Betapa Mudahnya Menjadi Manusia Setengah Dewa dalam Film The Mummy (2017)

Terkadang kita harus menjadi monster untuk dapat melawan monster

Betapa banyak kebetulan yang ada dalam film-film. Semua terjadi secara kebetulan. Serba kebetulan! Sudah berapa superhero dikenal orang hanya gara-gara kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam beberapa jam tayangan bioskop. Superman jadi kuat karena memang kebetulan dia keturunan bangsa Krypton yang memang memiliki kekuatan luar biasa. Thor jadi superhero karena memang kebetulah dia keturunan bangsa Asgardian yang mempunyai keistimewaan dan dia juga mempunyai palu sakti. Hulk masuk ke tim Justice League karena kebetulan dia bisa jadi besar dan menghijau dengan sendirinya akibat radiasi yang tak disengaja. Apalagi Spiderman yang sangat kebetulan tergigit laba-laba dan tiba-tiba saja dia memiliki keahlian istimewa. Super!

Sama halnya dengan nasib Nick Morton (Tom Cruise) yang pada akhir cerita film The Mummy (2017) terpaksa menjadi manusia setengah dewa karena demi cintanya kepada Jennifer Hasley (Annabelle Wallis). Jika Iwan Fals memberi prasyarat bagi yang akan menjadi manusia setengah dewa dalam lirik lagunya dengan cara menjadi pemimpin yang adil, tegas, dan pro rakyat. Lain halnya dalam film The Mummy (2017) yang dengan hanya memotong seutas tali maka kemudian nasib seseorang menjadi berubah total, dia menjadi “yang terpilih” dan akan diritus menjadi manusia setengah dewa. Gampang sekali bukan!

Berawal dari sebuah legenda mesir beratus-ratus tahun lalu ketika raja Fir’aun telah membulatkan hatinya untuk mengangkat putri satu-satunya Ahmanet (Sofia Boutella) menjadi pewaris tahta bagi segenap kekuasaan mesir dan seluruh penduduknya. Dikisahkan dalam film tersebut bahwa Ahmanet adalah putri yang cantik, cerdik, dan keras kepala. Toh, sebenarnya pemeran Ahmanet tidak terlalu cantik juga menurut tipe saya, tapi mari kita lanjutkan saja perbincangan filmnya. Namun, setelah lambat laun, kemudian tanpa disangka ternyata Fir’aun memiliki anak laki-laki yang secara otomatis kelak akan menggeser kedudukan Ahmanet di hadapan silsilah waris keluarga kerajaan mesir.

Dengan ambisi dan kekeras-kepalaannya, Ahmanet lantas merancang rencana buruk untuk tetap bisa meraup segala kekuasaan di Mesir. Persoalan bahwa dia hanyalah seorang diri tidak menahan kehendaknya untuk tetap bersikap idealis. Lantas dia menggandeng salah satu iblis dalam mitologi Mesir sebagai sekutu politiknya. Iblis yang digandeng juga bukan iblis kelas teri, dia adalah iblis pengendali kematian alias dewa kematian bangsa Mesir, yaitu Seth.

Seperti langkah perpolitikan yang ada di dunia nyata, Ahmanet kemudian terikat dengan perjanjian yang membutuhkan sebuah tumbal. Setelah tujuannya untuk membunuh semua keluarga mesir termasuk ayahnya sendiri tercapai, maka Ahmanet masih mempunyai tanggungan aliansi. Dia harus mencarikan seorang lelaki dewasa yang akan digunakan sebagai tubuh penopang Seth agar dia kelak bisa menguasai dunia dengan segala keseraman maut yang ada pada genggam tangannya. Namun kebetulan, lelaki yang sudah Ahmanet siapkan terbunuh setelah Ahmanet mencoba melakukan ritual dan kemudian dia disegel dalam kurungan bangsa Mesir kuno karena telah melakukan banyak dosa. Juga karena dia telah menjadi iblis dan mempunyai kekuatan aneh setelah aliansinya dengan Seth itu menjadi alasan lain dibalik dipenjarakannya Ahmanet.

Andai kata lelaki itu tidak terbunuh dan Seth mendapatkan tubuh inangnya, maka bisa dibayangkan kalau kelak nanti bukanlah takdir Nick yang menjadi Manusia setengah dewa. Tetapi setelah peradaban berkembang berabad-abad kemudian dan sejarah tentang bangsa Mesir pula kisah Ahmanet banyak dilupakan orang, muncullah dua karakter yang berperan sebagai para pencari harta karun. Mereka adalah Nick dan Vail (Jake Johnson) yang entah tiba-tiba secara langsung dalam tayangan film itu mereka berdua berada di Iran.

Tom Cruise yang sangat dikenal melalui perannya dalam film Mission Imposible kembali dihadapkan dengan kejadian-kejadian di luar bayangannya sebagai aktor. Tiba-tiba dia diserang oleh sekelompok tentara Iran di sebuah desa terpencil. Karena terdesak, lantas teman sejawatnya memanggil sekutu untuk meminta pertolongan. Tanpa disangka, setelah Nick dan Vail terbebas dari perburuan sekelompok tentara Iran, ada lubang besar yang diakibatkan oleh sebuah ledakan bom. Pada lubang itu kemudian situs sejarah pemakaman Ahmanet yang dalam legenda telah dikurung sekian ratus tahun lalu ditemukan.

Di sanalah, awal mula cerita Nick dalam film The Mummy (2017) yang secara kebetulan ditakdirkan untuk menjadi manusia setengah dewa dimulai setelah dengan sengaja dia menembak seutas tali pengikat makam Ahmanet sampai putus. Berbagai kebetulan dan ketiba-tibaan mulai banyak terjadi.

Singkat cerita, Ahmanet terbebas lantaran tindakan sepele Nick tersebut dan kemudian menghantui setiap orang yang bersangkutan dengan pembongkaran makamnya. Terutama Nick sebagai penyebab utama kebebasan Ahmanet lantas dia terkena batu takdir sebagai lelaki yang akan menggantikan laki-laki yang dahulunya telah disiapkan Ahmanet untuk Seth namun gagal. Ahmanet yang dalam rupa iblis dalam tubuh berbalut (mumi) itu terus mengejar-ngejar Nick.

Untungnya dalam perjuangan berlari menghindari Ahmanet itu Nick selalu diiringi oleh seorang wanita cantik bernama Jennifer Hasley atau yang biasa disapa Jenny. Dia yang kemudian menjadi alasan Nick untuk memilih menjadi manusia setengah dewa setelah melihat Jennifer mati akibat ulah Ahmanet. Nick terpaksa menusukkan pisau yang digunakan dalam ritual Ahmanet untuk menyatukan Seth dengan tubuh manusianya agar bisa mengalahkan Ahmanet dan mengembalikan hidup Jennifer yang dicintainya.

The Mummy (2017) ini sangatlah berbeda dengan film-film The Mummy pendahulunya yang muncul dengan tiga season film dalam judul dan konflik yang berbeda-beda. Ketiga film The Mummy tersebut kesemuanya dibintangi oleh Brendan Fraser yang berperan sebagai Richard. Film pertama berjudul The Mummy (1999), kemudian The Mummy Return (2001), dan The Mummy: Tomb of The Dragon Emperor (2008) yang kemudian turut dibintangi oleh Jet li.

Kesemua film The Mummy ini dikenal dengan film yang bercerita tentang pencari harta karun, pertualangan arkeologis yang identik dengan adanya mayat-mayat hidup sebagai penampakan mumi dan juga kisah legenda yang lekat dengan kerajaan-kerajaan besar utamanya di Mesir.

Beberapa hal yang memang perlu disayangkan dari sekuelnya yang baru di tahun 2017 ini bahwa kesan yang muncul setelah menonton film The Mummy lebih menonjol hanya pada design visualnya yang lebih memukau mata dan pemerannya yang memiliki kharisma dalam dunia perfilman, siapa lagi kalau bukan Tom Cruise. Selain itu, latar tempat yang baru yakni di London berkesan lebih modern daripada serial-serial film sebelumnya. Namun, alur cerita yang disajikan cenderung tidak memberikan hal yang berbeda sekaligus kolot dibanding film-film pendahulunya.

Konflik yang terjadi juga terkesan kalem. Monster yang disajikan dalam film ini adalah Ahmanet, kalah jauh dengan monster alias mumi dalam serial The Mummy return. Pemeran Ahmanet masih banyak menunjukkan sisi kemanusiaan sebagai sebuah mumi. Hal itu terkesan seperti bahwa Ahmanet adalah mumi yang masih belum matang, prematur, alias belum siap menjadi mumi. Hal ini terlihat ketika Nick berhasil merebut belati Ahmanet dan ingin menghancurkannya. Sementara Ahmanet seperti ketakutan lantas memunculkan mimik kekhawatiran. Ekspresi yang dirasa kurang pas untuk seorang mumi.

Beberapa pemeran juga terkesan kurang memberi kontribusi banyak. Bahkan tak lebih hanya berkesan memperkuat kebetulan-kebetulan dalam alur cerita film. Contohnya, Dr Henry Jekyll (Russell Crowe) yang menemukan salah satu komponen belati Ahmanet yang hilang berupa sebuah berlian dan kemudian secara kebetulan membawa dirinya kepada arus alur konflik pada film.

Dr Henry Jekyll yang mempunyai dua kepribadian ini (dalam cerita film The Mummy (2017) jika dia tidak menyuntikkan semacam obat selama beberapa menit dia seperti akan berubah menjadi monster) hampir persis menyamai cerita sebuah novel karangan Robert Louis Stevenson asal Skotlandia yang berjudul “Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde”, di mana ada seorang yang berkepribadian ganda. Kala ramah ia akan menjadi Dr. Jekyll dan kala seram dan suka membenci orang dia menjad Mr. Hyde. Seperti dua diri dalam satu jasad. Namun dalam film The Mummy (2017) Dr Henry Jekyll kurang mendapat peran lebih. Padahal jika seandainya dia diseting bermusuhan dengan Ahmanet dalam perebutan belati sakti itu, maka cerita akan lebih fantastis dan mendebarkan.

Di akhir cerita, Nick yang sudah menjadi “tuhan hidup” (istilah yang digunakan dalam film) alias manusia setengah dewa akibat menusuk dirinya sendiri dengan belati Ahmanet yang diperoleh dari Seth itu lari berkelana dan menghidupkan kembali Vail yang sebelumnya menjadi Mummy. Akhir yang masih menyisakan sebuah angan-angan bagi penonton. Sementara Dr Henry Jekyll dan Jennifer berkomitmen untuk terus mencari Nick yang sudah jadi monster hidup. Sepertinya, film ini akan melahirkan sekuel baru dengan aktor antagonis Dr Henry Jekyll. Sebab dialah yang paling berpotensi menjadi monster ataupun mumi. Selebihnya mari kita tunggu takdir apa yang kelak akan menimpa Nick dan bagaimanakah kelanjutan asmaranya bersama Jennifer. Akankah hanya kandas begitu saja setelah menjadi monster? Tunggu saja.

Ozik Ole-olang

Seorang Idealis yang kurang beruntung dalam asmara dan kuliah. Mukim di kota Malang.