“Bunyu Menyeduh” dan Mereka yang Berkawan Karena Kopi

“Karena di setiap cerita berdirinya sebuah kedai kopi, selalu ada sisi yang kaya inspirasi”

Mengenal Bunyu (hanya) sebagai pulau yang sibuk dengan eksploitasi minyak, gas dan batubara, jelas tidak sehat. Risikonya besar dan beranak-pinak: otoritas pulau ini hanya akan tampak sibuk mengurusi pengerukan migas dan batubara lalu meniadakan kehidupan petani dan nelayan; penduduk pulau hanya akan tampak sebagai sekumpulan para penggila-kerja-garis-keras dari berbagai penjuru negeri yang cenderung individualis; masyarakat pulau hanya akan tampak sebagai sekumpulan manusia yang hidup dengan mengandalkan SDA karena iming-iming income tinggi. Ini pengebirian serius, bukan?

Anggapan secelaka ini tentu saja tidak benar. Juga tak sepenuhnya salah (eh maksudnya!) Sebagai salah satu pulau di barisan pulau-pulau kaya Kalimantan Utara, Bunyu tidak hanya punya migas dan batubara. Ada sektor pertanian, perikanan, kelautan dan sejenisnya yang juga menggiurkan. Bunyu tidak hidup hanya mengandalkan SDA. Ada lebih banyak dari masyarakatnya yang terampil dan kreatif. Bunyu tidak dihuni hanya manusia-manusia separuh robot atau para penggila kerja-garis-keras. Ada lebih banyak manusia yang menikmati hidup sederhana tapi tetap elegan; bekerja sepatutnya sembari merawat perkawanan, menyemai ide kreatif untuk kebaikan bersama. Dan ada lebih banyak yang merindukan aroma dan rasa ternikmat yang pernah ada (baca: hasil seduhan kopi asli). Bagian ini yang lebih penting.

Betah menghabiskan waktu sekian tahun di Pulau Bunyu, membuat Aul, Nur dan Keg hapal keadaan Bunyu di luar kepala. Tahu setiap detail yang terjadi, tiga sekawan ini menyadari ada hal yang perlu diperbaiki. Bagi mereka, untuk melakukan perubahan tak mesti berurusan dengan yang njelimet. Kita bisa memulainya dari kedai kopi. Ada banyak sisi menarik di sini.

* * *

Menjadi warga yang bersetia menghuni Kota Pulau (Tarakan), membuat saya lebih tertarik mengunjung pulau-pulau kecil lain di bagian utara Kalimantan. Selain karena saya dilahir-besarkan di sebuah pulau kecil di tengggara Sulawesi. Ada semacam solidaritas sebagai warga pulau di sini. Maka ketika diajak menghadiri acara launching sebuah kedai kopi di Pulau Bunyu, jelas saya terima dengan hati berbunga-bunga. Dan jujur saja, pengetahuan saya seputar Pulau Bunyu hanya secuil. Ada guratan-guratan kisah menarik di sana, sayang jika dilewatkan, pikirku.

Berangkat dari Kota Tarakan pukul 15.13, sampai di Pulau Bunyu pukul 16.05 Wita, dengan speedboat CB Rahayu. Launching seadanya dimulai pukul 16.30-an, tak ada yang formal-formal dan membosankan. Dimulai dengan doa bersama yang diimami Haji Umar Sinja, tokoh masyarakat. Lalu sambutan-sambutan dengan sepatah dua kata yang tak jarang ‘patah-patah’. Sambutan dari pemerintah setempat oleh Haji Lawang, Kepala Desa Bunyu Barat, mewakili Camat yang berhalangan hadir. Dari kru Bean Laden, oleh Ari (Asri Malik), seorang penggila karya fiksi juga barista handal. Meski separuh berlelucon, pesannya tetap elegan. Sembari menyaksikan performa dua barista handal Bean Laden (Asri dan Cempa), telinga para undangan dimanjakan live music di sudut kiri ruangan. Sejenak khusyu’ menyimak praktik olah suara Bela (bukan perempuan loh!), ada suara yang mirip-mirip penyanyi terkenal di sana.

Para undangan Acara Launching Kedai Kopi Bunyu Menyeduh
Para undangan Acara Launching Kedai Kopi Bunyu Menyeduh | © Rusman Turinga
Sambutan Kades Bunyu Barat
Sambutan Kades Bunyu Barat | © Rusman Turinga

Acara launching hari ini (04/08/2017) dihadiri perwakilan beragam lapisan masyarakat pulau Bunyu. Selain Kepala Desa Bunyu Barat, juga hadir Kepala Desa Bunyu Timur, perwakilan TNI AL, Asosiasi Nelayan se-Kecamatan Bunyu, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat dan pemuda, dan komunitas-komunitas. Dari jumlah surat undangan, sejatinya acara ini lebih ramai.

“Kami undang mereka ini pake surat, dan surat itu kami sortir baik-baik jangan sampai ada yang terlewat karena masyarakat Bunyu ini kekeluargaannya tinggi. Mungkin karena kesibukan, makanya tidak semua hadir,” jelas Keg setelah saya menculiknya untuk mengobrol di sela-sela kesibukannya.

Ba’da Isya, kedai kembali (lebih) ramai. Seat di halaman kedai pun terisi penuh. Beberapa komunitas dan kelompok anak muda yang baru bergabung tak kalah antusias. Hingga pukul 22.00, tak kurang dari 50 gelas kopi keluar, lebih banyak vietnam drip. Belum termasuk latte, produk yang sejatinya tidak masuk di list promo karena prosesnya tak sederhana. Terlanjur dipampang di surat undangan, banjir pesanan juga. Apa boleh buat. Dengan begini, siapa lagi kalau bukan barista yang masyaallah setengah mati? Bukan karena banyaknya pesanan, tapi karena antusias yang tak jarang kebablasan.

“Tadi banyak yang pesan, Mas pesan latte, capuccino, moccacino, dan espreso. Minta cepat yah. Kan luar biasa,” kenang Cempa sambil ngakak. Tapi rasa penasaran tetaplah harus dituntaskan.

* * *

Yah, namanya ”Bunyu Menyeduh”, satu lagi kedai kopi yang lahir dari tangan-tangan muda kreatif. Bermula dari hobi ngopi di berbagai kota dan keingintahuan lebih banyak tentang kopi, Khaeruddin Elang Geo (bang KEG) terinspirasi mendirikan sebuah kedai di kampungnya.

“Ide dasarnya dari diskusi dengan Asri di Kedai Bean Laden. Kebetulan saya dengan dia punya banyak chemistry, sama-sama pernah di jurnalis dan sesama pengagum Messi. Dia banyak mendidik saya soal jurnalis dan kopi,” jelas alumni UNM ini.

Rencana mendirikan kedai kian mantap sejak bulan puasa lalu ketika Keg ditugaskan liputan di Bunyu. “Saat mau ngopi, kopi gak ada. Saya nelpon Asri minta kopi. Saya dikirimkan satu dos. Saya juga liat antusias warga di sini sangat bagus, mereka minta saya buka kedai. Saking maunya mereka ngopi, biar kopi kapal api kemasan pun jadi,” kenangnya.

Jurnalis yang juga penulis buku Pulau Bunyu: Kemarin, Hari Ini dan Esok (Sejarah yang nyaris terlupakan) ini makin tertarik belajar tentang kopi. Belajar tentang kopi dari “om google” hingga pakar sekelas (alm) Dr Lutfi Bansir, pakar kopi dan durian di Kaltara. Singkat cerita, Bang Keg kemudian berdiskusi panjang lebar dengan Bang Aul dan Bang Nur. Berbekal pengetahuan dan pengalaman minim di dunia perkopian, mereka bersepakat mendirikan kedai, dan akhirnya dapat tempat yang cukup strategis. Satu tempat yang awalnya sudah dijadikan rumah makan oleh pemiliknya.

Seperti Bang Keg, Bang Nur juga fakir pengalaman soal perkopian. Tapi satu hal yang membuatnya yakin, bahwa kedai ini akan menjadi rumah inspirasi bersama untuk sesuatu yang mungkin bermanfaat untuk masyarakat Pulau Bunyu. Sekian tahun menggeluti dunia pemberdayaan masyarakat, mengokohkan keyakinannya bahwa membangun dan merawat pertemanan dengan siapa pun itu penting. Dari kedai ini, ia ingin merangkul semua orang dari berbagai lapisan masyarakat. Dari komunitas pemuda seperti Bunyu Kreatif, Dorang Peduli Bunyu, Vespa, Bunyu Shooting Club, Radio Antar-Penduduk Indonesia, pemerintah setempat hingga para pekerja (nelayan, petani dan karyawan PERTAMINA dan LAMINDO) di Bunyu. Dia ingin menghilangkan kesan negatif tentang nongkrong .

“Apa yang membuat orang datang ke sini, bagi saya sederhana, inspirasi. Selain penasaran dengan rasa kopinya. Kami terbuka untuk saran kritik baik untuk kedai ini, maupun untuk Bunyu,” jelasnya.

Sebagai cabang pertama kedai Bean Laden—Bang Asri lebih nyaman menyebutnya “mitra usaha”—kedai Bunyu Menyeduh awalnya akan diberi nama “Bean Laden” Bunyu. Atas saran Bang Asri, “Bunyu Menyeduh” yang dipilih meski tetap diikuti nama “Bean Laden”. Jadinya, Bean Laden (Bunyu Menyeduh) atau Bunyu Menyeduh (Bean Laden).

“Nama Bean Laden sudah terlanjur melekat dengan Kota Tarakan. Bean Laden kan hanya satu, supaya orang tidak bingung liat ada Bean Laden di Bunyu, kami coba cari nama lain,” kata Bang Keg. Pemilihan nama “Bunyu Menyeduh” juga bermaksud mempertahankan nama Bunyu sebagai ciri khas yang kelak menjadi ikon kebanggaan masyarakat Bunyu.

Para Pendiri Kedai Kopi Seduh Manual Bunyu Menyeduh
Para Pendiri Kedai Kopi Seduh Manual “Bunyu Menyeduh” | © Rusman Turinga
Demo Produk Kedai Bunyu Menyeduh
Demo Produk Kedai Bunyu Menyeduh | © Rusman Turinga

Dibandingkan kedai lain di seantero Kaltara, bentuk kedai Bunyu Menyeduh boleh jadi tampak urakan. Penataan ruangan pun boleh jadi menyalahi kaidah artistik manapun—Bang Keg dkk sebenarnya tidak mau pusing soal konsep dekorasi yang ribet-ribet, kru dan para relawan yang menawarkan diri dibiarkan berkreasi dengan idenya. Tapi melihatnya lebih dekat kita akan menemukan sesuatu yang lebih bermakna: ada jejak tangan-tangan kreatif berbakat di sana.

Tangan-tangan yang bekerja sukarela demi kenyamanan para penikmat kopi. Dari bar, meja hingga kursi yang tampak sederhana tapi elegan itu terbuat dari kayu-kayu limbah perusahaan. Separuh dinding kedai adalah barisan kayu-kayu merah gelondongan, dan di situlah karya-karya kreatif lainnya dipajang: beberapa lukisan dan figura. Tak kalah penting, persis di tengah ruang kedai, terdapat satu rak sederhana berbahan kayu, berisi sejumlah buku dan koran tersusun rapi. Bukunya boleh dibaca atau dibawa pulang. Tapi (sebaiknya) jangan hilang.

Kini, Bunyu Menyeduh pun hadir, menjawab panggilan mereka yang ingin menikmati kopi seduh manual. Mereka yang penasaran sebab selama ini terbiasa menikmati kopi sasetan. Terletak di Jl Metanol, RT 02, Desa Bunyu Barat, Kecamatan Bunyu, Kabupaten Tanjung Selor, Provinsi Kalimantan Utara. Lengkap bukan? Kalau masih kesulitan, cari saja gedung material milik PT. PERTAMINA, sekitar 400-an meter dari pelabuhan Pertamina. Untuk para petualang cita rasa kopi, kedai ini boleh jadi tak mampu menggenapi ekspektasi terliar dalam rasa dan aroma kopi. Tapi dapat menjadi pilihan tepat untuk ngopi. Satu hal pasti, kedai ini memiliki sesuatu. Sesuatu yang dapat membuat para jamaah kafein selalu menemukan alasan yang tepat untuk berkunjung.

Bunyu Menyeduh sangat pas buat mereka yang mau ngopi sembari berdiskusi, atau sekadar melepas penat setelah seharian bekerja. Apapun kategori sosialnya. Soal harga, segelas kopi vietnam drip sama dengan di Kedai Bean Laden, Rp 15 ribu. Mungkin akan terasa mahal bagi yang terbiasa dengan kopi saset seharga Rp 5 ribuan. Supaya tidak terjadi unjuk rasa karena harga, kru kedai sudah mengantisipasinya: kopi seharga Rp 15 ribu satu paket kue Mallita Brownies.

Sebagai kedai kopi seduh manual pertama di Pulau Bunyu, Bang Keg, Bang Aul, dan Bang Nur berharap Bunyu Menyeduh kelak menjadi ikon yang membuat semua orang Bunyu merasa memilikinya. Jika lahir ide-ide terbaik untuk Bunyu, mereka ingin itu bermula dari kedainya. Kedai ini pun dapat digunakan untuk kegiatan tertentu misalnya meeting atau merayakan ulang tahun.

Saya melihat ada upaya mengedukasi di sini. Selain menikmati segelas kopi, pengunjung bisa menyaksikan langsung teknik seduh manual, belajar tentang biji-biji kopi atau apapun soal dunia kopi. Untuk komunitas-komunitas anak muda, kedai ini pun menjadi pilihan tepat. Selain harga kopinya yang masuk akal, kedai ini menyediakan semacam jasa konsultasi gratis seputar dunia organisasi, komunitas atau sejenisnya. Bang Nur dengan senang hati siap mewakafkan jasanya .

* * *

Menyaksikan dari dekat acara launching kedai ini adalah pengalaman begitu berharga, yang kian menguatkan keyakinan saya pada satu hal: setiap orang punya kisah menginspirasi, dan kisah menginspirasi itu sering datang dari mereka yang berkawan karena kopi. Orang-orang seperti Bang Keg, Bang Nur, Bang Aul dan mereka yang berada di balik pendirian kedai ini adalah mereka yang akan selalu menginspirasi. Pada mereka kita perlu belajar banyak hal. “Barangkali, Tuhan menciptakan kopi agar kita semua bisa berkawan,” bunyi salah satu hiasan dinding kedai itu.

Terakhir, selain kopi dan inspirasi, ada hal spesifik yang memaksa saya kelak kembali mengunjungi kedai itu: seseorang dengan tatap mata yang lembut namun menggetarkan.

Rusman Turinga

Magang di PIKIR KALTARA, hari-hari ini suka hunting foto dan belajar kepo dalam narasi.