Book Porn: Seni Memotret Buku dan Pembelaannya

Post Santa Book Porn
Post Santa Book Porn

Kenapa kita punya kecenderungan untuk pamer? Pada pertengahan abad ke-20, ahli biologi Belanda, Nikolaas Tinbergen, menemukan sebuah perilaku aneh binatang: di setiap spesies, hewan dalam percobaannya akan lebih memilih yang lebih cantik, lebih cemerlang, lebih menarik perhatian dalam lingkungannya—”stimulus supernormal,” ia menyebutnya—bahkan ketika rangsangan itu palsu semata. Induk burung akan mengabaikan telurnya sendiri untuk kemudian menduduki sarang yang lebih besar, atau mengalihkan makanan dari anak-anak mereka untuk memberi makan anak lain yang punya paruh yang lebih terang.

Inti dari “stimulus supernormal,” psikiater Deirdre Barrett menulis dalam bukunya, “adalah soal imitasi yang berlebihan yang dapat menyebabkan tarikan kuat dari hal yang nyata.”

Aristoteles menyatakan, bahwa manusia adalah hewan berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal pikirannya. Menurutnya juga, manusia adalah zoon politicon, hewan yang berpolitik. Manusia, kalau boleh disetarakan dengan binatang, tentu punya dorongan bernama ‘stimulus supernormal’ tadi; suka pamer dan suka pura-pura. Apalagi dengan adanya hasrat berpolitik tadi. Lebih-lebih di masa kekininian, karena katanya masyarakat posmodern itu ditandai dengan superfisialitas dan kedangkalan, kepura-puraan atau kelesuan emosi, pokoknya serba gimmick. Jujur, saya sendiri enggak menampik, saya pun manusia yang ada kecenderungan ingin dianggap lebih; lebih cerdas, lebih keren, lebih unggul.

Apa yang salah dengan mempos foto makanan yang kau konsumsi? Apa yang salah dengan memamerkan foto buku yang telah kau baca? Apa yang salah dengan menyombongkan fotomu yang sedang berada di puncak gunung sembari memberi info ketinggian gunung yang kau daki itu? Untuk ukuran benar salah, saya enggak mau dan enggak bisa untuk menilai. Kamu boleh lakukan apa yang kamu suka, terserah, asal jangan bikin risih orang saja. Saya menyimpulkan bahwa tindakan-tindakan pamer foto di media sosial berawal adalah hasil evolusi stimulus supernormal tadi.

Food Porn vs Book Porn

Istilah ‘Food Porn’ mungkin sudah enggak asing lagi bagi kita, yaitu foto-foto makanan yang disusun seestetik mungkin untuk meningkatkan berahi kita. Mengambil bentuk ‘food photography’ dan styling agar bisa menyajikan makanan seprovokatif mungkin, dalam cara yang mirip dalam ‘glamour photography’ bahkan setara pornografi. Food porn berawal sebagai presentasi visual dalam iklan-iklan, biasanya pada iklan makanan cepat saji.

Hal yang sama terjadi pula dengan buku, maka hadir pula yang namanya book Porn ini. Karena zaman sekarang, buku enggak cukup dirayakan dengan dibeli, dibaca, dan dikoleksi. Tetapi juga diabadikan dalam sebuah potret. Book porn juga sering dikawinkan dengan food porn, yang paling banyak tentunya ketika menyandingkan buku dan kopi.

Maudy Ayunda dan The Prince karya Machiavelli
Maudy Ayunda dan The Prince karya Machiavelli

Biasanya dalam food porn, seorang pesohor memamerkan makanannya karena ada motif endorse, untuk urusan komersil. Tapi berbeda dengan buku, mereka menyombongkan buku yang sedang mereka baca ya karena kecintaan aja. Meski saya enggak tahu persis apa ada yang namanya ‘endorse buku’, tapi kalau soal meresensi dan dibayar saya juga pernah. Siapa coba yang membayar Maudy Ayunda untuk berfoto dengan The Prince-nya Machiavelli? Atau Dian Sastro sama Viny JKT48, tentu mereka enggak dibayar oleh siapapun ketika mempos novel asyik dari J.D. Salinger, The Catcher on the Rye. Para pesohor macam begini yang harus diperbanyak.

Sebagai iklan, book porn tentu praktik yang halal. Saya bahkan sengaja banyak mengikuti beragam akun penjual buku di Instagram. Penjual buku penerbit indie, khususnya. Selain karena bisa mendapatkan informasi terbaru soal buku-buku yang liris dan beragam resensi soal buku, saya selalu suka melihat foto-foto buku yang mereka unggah.

Sejauh ini, saya paling suka yang diunggah Post (@post_santa). Buku-buku dari penulis luar dan dari penerbit indie Indonesia dikurasi dengan baik. Fotonya minimalis saja, kebanyakan dipotret dari atas, memakai latar krem cerah, dengan tambahan satu tanaman air hijau dalam botol bening. Sering juga memotret suasana tokonya yang berlokasi di lantai tiga Pasar Santa, juga memotret pembeli dan buku-buku yang dibelinya.

Bagaimanapun, esensi dari sebuah buku, kalau boleh dibilang raison d’être-nya, tentunya ya buat dibaca. Terlepas dari itu, sah-sah aja sih mau diapain selanjutnya buku itu. Jika food porn memiliki efek negatif, salah satunya sikap konsumtif, maka untuk book porn, saya kira enggak masalah sih. Enggak ada yang salah jika konsumsi membeli buku meningkat, harus malah. Apalagi sebagai promosi agar bangsa yang kurang membaca ini jadi terangsang untuk menjadikan laku membaca sebagai hobinya.

Saya selalu membayangkan bahwa surga akan menjadi semacam perpustakaan, kelakar Jorge Luis Borges. Kalau kejadian begini, kasihan dong orang Indonesia entar pada ogah masuk surga.

Arif Abdurahman

Bermukim di Bandung dan bergiat di Komunitas Aleut. Menulis dan menerjemahkan jurnal, esai, serta cerpen di yeaharip.com dan beragam media.