Cafe Baca atau Kopi Barca?

Mas, kalo boleh saran, ditambahin layar buat nobar bola dan film-film hitz jaman now dong tempatnya,” ujar salah satu pelanggan saya kemarin.

Dalam urusan tempat, meski tidak begitu luas, banyak pelanggan saya yang mengatakan tempat saya lebih dari cukup untuk dikatakan nyaman: berpendingin ruangan, bebas selancaran di dunia maya, mainan banyak, kartu buat judi ada, barista (saya sendiri tentunya) available buat diajak ngobrol atau curhat, diajak jalan juga gak akan nolak. Harga? Mahasiswai (jika tidak disebut manusiawi).

Lantas kenapa saya tidak menuruti arah kebanyakan pelanggan saya yang mayoritas mahasiswa? Biasanya saya katakan ini dengan nada lembut kepada raja-raja di tempat saya. Tapi, berhubung saya agak sedikit emosi karena masih banyak yang belum mengerti, saya mohon izin untuk meluapkan emosi di sini.

Para raja-raja sekalian yang terhormat, ketika memilih tempat saya sebagai tempat ngopi, apa kalian tidak sempat membaca neon box di depan kedai? Apa judulnya? Ya, benar. Anda belum membaca tulisan tersebut. Di sana tertulis Café Baca Canarisla, Coffee and Book. Para raja sekalian paham akan maksud dari tulisan coffee and book?

Kopi dan buku. Simpel banget kan? Kopi ya kopi yang biasa kita semua minum. Dari yang bentuknya sachet, botol, bubuk, biji, cair, hingga yang sering disajikan ibu kepada ayah setiap hari sebelum berangkat kerja. Pokoknya kopi. Terserah raja ingin menikmati seperti apa, ditambah gula, susu, sirup, dengan rasa yang kental atau lebih encer. Pokoknya terserah, raja mah bebas. Kita babu nurut saja.

Nah, unsur kedua ini kids jaman now saya rasa sudah kehilangan esensinya. Buku. Itu loh yang bentuknya persegi panjang dan sering dipake di sekolahan. Yang kalo dimasukkan ke tas bikin berat ngaujubillah, apalagi jika full day school benar akan diterapkan. Bukan yang bentuknya persegi panjang dan sering dimasukkan ke dalam kantong kemeja atau celana. Itu duit namanya.

Jika boleh jujur, belum pernah saya temui tempat ngopi di sekitar Soloraya yang mengusung konsep kopi dan buku dan beneran nyaman buat baca buku. Beda dengan kota Jogja yang katanya berpendidikan itu. Kalo judulnya kopi dan buku, ya minimal ada rak beserta koleksi bukunya. Pun tempatnya tidak remang-remang macem warung pinggir jalan di Pantura.

Keresahan inilah yang mendorong saya untuk membuat sebuah tempat ngopi dengan konsep buku dan nuansa ideal untuk membaca. Bukan cuma selfie sama buku terus ditaruh lagi di rak kemudian pamer sama mantan sekarang sudah rajin baca.

Salah satu pelanggan Kafe Baca tengah membaca buku
Salah satu pelanggan Kafe Baca tengah membaca buku | © Muhammad Yusuf Canarisla

Eh lah, kok setelah setahun buka yang saya dapati malah lebih banyak permintaan nobar Liga Champions bukan diskusi buku. Ini yang salah siapa sebenarnya? Kok jadi saya yang bingung sekarang.

Maksud saya, membuat café baca itu kan agar ketika kita yang sedang jengah dengan kepadatan jadwal di kampus, bisa sambil ngopi dan ngopinya berfaedah. Seperti mengerjakan tugas, diskusi buku, atau mempersiapkan pergerakan meruntuhkan kekuasaan.

Memang perlu diakui, kopi (single origin) dan buku bukanlah seuatu yang bersifat pokok bagi masyarakat negeri ini. Kalo sekadar ngopi, mereka pasti memilih kopi sachetan. Tidak masalah rasanya enak atau tidak, wong kebanyakan kopinya terintegrasi dengan rasa gula. Kalo ada Mas Pepeng Klinik Kopi mungkin sudah diomeli pula mayoritas peminum kopi di negara ini.

Salah satu sajian kopi Cafe Baca Canarisla
Salah satu sajian kopi Cafe Baca Canarisla | © Muhammad Yusuf Canarisla

Hal lain yang paling meresahkan adalah buku dianggap bukan sesuatu yang pokok di antara kita. Jika bukan golongan terpelajar, jarang sekali ada masyarakat yang menganggap buku itu penting.

Namun analisis saya yang terakhir sepertinya juga kurang tepat. Kenapa? Lha wong café baca saya saja banyak yang minta nobar, padahal lokasinya ada di sekitaran kampus yang secara kultur adalah mayoritas golongan terpelajar.

Jadi, sebenarnya apa yang dibutuhkan mahasiswa zaman now? Sekadar budaya pop ataukah karakter yang kuat? Saya mohon masukan pemirsa sekalian sebelum saya beralih menjadi Kopi Barca khususon penggemar klub Barcelona yang doyan ngopi.

Muhammad Yusuf Canarisla

Berharap jadi barista dan penulis sungguhan.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405