi. Beberapa kali mendapat kesempatan diajak kolaborasi dengan seniman yang saya kagumi dedikasinya. Semua tak lagi saya ceritakan pada keluarga. Ah… Anda pun akan sampai pada titik ini, jika setiap kali Anda menceritakan kebanggaan Anda pada keluarga, pertanyaan pertama mereka adalah: Dibayar berapa?

Sejak bisa mandiri secara finasial, saya pergi berlibur sendiri. Mencari orang dan tempat yang hidup seperti dalam fantasi saya. Selama mungkin akan saya hirup dunia mereka, sampai tiba waktunya saya kembali pada kenyataan. Pulang dengan lunglai (tapi menyimpan kenangan jejak mimpi) dan menghitung hari untuk bisa ke sana lagi.

Amed, Bali Timur. Hamparan pasir hitam Gunung Agung, memanjang. Berjajar penginapan dan tempat makan, tapi tak seramai Kuta. Sengaja saya pergi sebelum libur Lebaran. Saya ingin sepi. Burung dan ikan tak akan cerewet bertanya, berapa penghasilanmu bulan ini. Saya berenang tanpa pelampung, belajar pasrah tak melawan jika ombak menghadang, dan kembali mengayuh di antara jeda gelombang—sama seperti di kehidupan nyata. Seekor penyu melintas, berenang melayang seakan tak perlu tenaga. Matahari masuk ke permukaan air bagaikan pisau-pisau cahaya.

Siang itu takdir menuntun saya ke Café Galanga. Galanga. Lengkuas. Melihat bagian depannya, hati saya tersangkut. Batang bunga markisa merah menaungi petak parkiran. Saung-saung lesehan dari tiang bambu dan atap rumbia, dipisahkan jalan setapak dari irisan bongkah batu. Di tiap sisi dan sudutnya, penuh daun palem, puring, hanjuang, dan pisang-pisangan. Pohon pepaya, mangga dan alpukat. Juga jahe dan lengkuas. Taman tradisional Bali.

Seorang perempuan berambut madu masuk ke dalam pintu bambu di belakang. Dialah pemilik café ini. Chef dari Prancis yang jatuh cinta pada seorang nelayan yang gagah dan tampan. Baru setahun mereka mendirikan tempat ini. Rumah mereka, bergaya Sasak dengan teras lebar di bawah. Ada meja dan kursi tinggi, dengan vas bunga dari taman. Dalam fantasi saya, di sanalah mereka bercengkrama di malam hari sambil minum racikan dan kudapan istimewa, ditemani alunan musik Andalusia. Di sekitar rumah mereka, terlihat barisan pohon kelapa, sirsak, dan nangka. Seekor ayam betina melintas dengan barisan anaknya yang menciap-ciap. Ah… seperti potongan dalam novel roman.

Kami memesan salad, burger tempe dan ikan bakar, juga jus mangga dan kopi hitam. Anak perempuan pasangan itu berlarian ke tempat kami, lalu sembunyi di bawah meja sebelah. Manis dan tembem, dengan rambut warna coklat tua yang dikuncir. Memanggil-manggil anjing kampung peliharaan dengan bahasa bayi, lalu menarik-narik ekornya. Anjing itu melarikan diri, tapi tidak marah. Kami tertawa.

Salad saya datang. Selada, zucchini, terung ungu, tomat, dan buah zaitun. Ditabur potongan keju feta, lalu disiram saus lemon dan olive oil. Asam yang lembut, bercampur manis dan harum daun basil. Sedikit aroma dupa dari pilar sajen di depan meja. Suapan pertama… saya terpaku. Tiba-tiba tenggorokan saya tercekat. Mata panas dan mengembun.

Salad selada, terung, tomat dan buah zaitun, bertabur keju feta
Salad selada, terung, tomat dan buah zaitun, bertabur keju feta | © Fransisca Agustin
Burger tempe, dengan roti dan saus mayonnaise buatan sendiri
Burger tempe, dengan roti dan saus mayonnaise buatan sendiri | © Fransisca Agustin
Barracuda dengan saus santan kunyit, dan ubi oranye panggang
Barracuda dengan saus santan kunyit, dan ubi oranye panggang | © Fransisca Agustin

Saya baru mengerti, apa yang dirasakan tokoh Anton Ego yang penuh dendam, ketika menyantap Ratatouille. Hanya bedanya, yang saya tangisi bukan kenangan masa kecil, melainkan kenangan fantasi. Tapi ini tangis bahagia. Ya, meskipun hanya ilusi mimpi sekejap.

Saya menghirup napas seperti orang habis tenggelam. Waktu serasa berhenti.

Burger tempe dan ikan panggang datang. Roti burger dan saus mayonnaise buatan sendiri. Siraman santan kunyit dengan rasa gurih yang pas di atas irisan barracuda panggang. Jika ingin lebih asin, ada saus mustard kari di wadah mungil. Ada ubi oranye panggang sebagai pengganti kentang goreng. Semua disajikan di atas piring tradisional, berlapis daun pisang. Cara mereka menata… ah. Membuat terharu. Sangat terlalu indah kualitas bentuk dan rasanya, dibandingkan harganya.

Saya makan dengan sangat lambat. Tak ingin segera berakhir dan pulang ke kehidupan nyata. Ingin sekali saya mencicipi es krim buatan mereka (ada rasa sirsak, pisang dan jeruk nipis!), tapi saya sungguh kekenyangan. Saya menutup mata, sambil mencecap jus mangga arumanis. Bernapas dalam-dalam…

Tahun depan saya pasti akan kembali.

Fransisca Agustin

Pemusik kuli yang masih terus berusaha menggabungkan antara jurus-jurus Kungfu Hustle dengan David Foster.