Bonus Cerita di Warung Sorabi Miring

Sorabi Miring
Sorabi Miring | © Aliem Anyil

Mungkin karena bentuknya yang setengah lingkaran dan lebih mirip kue pancong, sorabi ini ditambah embel-embel nama (lagi) di belakangnya: menjadi sorabi miring. Tapi bahan dasarnya sama: menggunakan tepung beras, terigu, kelapa, dan santan. Dan hanya ada dua varian rasa: gurih dan manis.

Untuk sorabi miring yang manis, kue sorabi ditaburi gula putih pada permukaannya. Berbeda dengan yang rasanya gurih, cara menikmatinya dipasangkan dengan mirong dage, dan akan lebih sedap lagi jika sembari menyesap segelas kopi. Tetapi itu bukan cara yang mutlak, semua orang bisa memiliki cara masing-masing untuk menikmatinya.

Di warung Sorabi Miring Ibu Kusni, kalian akan menjumpai sorabi miring dan mirong, itu bukan hamburger. Tapi selain itu, saya mendapat hal lain, yaitu bonus cerita menarik dari si pemilik sambil menunggu Sorabi Miring dihidangkan.

Mulai pukul 23.00, Ibu Kusni dibantu oleh anak laki-lakinya, Mang Sunandi menyiapkan bahan dan peralatan untuk membuat sorabi miring: memindahkan adonan yang sudah diracik, menyiapkan kompor, memasang gas, menata cetakan sorabi dan keperluan lainnya. Ia berangkat dari rumah ke tempat berjualan. Sementara parutan kelapa, santen, adonan sorabi, adonan untuk mirong, dan membuat dage sebagai bahan tambahan untuk mirong (goreng dage) sendiri sudah dipersiapkannya sedari pagi untuk kebutuhan berjualan malam harinya.

Dulu, sebelum digantikan anak laki-lakinya, ia dibantu oleh anak perempuannya yang bungsu, sebelum si bungsu mulai sakit-sakitan karena harus terus bangun malam.

Proses penggorengan menggunakan dua wajan
Proses penggorengan menggunakan dua wajan | © Bagus Sentanu
Proses pembuatan mirong
Proses pembuatan mirong | © Bagus Sentanu

Ibu Kusni meneruskan usaha jualan sorabi miring ibunya sejak tahun 1960-an. Sama seperti anak-anaknya yang lain, dia juga membantu ibunya berjualan ketika itu. Setelah ibunya wafat, Ibu Kusni meneruskan usaha itu dari tahun 2008 sampai sekarang.

Kondisi warung tak banyak yang berubah, suasana tempat yang dipakai juga masih berlokasi di tempat yang sama ketika kali pertama warung itu berdiri, yakni di jalan raya Cibingbin-Pananggapan, tepatnya di depan rumahnya sendiri. Yang terlihat berubah hanya penggunaan alat-alat, seperti bahan bakar yang kini menggunakan gas LPG dan kompor, yang semula menggunakan hawu (tungku) dan kayu bakar.

Kecuali jika ada penebangan di kebun-kebun milik Perhutani atau perorangan, mendapat kayu bakar kini dirasa sulit didapat. Selain tentu saja karena kurang praktis dan memerlukan biaya yang tak sedikit. Kalau harus membeli, harganya sampai Rp15-25 ribu per ikat kecil. Harga itu untuk 30 batang ranting. Maka, menggunakan gas LPG dirasa lebih praktis dan hemat.

Warung Sorabi Miring akan ramai mulai tengah malam sampai dini hari sebelum subuh, dan akan tambah ramai kalau kebetulan ada hiburan dangdutan atau wayang golek.

Sekitar tahun 1990-an, ada sebuah tradisi misbar (gerimis bubar) di Gedong Film Cibingbin, sebuah gedung tanpa atap yang oleh masyarakat digunakan menjadi tempat satu-satunya untuk menonton film. Bioskop itu lebih mirip layar tancap dibandingkan dengan bioskop sebenarnya. Kendati begitu, Gedong Film sudah menyediakan beberapa film hits zaman itu, walau jadwal pendistribusiannya tidak menentu. Dan tentu saja pemutarannya mendapat giliran paling akhir.

Ada banyak cerita di kala itu. Sambil membalikkan mirong di pengorengan, Ibu Kusni mulai bercerita soal keributan-keributan yang tidak sengaja terjadi di Warungnya, dari mulai pasangan yang bertengkar sepulang dari misbar, pemuda yang hampir berkelahi karena mengetahui gebetannya lebih dulu diajak menonton oleh temannya sendiri, hingga aksi pemalakan yang berakhir dengan perkelahian.

Ibu Kusni seolah tahu persis duduk persoalan yang oleh pelanggannya diributkan. Ia selalu tertawa jika mengenang semua kejadian konyol yang pernah disaksikannya dulu. Tapi ia dan ibunya selalu menganggap wajar hal-hal semacam itu, asal tidak sampai merusak dagangannya.

Untungnya, kini hal-hal semacam itu tak terjadi lagi di warungnya. Anak-anak sudah banyak yang bersekolah. Kini, kalau bukan karena hendak menghabiskan malam, mereka yang datang ke warungnya adalah yang kelaparan tengah malam. Ibu Kusni menceritakan itu sambil melempar senyum lebarnya.

Saya datang paling awal sebelum pelanggan lain terlihat, dan baru tersadar pesanan saya sudah disalip lima kali oleh pelanggan yang lain. Jika kalian mengalaminya, dilarang keras untuk marah-marah karena tidak ada nomor antrian.

Bagus Sentanu

Pembaca jenis buku apa saja dan menulis sebisanya.