Bhineka Jaya, Kopi Cinta Tiga Generasi

Kedai kecil di tengah pertokoan Jl. Gajah Mada
Kedai kecil di tengah pertokoan Jl. Gajah Mada | © Fransisca Agustin

Bali. Hari-hari terakhir. Kami berangkat siang hari dari Pantai Amed. Amed dan Tulamben di Karangasem, Bali Timur Laut, adalah tempat kami “pulang” dua kali setahun. Pulang dalam tanda petik, karena sebetulnya bukan kampung halaman kami, tapi di situlah hati kami berlabuh.

Tiga jam perjalanan menuju Denpasar, dengan mobil kecil sewaan kami. Jalan-jalan kecil yang hanya cukup untuk satu jalur kendaraan, hampir selalu lengang. Menyusuri bukit dan deretan laut biru tua, pohon kepala, palem, sawah, dan kamboja yang silih berganti. Tak ada yang merasa perlu bergegas, meskipun ini hari kerja. Beberapa perempuan yang mengenakan kain dan kebaya membawa nampan penuh bunga di depan rumah dan gapura bata, di kanan kiri jalan. Matahari terik, langit biru. Gunung Agung menjulang gagah, diselimuti awan putih.

Ditemani suara air alunan musik Zen yang sengaja saya siapkan dari Bandung, kami kembali ke Denpasar tanpa banyak bicara. Letih, bercampur sedikit sedih. Letih karena saya menghabiskan lima hari penuh berenang bersama kakap, kerapu, cumi-cumi, hiu juga penyu, tiga hingga lima jam sehari. Setiap hari saya memerlukan suplemen vitamin B karena otot-otot saya panas, tapi saya selalu kembali ke laut keesokan harinya (pukul tujuh pagi WITA!), ketika gelombang lebih kecil dan air laut paling jernih. Itulah cinta. Hanya ada bahagia, tak ada pengorbanan.

Sedih, karena harus kembali ke kota. Dipeluk laut di Amed dan Tulamben, itulah makna “pulang” saya.

Bagi keluarga Bhineka Jaya, “pulang” adalah kopi. Tempat hati berlabuh. Setiap generasi baru memulai perjalanan cinta sedari kecil: ikut serta ke kebun, turut menunggui kedai, menjajaki seluk-beluk asal aroma dan citarasa kopi. Ketika cinta hadir, tudingan child labour sangatlah ganjil.

Dari Jalan By pass Ngurah Rai, kami berbelok ke kanan. Ah… sudah mulai padat merayap. Saya mengaktifkan GPS menuju kawasan kota tua. Di tengah perempatan Jl. Thamrin, ada taman kecil dengan pohon-pohon tinggi dan sebuah batu bertulisan: Kawasan Heritage, Jalan Gajah Mada, Denpasar. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, tempat ini sudah merupakan kawasan perdagangan.

Mobil dilarang parkir di sepanjang Jalan Gajah Mada, kecuali di dalam pasar. Kami memarkir mobil di hotel kami, Hotel Lingsar. Mungkin lebih tepatnya losmen. Hampir semua tamunya adalah sales. Tempatnya sangat strategis dekat Pasar Badung dan Kumbasari, serta pertokoan sepanjang Jalan Gajah Mada dan Jalan Sulawesi. Pas untuk beristirahat sebelum berjualan keliling Bali dan sebelum pulang kembali ke Jawa. Untuk kamar ber-AC, hanya 150.000 semalam. Ya, kamarnya memang sederhana. Gayungnya kadang bocor, tuas flush kloset sudah tak berfungsi, dan per springbednya sudah melengkung. Tapi cukuplah nyaman untuk kisaran harga itu.

Kami berjalan kaki sekitar 300 meter. Deretan ruko-ruko kuno dari bata oranye khas Bali dan pilar-pilar serupa pura. Generasi India dan Tionghoa mendominasi toko kain. Ada juga yang masih menyisakan hiasan ukiran relief pada dindingnya. Pohon beringin berselimut kain poleng tegak berdiri di depan pasar. Aroma dupa yang masih menyala, menyergap. Lumut dan pakis mencuat dari sela-sela plesteran tembok yang sudah mengelupas. Blast from the past.

Itulah Bhineka Jaya, kedai kopi tertua di Bali. Sebelah kiri jalan. Hanya ada dua meja antik di situ, dari kayu gelondongan. Satu set bangku kayunya luar biasa cantik. Dari kayu solid dan anyaman kulit yang dipaku permanen. Padat, tapi empuk.

Beberapa lukisan tergantung manis. Lukisan dua warna. Pilihan warna yang pas: putih dan degradasi coklat. Mengingatkan akan warna kopi. Di etalase ada coffee maker dan coffee grinder yang dijual. Ada pula sepatu kanvas yang dilukis dengan warna kopi. Tak ada kudapan di sini. Hanya ada kopi: tubruk, espresso, cappuccino, dan kopi luwak. Disajikan dengan dua bilah biskuit tipis yang harum gula merah dan sedikit kayu manis. Kalau Anda tak suka minum kopi tapi ingin menemani Cintamu kemari, hanya ada teh panas dan teh susu pilihanmu. Tehnya dari perkebunan di Jawa.

Sepatu kanvas dengan lukisan kopi
Sepatu kanvas dengan lukisan kopi | © Fransisca Agustin
Deretan produk Kupu-Kupu Bola Dunia dan meja kursi antik
Deretan produk Kupu-Kupu Bola Dunia dan meja kursi antik | © Fransisca Agustin

Tiga buah rak besar menjajakan bungkusan berbagai macam kopi untuk dibawa pulang. Bhineka Jaya adalah pelopor kopi berkualitas ekspor dengan merk Kupu-Kupu Bola Dunia (The Butterfly Globe brand). Beberapa pigura berisi artikel koran tentang generasi kedua Bhineka Jaya, Djuwito Tjahjadi yang terlihat masih penuh semangat hidup di usianya yang ke-83.

Awal mulanya, Bian Ek Hoo sang generasi pertama berdagang hasil bumi dan eksportir biji kopi ke Singapura pada jaman Belanda. Djuwito kecil yang lahir pada tahun 1923, ikut mengumpulkan hasil bumi, berjualan di toko, dan menyangrai biji kopi secara tradisional. Akhirnya pada tahun 1935 keluarga mereka mendirikan pabrik kopi. Di jaman Jepang, Bian Ek Hoo mendapat pinjaman senilai US$ 1,1 juta. Djuwito menggunakannya untuk membeli mesin coffee roaster dari Jerman seharga US$ 250.000.

Djuwito selalu menekankan pentingnya menjaga kualitas dengan hanya memetik buah kopi yang benar-benar matang merah merata pada bulan Juni. Biji-biji yang berukuran seragam, dipisahkan untuk dijual sebagai kopi grade satu. Beliau juga berekperimen untuk menemukan formula campuran dan tingkat kematangan sangrai kopi yang pas, agar memenuhi syarat ekspor dan pasar turis di Bali. Dengan bantuan mesin-mesin canggih baru dari Jerman yang bisa membersihkan biji kopi dari debu, kulit ari dan kerikil, kopi mereka bisa memenuhi standar internasional.

Sampai tahun 2006 ketika artikel Kompas itu dimuat, Eyang Djuwito masih hampir tiap hari mengunjungi Bhineka Jaya. Itulah dedikasi cinta…

Bali coffee (10.000 IDR) pesanan saya datang. Kopi tubruk, coklat warnanya. Kopi Bhineka Jaya memang kopi yang dipanggang sampai coklat (tidak sampai hitam gosong), supaya tidak kehilangan citarasa. Harum kopi memenuhi kedai yang mungil itu. Tempat yang sangat rapi dan artistik. Gula pasir dan krim disediakan di meja. Tapi tentu saja saya akan menenggak kopi hitam. Kental dan asam. Arabika. Sedikit-sedikit saya gigit bilah biskuitnya. Ah… lain kali kemari, saya akan membawa penganan sendiri.

Mesin untuk espresso dan cappuccino
Mesin untuk espresso dan cappuccino | © Fransisca Agustin
Bali coffee (kopi hitam), bonus biskuit kopi
Bali coffee (kopi hitam), bonus biskuit kopi | © Fransisca Agustin

Generasi ketiga, Wirawan Tjahjadi, sudah dipersiapkan sebagai pewaris sejak usia sembilan tahun. Setelah lulus dari bidang pemasaran di Amerika, ayahnya melatihnya mencicipi kopi selama tiga tahun dan menyuruhnya menghadiri pameran kopi di seluruh dunia. Di tangan Wirawan, Bhineka Jaya meluaskan jangkauan ekspor dan membuka cabang Jazz Bar and Grill pada tahun 1999, juga Kopi Bali House pada tahun 2004.

Kedua tempat itu saya lihat di foto-fotonya, sangat nyaman dan berkelas. Tapi dari mula saya bertekad mengunjungi Bhineka Jaya Jalan Gajah Mada, karena di sanalah tersimpan jejak aroma cinta tiga generasi.

Jejak “pulang”…

Sekantung kecil biji kopi peaberry (kopi jantan) menemani saya pulang ke tanah Jawa.

Fransisca Agustin

Pemusik kuli yang masih terus berusaha menggabungkan antara jurus-jurus Kungfu Hustle dengan David Foster.