Buah Tangan Kampung Beo Raja Ampat Papua

Painemo (Wayag Kecil), Raja Ampat | © Annisa S. Wardah
Painemo (Wayag Kecil), Raja Ampat | © Annisa S. Wardah

Walau kini kau ada di Wakatobi
Yang jelas–jelas aku di Raja Ampat
Luasnya lautan memisahkan kita
Oh indahnya bercinta di Nusantara
(Asmara Nusantara – Budi Doremi)

“Kaka makasih e su jenguk adek manis ini, Sio kaka e,” begitu bunyi pesan kawan seusai saya dan kedua teman saya mengunjunginya. Namanya Annisa Sofia Wardah, setahun mengikuti program SM3T dan ditempatkan di Pulau Beo, kampung Beo, Raja Ampat–Papua Barat. Minggu lalu tepatnya dia mendarat di Tanah Jawa, dan sehari setelah kepulangannya itulah kami berkunjung.

Raja Ampat, siapa yang tidak kenal. Gugusan pulau Indah yang kata orang ibarat cuilan surga. Dan secara kebetulan ada teman yang baru saja pulang dari sana, sudah barang tentu kami korek cerita sedalam-dalamnya. Untung saja teman saya ini termasuk yang doyan cerita panjang lebar.

“Mau minum apa kah?“ Satu teman saya yang perempuan meminta teh, saya dan teman saya meminta kopi. Sejenak kemudian dia membawakan nampan berisi dua cangkir kopi dan dua gelas teh dengan seplastik balok yang belum kami tahu isinya.

“Apaan nih, Nis? Itu sagu, makanan pokok disana. Makannya harus dicelup ke kopi atau teh. Kalau enggak, keras dan susah makannya,” dia mulai bercerita.

Makanan Utama Masyarakat Raja Ampat, Sagu Batang | © Imam B. Carito
Makanan Utama Masyarakat Raja Ampat, Sagu Batang | © Imam B. Carito

Sagu memang menjadi makanan pokok di Papua. Ketersediaannya melimpah dan bentang alam menjadi faktor utamanya. Dari sagu ini masyarakat bisa mengolahnya menjadi beberapa jenis makanan. Sagu yang diolah menjadi bubur akrab kita sebut dengan nama Papeda. Dengan pemrosesan lanjut menggunakan batang rumbia, kita bisa mendapatkan tepung sagu.

Dari tepung sagu ini, masyarakat mengolahnya lagi menjadi makanan khas berupa martabak Sagu. Jika tepung sagu ini dipadatkan, akan menjadi semacam kue kering tawar yang disebut sagu lempeng atau sagu batang. Sagu lempeng atau batang ini tidak bisa dimakan langsung, karena teksturnya yang sangat keras. Harus dicelupkan dulu dengan kopi atau teh.

Di Beo, selain dimakan dengan kopi atau teh, sagu batang juga dimakan dengan cara direndam di dalam air atau sayur hingga menyerupai bubur. Sagu batang keras yang telah lunak tadi lalu disebut dengan Kabel. Maka jangan heran kalau suatu saat mampir di Raja Ampat, lalu ada yang bertanya, “Kaka su pernah coba makan Kabel kah?“

Sagu Batang Harus Dicelup Teh atau Kopi Sebelum | © Imam B. Carito
Sagu Batang Harus Dicelup Teh atau Kopi Sebelum Dimakan | © Imam B. Carito
Tekstur Sagu Yang Direndam Air (Kabel) | © Annisa S. Wardah
Tekstur Sagu Yang Direndam Air (Kabel) | © Annisa S. Wardah

Kami tidak mencoba makan Kabel di rumah Anis, hanya mencoba makan Sagu Batang dengan dicelup kopi. “Enak nggak kopinya?“ tanyanya disela kami mencicipi kopi dan sagu batang. “Ini kopi kesukaan orang Beo, namanya Kopi Senang.”

Kami tentu saja terkejut mendengar nama kopi tersebut. Dan tanpa diminta lebih lanjut, dia lalu menjelaskan. Kopi Senang adalah salah satu merk kopi sachet yang dijual di daerah Raja Ampat. Sebenarnya merek kopi sachet yang umum juga dijual di warung-warung, namun masyarakat lebih suka dengan Kopi Senang ini.

* * *

Kopi Senang diproduksi di daerah Sorong, Papua Barat. Pemiliknya bernama Pak Budi, yang sudah berusia sekitar 55 tahun. Pria Tionghoa asal Padang ini mendirikan pabrik kopinya sejak 1985. Karena di daerah ini tidak ada daerah penghasil kopi, maka biji kopi sebagai bahan baku didatangkan dari daerah seperti Sulawesi, dan Manokwari. Bahkan sempat juga mencari ke daerah asalnya di Sumatra Utara dan Lampung.

Bagi saya sendiri, Kopi Senang merupakan tambahan referensi jenis kopi dari daerah Timur Indonesia. Setelah sekitar dua bulan lalu teman saya menjamu saya dengan Kopi Baliem, Wamena yang dia dapat dari oleh-oleh anak teman ayahnya.

Berbeda dengan Kopi Senang, Kopi Wamena ini merupakan produksi asli masyarakat di Lembah Baliem (Baliem Valley). Orang pertama yang menjadi pelopor pertanian kopi Wamena ini bernama Ubertus Marian. Beliau adalah petani kopi yang memulai usahanya sejak tahuan 1980. Pusat Koperasi Peran Masyarakat Kaluru Alua–Marian, tempat kerja Ubertus ini terletak di Distrik Kaluru, setengah jam perjalanan dari kota Wamena.

Kopi Wamena ini kini jamak kita kenal pula dengan sebutan Baliem Blue Mountain. Hal ini dikarenakan bibit dan varietas Kopi Wamena ini identik dengan varietas yang ada di Jamaica (Jamaica Blue Mountain Coffee). Tidak seperti Kopi Senang yang hanya beredar di daerah Sorong, Papua dan sebagai oleh-oleh khas ke daerah Jawa dan Sumatra. Kopi Wamena telah tersebar hampir ke seluruh Indonesia, bukan hanya sebagai oleh-oleh khas saja tapi sebagai salah satu menu di tiap kafe-kafe.

Kopi Senang Khas Sorong, Papua Barat | © Imam B. Carito
Kopi Senang Khas Sorong, Papua Barat | © Imam B. Carito
Kopi Lembah Baliem, Papua | © Imam B. Carito
Kopi Lembah Baliem, Papua | © Imam B. Carito

“Kaka su pernah coba wawo asar e?“ Anis kembali bertanya dan kami sekali lagi cuma bisa saling pandang. Tidak paham apa yang dimaksud Anis dengan Wawo Asar. Adakah ia semacam buah-buahan berwarna coklat kulit dan daging buahnya. Yang manis disantap saat buah telak masak. Tapi kami pikir itu Sawo, bukan Wawo.

Anis sepertinya menangkap kebingungan kami. Tersenyum sebentar, lantas beranjak ke belakang, agaknya mengambil sesuatu. Selang beberapa saat ia membawa sebungkus plastik lalu menunjukkan isinya.

Ada semacam stik lentur warna coklat tua sebesar jari kelingking. Setelah diamati lebih dekat ternyata itu semacam daging, bertekstur arsir agak kasar. Dia lalu menerangkan bahwa itulah yang disebut Wawo Asar.

Wawo Asar adalah Cacing Laut (Wawo) yang diasap (diasar). Warna asalnya adalah putih susu, dengan tekstur kenyal. Kebanyakan orang Raja Ampat memasaknya dengan digoreng kering dan digunakan sebagai lauk. Selain renyah Wawo Asar juga mempunyai kandungan gizi yang tinggi.

Cumi Asar (Asap), Sumber Protein Selain Cacing Asar | © Imam B. Carito
Cumi Asar (Asap), Sumber Protein Selain Cacing Asar | © Imam B. Carito

Anis tiba-tiba bertanya lagi, “Jadi kaka su pernah coba wawo asar kah?“

Yang terbersit di otak kami adalah, “Apa? makan cacing?“ Percaya atau tidak, kamu bakalan berpikir dua kali, untuk makan cacing, walaupun cacing dengan kandungan gizi seabrek. Jadi kalau kamu dan saya juga, nanti berkesempatan main ke Raja Ampat, jangan kaget kalau disuguhi Kabel dengan lauk Cacing Laut Asap Goreng Kriuk. Atau biar lebih kece kita sebut saja “Crispy Smooked Fried Wawo“, Ko su ngiler dan tertarik mencoba? Mari kita ke Raja Ampat!

Imam B. Carito

Belum jadi apa-apa. Masih pengen jadi sesuatu. Suka membaca, masih belajar menulis. Suka kopi item, kopi susu dan kopi tahlil.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405