Bondowoso Republik Kopi

Kabupaten Bondowoso mendeklarasikan diri sebagai republik kopi pada Sabtu 22 Mei 2016 lalu. Bondowoso Republik Kopi.

Kepercayaan diri mendeklarasikan sebagai republik kopi itu muncul karena Program Pengembangan Kluster Kopi Rakyat tahap pertama dianggap berhasil. Pengklusteran ini merupakan upaya pengembangan ekonomi secara total, tetapi dengan basis komoditas kopi. Dengan pembentukan kluster kopi di Bondowoso, sektor ekonomi lain akan dihubungkan dengan kopi.

Kopi Arabika Ijen-Raung
Kopi Arabika Ijen-Raung | © Ananda Firman Jauhari

Program yang diawali dengan studi potensi kawasan Bondowoso oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) dan mulai berjalan tahun 2011. Pada tahun itu, terdapat lima kelompok tani dan sekitar 4.000 hektar lahan perkebunan kopi. Sedangkan sekarang, luasan lahan hampir mencapai 14.000 hektar dengan 43 kelompok tani.

Catatan tahun lalu, produksi kopi rakyat di Bondowoso mencapai 1.500 ton dan 800 ton di antaranya diekspor dengan nilai mencapai Rp48 miliar.

Ada tujuh pihak yang menyatakan komitmen hingga 2025 untuk mengawal program ini, yakni Pemda Kabupaten Bondowoso, Asosiasi Petani Kopi (Apeki) sebagai perwakilan petani, Bank Indonesia, dan Bank Jawa Timur sebagai pihak pemberi pinjaman, Perhutani selaku penyedia lahan, sedangkan Puslitkoka akan ambil peran dalam pelatihan dan pendampingan terhadap petani. Dan yang terakhir, adalah perwakilan pembeli.

Program kluster kopi di Bondowoso dijalankan dalam tiga tahap. Tahap pertama merupakan tahap inisiasi. Lima tahun kedua selanjutnya, program akan difokuskan untuk tahap penumbuhan. Sedangkan, tahap ketiga program pemantapan.

Sebagai bagian dari program kluster kopi, pada 10 September 2013, kopi arabika dari daerah Gunung Ijen-Raung mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis dengan nama produk Kopi Arabika Java Ijen-Raung.

Mat Husen, petani kopi yang mulai menanam kopi di proram kluster pertama
Mat Husen, petani kopi yang mulai menanam kopi di proram kluster pertama | © Ananda Firman Jauhari

Mat Husen, salah seorang petani kopi di Kecamatan Sumberwringin, ada dua efek yang langsung terasa setelah pendeklarasikan Bondowoso Republik Kopi. Yang pertama, pengunjung yang datang ke desa mereka semakin banyak. Selanjutnya, kinerja dan semangat petani dalam menggarap kebunnya semakin meningkat.

Sejak lima tahun terakhir selepas penandatanganan kerjasama, pihak Pemda, Perhutani, dan Puslitkoka terjun langsung. Mereka melatih dan mendampingi petani di Sumberwringin. Puslitkoka juga membantu petani membentuk unit pengolahan hasil (UPH),” katanya.

Senada dengan Mat Husen, Surata, mandor perkebunan yang juga berprofesi sebagai petani kopi, dukungan dari para pihak yang berkomitmen membentuk kluster kopi dalam mengupayakan kopi menjadi komunitas unggulan dirasa sudah cukup maksimal. Selain pelatihan dan pendampingan langsung kepada petani kopi, setidaknya setiap satu kali dalam sebulan ketiga pihak tersebut menginisiasi pertemuan dengan 43 kelompok tani di sekitar lereng Gunung Ijen dan Raung.

Yusriyadi, petani kopi Sukosari yang juga menjabat sebagai ketua DPD Apeki Kabupaten Bondowoso berpendapat, “Bondowoso Republik Kopi cukup baik untuk mengenalkan Bondowoso khususnya lereng Gunung Ijen dan Raung sebagai penghasil kopi arabika unggulan dengan nama Java Ijen Raung. Ia menambahkan, selain itu penyematan slogan Bondowoso Republik Kopi menjadi tantangan kepada petani kopi agar menjaga kualitas biji kopi hasil kebun mereka.

Penjemuran kopi di UPH Usaha Tani XI
Penjemuran kopi di UPH Usaha Tani XI | © Ananda Firman Jauhari

Di sektor hulu produksi kopi, ketujuh pihak tersebut memang tidak setengah-setengah dalam urusan membentuk kluster kopi. Bantuan peralatan untuk mengupas buah kopi dan menyangrai kopi juga didatangkan. Pemda juga menggandeng perusahaan yang bersedia membeli kopi hasil produksi petani.

Pada 24 Mei 2016, penandatangan kesepakatan program kluster kopi tahap kedua dilakukan. Jika sebelumnya melibatkan 7 pihak, pada MoU terbaru pihak pembeli tidak lagi dilibatkan langsung dalam kerjasama. Petani dibebaskan menjual hasil produksinya, tidak terikat kepada satu pembeli saja. Ke depan, para petani berharap agar keseriusan menjadikan Bondowoso sebagai republik kopi tidak meriah diawal saja. Kerjasama yang telah dibangun bisa semakin diperkuat agar menjadikan Bondowoso sebagai republik kopi bisa benar-benar diwujudkan.

Ekspedisi Kopi Miko

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405