Berwisata di Klaten: dari Soto Mbah Gito hingga Sabung Ayam

Suasana tempat Soto Mbah Gito
Suasana tempat Soto Mbah Gito | © Moddie Alvianto Wicaksono

Hingar bingar pilkada yang ramai di seluruh Indonesia membuat kepala saya terkadang terasa pening. Cuitan demi cuitan hingga pernyataan demi pernyataan saling silang dan saling sulut antar warga. Tak hanya pada situasi nyata, melainkan di media sosial. Hal ini yang membuat saya gerah dan muak. Harapan saya pun cuma satu; hentikan segala omong kosong ini.

Di saat lamunan saya mengambang di antara kepulan asap, salah seorang kenalan mengajak saya pergi ke Klaten pada saat hari H pilkada. Ia berencana mengajak saya berkeliling kota Klaten selama setengah hari. Ajakan tersebut langsung saya sambut dengan antusias. Alangkah menarik jika saya mengisi kekosongan pada hari libur dengan berkeliling kota secara gratis cuma-cuma. Apalagi ternyata Klaten sedang tidak dirundung pilkada.

Berangkat pagi hari dari Jogja adalah sebuah pilihan yang tepat. Hanya butuh waktu 1 jam, saya sudah sampai di Klaten. Letaknya yang bersebelahan dengan Jogja dan jalanan yang kosong melompong, membuat perjalanan saya lebih cepat dari biasanya.

Terik matahari menyapa dengan bahagia ketika saya telah sampai pada destinasi pertama. Semesta sepertinya mendukung saya dan beberapa teman untuk menikmati dan menyelami riak air di wahana ini, Pemandian Jolotundo. Letaknya tidak jauh dari kota Klaten. Hanya berkisar 20 menit perjalanan. Jika Anda sedikit bingung, temukanlah petunjuk ke arah Pasar Jatinom, Anda akan cepat menemukan tempat ini.

Kenalan saya berkata, “ini airnya asli dari pegunungan. Rasakan kesegarannya, Mas.” Perkataannya mengingatkan saya pada sebuah iklan produk yang berlatar belakang suara Cak Lontong.

Tepat sekali pernyatannya. Ketika jempol kaki kiri menyentuh air, seketika rasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Terlebih ketika kepala terendam seluruhnya di Jolotundo, mak brrrr rasanya. Sejuk dan dingin berkelindan menjadi satu.

Wahana pun penuh. Mulai dari orang tua, muda, orang dewasa, hingga anak kecil berkumpul di tempat ini. Wajar, karena ini hari libur. Harga masuk ke pemandian Jolotundo cukup murah yaitu 3 ribu saja. Di area sekitar kolam pun banyak penjaja makanan dan minuman, tentu juga dibanderol dengan sangat murah. Inilah yang menjadi daya tarik orang-orang untuk mengunjungi pemandian Jolotundo. Dan itu baik bagi pariwisata Klaten.

Kalau sudah begini, rasanya kami pun tak ingin cepat usai. Berendam lama-lama demi mendinginkan badan dan menjernihkan pikiran. Bayang-bayang karut marut politik pilkada pun seketika lenyap. Namun, tentu saja kami harus beranjak untuk melanjutkan destinasi lain. Satu setengah jam dirasa cukup untuk menikmati salah satu pariwisata terbaik di Klaten.

Pemandian Jolotundo
Pemandian Jolotundo | © Moddie Alvianto Wicaksono
Soto Mbah Gito
Soto Mbah Gito | © Moddie Alvianto Wicaksono

Setelah berenang dan berendam cukup lama, rasa lapar jelas merongrong di perut kami. Kami langsung beranjak ke Pasar Jatinom. Kami ingin menyantap salah satu soto terbaik di pasar itu. Letaknya tepat bersebelahan dengan pasar manuk (burung) Jatinom, Soto Mbah Gito.

Ada yang spesial dari Soto Mbah Gito. Soto tersebut hanya buka pada saat Legi (kalender Jawa). Jadi dalam sebulan bisa jadi hanya dibuka selama 4x. Dan soto tersebut dipandang orang-orang sebagai soto legenda. Pemiliknya adalah Mbah Gito yang merupakan generasi pertama. Saat kami berkunjung, beliau masih tampak sehat di usia menjelang 90. Terkadang masih melayani pembeli dan bahkan mengajak kami mengobrol.

“Lenggah rumiyin nggih, Nak (duduk dulu ya nak),”ucap Mbah Gito kepada kami.

Warungnya cukup sederhana. Hanya terdiri dari beberapa kursi dan beberapa meja. Peralatan masak pun masih menggunakan kayu. Sesuatu yang jarang ditemui di era saat ini. Dan ini yang menjadi kekhasan dari Soto Mbah Gito.

Anda mungkin kaget. Jika biasanya soto disajikan dengan mangkok ayam jago, kali ini Anda akan mendapatkan piring ayam jago. Dan ini sudah dilakukan sejak warung ini berdiri.

Ketika soto datang, saya kembali kaget. Porsinya cukup banyak. Dan Anda tahu harganya? Hanya Rp10 ribu. Saya sampai menggelengkan kepala. Mungkin kalau soto ini disajikan di daerah ibukota maka harga bisa 2-3 kali lipat.

Kudapannya juga cukup beragam. Tentu yang paling diserbu adalah gorengan. Mulai dari tahu, tempe, bakwan, hingga pisang. Mengapa banyak diserbu? Selain rasanya maknyusss, harganya cukup Rp500 saja per item. Saya kembali menggelengkan kepala sembari tertawa kecil. Seakan tak percaya. Hahaha

Jangan tanya rasanya. Tapi daripada Anda penasaran, perlu saya beritahu. Rasanya enak, gurih, dan mantap surantap. Beberapa teman bahkan harus nambah 1 porsi lagi karena luar biasa enaknya soto Mbah Gito. Dilengkapi dengan remah-remah gorengan yang bertaburan di atas soto, maka tuntaslah rasa lapar yang merongrong di perut kami. Rasanya puas dan bisa dikatakan harga kaki lima rasa bintang lima. Bahkan kalau perlu lebih dari bintang lima.

“Mangke mbok menawi mriki malih, seng isuk rawuhe nggih, Mas (Lain kali kalo datang kesini, lebih pagi ya Mas),” ujar Mbah Gito saat kami ingin bersalam-salaman, pamit, dan berfoto ria dengan beliau.

Mbah Gito dan Pengunjung (Pak Dul)
Mbah Gito dan Pengunjung (Pak Dul) | © Moddie Alvianto Wicaksono

Ketika kami keluar dari warung Mbah Gito, kami disambut dengan hiruk pikuk penonton. Oh, ternyata sabung ayam. Waw, di saat budaya ini mulai punah. Tampak di Pasar Jatinom, sabung ayam masih dilestarikan. Ayam yang dipilih pun tidak main-main. Harganya pun bisa melonjak jika memenangkan sebuah pertarungan. Ini yang menjadi minat penonton. Sesekali teriak “Ayo” atau pun tepuk tangan menghiasi arena sabung ayam.

“Ini hanya terjadi pada saat Legi, Mas. Dan ini demi kearifan lokal,” ujar Pak Dul yang mengantarkan kami berkeliling melihat arena sabung ayam.

Saya kira itu pernyataan yang tepat. Memang, banyak agama dan budaya yang saling bersinggungan. Ada yang boleh, ada pula yang dilarang. Namun kearifan lokal sejatinya memang harus dijaga dan dikontrol. Hal ini supaya kita sebagai generasi milineal tak tercerabut dari akar budaya Indonesia. Dan Klaten masih menjaga pesona kearifan lokal tersebut.

Suasana Pasar Jatinom
Suasana Pasar Jatinom | © Moddie Alvianto Wicaksono
Suasana Sabung Ayam
Suasana Sabung Ayam | © Moddie Alvianto Wicaksono

Kami kemudian diajak berkeliling pasar Jatinom. Di sana banyak barang yang dijajakan, mulai dari stagen yang merupakan barang paling dicari oleh wisatawan. Di bagian depan terdiri dari pakaian macam jas, batik, maupun stagen. Di bagian tengah terdiri dari penjaja makanan seperti sate maupun gule kambing. Tak ketinggalan pula penjaja tembakau linting masih banyak tersedia di pasar tersebut.

Sedangkan di belakang terdiri dari alat-alat dapur maupun alat-alat besi macam palu dan arit, eheem. Ini serius. Malah hampir di setiap sudut terdapat palu dan arit. Hal ini sesuatu yang wajar karena banyak dari masyarakat Jatinom bekerja sebagai petani.

Rasanya sungguh puas. Mengelilingi Klaten. Mengunjungi destinasi menarik. Menyantap makanan lezat dan menikmati sabung ayam. Dan ini menjadi poin penting bagi pariwisata Klaten. Setidaknya slogan Klaten Bersinar dapat wangi dan harum menyerbak melalui pariwisata bukan melalui dinasti politik oligarkinya.

Moddie Alvianto Wicaksono

Pemain Futsal Amatir