Buruh-Buruh Pabrik dengan Kopi Gelas Plastiknya

Para buruh tengah mendiskusikan langkah advokasi perihal kasus PHK
Para buruh tengah mendiskusikan langkah advokasi perihal kasus PHK | Sumber: Facebook.com – Carlie Yuanli

Segelas kopi dengan wadah terbuat dari plastik, sajian hangat bagi para buruh-buruh pabrik. Katanya jika air panas yang disajikan dalam gelas plastik, berpotensi menimbulkan penyakit kanker bagi orang yang meminumnya. Entah apakah buruh-buruh pabrik itu mengetahuinya atau tidak, namun mereka menikmatinya dengan hangat. Katanya pula, kebahagiaan dan kebebasan dari rasa stres menjadi lawan yang berat bagi kanker untuk hidup dalam tubuh.

Sebatang dua batang rokok kretek yang menjadi teman minum kopi adalah hal yang lumrah pada umumnya. Katanya pula, rokok menyebabkan kanker. Artinya si buruh-buruh pabrik itu berpotensi dua kali lipat untuk terkena kanker. Namun sekali lagi, bagi mereka, rokok yang diisap membuat mereka merasa rileks, terlepas dari penat, dan menghilangkan stres.

Jangan bayangkan mereka menikmati kopi dalam lingkaran meja dan ruangan ber-AC dengan varian kopi arabika atau robusta khas dari penjuru nusantara. Kopi yang mereka nikmati hanyalah kopi saset yang rasa manisnya cenderung berlebih. Jika tak ingin terlalu manis, biasanya mereka meminta tak terlalu lama diaduknya.

Di depan pelataran pabrik, di meja warung-warung kelontong yang tak seberapa banyak menampung orang, sudah menjadi tempat yang paling mewah bagi mereka. Jumlah kursi yang tersedia tak mampu menampung ratusan atau ribuan buruh pabrik yang ingin menikmati kopi di sela jam istirahat.

Jika memang tak ada lagi tempat yang tersedia, biasanya mereka tak ragu meletakan kopi di jalanan, atau trotoar sembari jongkok melingkar. Duduk jika ada beralas koran, sobekan kardus, atau duduk tanpa alas apapun. Mungkin karena celana telah dikenakan beberapa hari, sehingga tak masalah jika kotor, toh nanti sepulang kerja celana akan masuk ke keranjang cucian kotor.

Para buruh tengah mendiskusikan langkah advokasi perihal kasus PHK
Para buruh tengah mendiskusikan langkah advokasi perihal kasus PHK | Sumber: Facebook.com – Carlie Yuanli

Apa yang mereka perbincangkan dalam lingkaran itu? Selayaknya pula para buruh di perkantoran yang menikmati kopi dalam sebuah ruang mewah, bersih, dan nyaman. Perihal pekerjaan adalah topik yang tak akan pernah luput dalam perbincangan di antara gelas-gelas kopi. Kadang kala juga berisikan curahan hati tentang kondisi di rumah, sekolah anak, dan keluhan-keluhan lain yang mereka lepaskan dalam lingkaran itu. Tak luput tentunya cerita seru tentang tayangan sepakbola.

Sedikit berbeda topik bahasan bagi sebagian buruh-buruh yang aktif berorganisasi di serikat pekerja. Sudah barang tentu pembicaraan yang muncul seputar kasus-kasus yang tengah terjadi, lalu bagaimana kiranya cara penyelesaiannya, sedikit berkaca pada pengalaman penanganan kasus di masa lalu. Kadang kala juga melebar membicarakan tentang politik, pemerintah, dan negara. Bagaimana seharusnya negara bekerja, bagaimana seharusnya pemerintah bersikap adil, atau sedikit berandai-andai jika menjadi presiden maka akan ini dan itu.

Pada forum informal, kadang kala gagasan-gagasan brilian kerap muncul. Bermula dari “obrolan warung kopi,” begitu biasa orang menyebut. Entah apakah karena mereka memang orang-orang cerdas, sekadar ceplas-ceplos, atau kopi dan rokok telah membantu mereka untuk dapat berfikir lebih brilian ketimbang biasanya.

Cerita buruh dengan kopi plastiknya dahulu juga terjadi di depan Istana Negara. Setelah longmarch dari Bundaran Hotel Indonesia, sesampainya di Istana Negara, mereka lantas duduk bergerombol. Memesan kopi keliling yang disajikan dalam gelas plastik oleh orang-orang dengan sepeda. Sesekali mereka mengangguk-anggukan kepala jika mendengar orasi para pimpinannya di atas mobil komando, lalu kembali lagi bercerita ngalor-ngidul.

Namun pemandangan itu tak akan ditemui lagi saat ini, para pedagang — baik pedagang kopi, air mineral, rokok, atau makanan — telah dilarang berada di jalan protokoler, terlebih di depan Istana Negara. Jika ingin menikmati kopi, mereka harus berjalan lagi ke warung kopi yang terletak dalam area Monumen Nasional, tak jauh dari tenda-tenda aparat polisi. Pemandangan menarik lain akan terlihat, ketika di depan para bapor — sebutan para buruh yang berada di barisan aksi paling depan — dengan polisi saling berhadapan, di warung kopi itu polisi dan buruh antri bergantian memesan kopi.

* * *

Menyarankan pada mereka untuk menikmati kopi dari belahan Nusantara, sepertinya bukanlah saran yang tepat untuk disampaikan pada buruh-buruh pabrik itu. Kopi 200 gram dengan harga Rp75.000 tak akan terjangkau bagi mereka. Jika dibelikan kopi gelas plastik yang hanya seharga 3.000-an perak, cukup untuk membeli sebanyak 25 gelas kopi-plastik.

Tak ada cita rasa kopi Nusantara dalam lidah mereka, bukan karena tak ingin, tapi mungkin tak terjangkau. Tak ada masalah seharusnya jika pada jaman di mana menikmati kopi Nusantara menjadi tren, mereka masih saja menikmati kopi saset di dalam gelas plastik. Walau kadang kala ledekan atas kopi saset yang mereka nikmati itu muncul dari mulut mereka sendiri. “Kopi rasa outsourcing” begitu biasanya mereka meledek kopi yang setiap harinya mereka sruput.

Bagi para buruh, bukan cita rasa kopi yang menjadi persoalan pentingnya, melainkan bagaimana rekan-rekan mereka sesama buruh yang bekerja di pabrik-pabrik yang memproduksi kopi saset itu berstatus kerja kontrak dan outsourcing. Sebuah sistem hubungan kerja yang mereka anggap tak berkeadilan, tanpa sebuah kepastian.

Hasil kerja setiap bulannya dipotong sekian persen oleh perusahaan outsourcing — penyedia jasa tenaga kerja — dengan kontrak kerja per tiga atau enam bulan. Kecemasan membayangi mereka jelang kontrak kerja selesai. Apakah kontrak kerja akan diperpanjang atau tidak. Jika tidak, jangan berharap mendapatkan pesangon, selesai begitu saja.

Mungkin ada juga yang berfikir jika mereka tak lagi meminum kopi saset dalam gelas plastik itu, maka ribuan buruh di pabrik kopi akan terancam pemutusan hubungan kerja. Mungkin dalam setiap gelas kopi plastik itu ada juga rasa solidaritas terhadap nasib sesama kaum buruh, walau mereka tak saling mengenal.

Mungkin perdebatan tentang keharusan menikmati kopi original tak perlu terlalu sengit dipertentangkan. Karena kadang kala menikmati kopi tak melulu tentang cita rasa, tapi juga tergantung pada kemampuan. Tak selamanya pula kopi saset dalam gelas plastik itu tak terasa nikmat karena suasana ketika meminum kopi juga memberikan pengaruh pada kenikmatan kopi. Jika tak percaya, cobalah sesekali menikmati kopi gelas plastik di pinggir jalan bersama para buruh-buruh pabrik.

Alfa Gumilang

Kretekus sehat, buzzer buruh dan tani | bisa disapa di @alfagumilang

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com