Bertemu Laden di Kedai Kopi

“Anak muda, selamanya selalu tentang kreativitas dan semangat perubahan

Mendengar nama Laden, tak perlu imajinasi liar untuk sampai pada gambaran seorang anak manusia yang konon begitu ditakuti rezim pemerintahan USA kala itu. Sosok yang pada akhirnya begitu terkenal di seantero jagat bumi berikut segala identifikasi yang dilekatkan padanya. Mungkin karena kepopuleran dan identifikasi itu, ketika pertama kali mendengar ada sebuah kedai yang memakai nama Laden di salah satu pojok Kota Tarakan, gambaran yang tiba-tiba hadir adalah sebuah kreativitas kuliner bernuansa ekstrimis dan sejenisnya.

Anehnya, ternyata kedai ini tak ada hubungan sama sekali dengan tokoh antagonis sejagat itu. Boro-boro dalam aroma, dalam desain ruangan atau kostum para personil kedai saja sudah begitu mudah menghancurkan imajinasi terliarku, “menemukan Osama Bin Laden yang tanpa senjata sedang menyeruput kopi sambil ngeretek, atau mungkin main gaplek sembari ngobrol ngalor-ngidul” atau “Osama Bin Laden yang lagi nyeduh kopi buat orang-orang”. Haddeh!

Dua-tiga kali nongkrong di kedai itu, saya masih berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan seputar alasan pemilihan nama itu. Sampai kemudian memberanikan diri untuk ngobrol agak lama dengan salah satu pendiri kedai yang baru beroperasi 5 bulan belakangan. Namanya Asri Malik, sekitar 5 tahun lebih tua dari saya. Jadi saya memanggilnya abang sebagaimana kebiasaan orang Tarakan. Sebagai orang awam dalam dunia perkopian, saya menemukan sekaligus belajar banyak hal dari bang Asri.

Yah, namanya Kedai Bean Laden, bukan Bin Laden, apalagi Osama Bin Laden. Kata bean tentu saja dari bahasa Inggris, dapat diterjemahkan sebagai kacang (cek google translate!). Pemilihan kata kedai sendiri adalah penegasan sebagai tempat ngopi yang sederhana, egaliter, murah plus free internet. Sedangkan Laden diambil dari nama panggilan untuk Ali Rahman, seorang sahabat bang Asri dan bung Kemper (pendiri yang lain). Bukan dari nama pemilik korporasi raksasa minyak di Jazirah Arab itu. Entah dari mana ke mana Ali Rahman menjadi Laden.

Logo Kedai Bean Laden
Logo Kedai Bean Laden | © Rusman Turinga

Sketsa wajah di logo Bean Laden justru lebih mirip wajah Che Guavara. Sedangkan simbol bulan dan bintang di dalam logo menandai waktu buka kedai: siang dan malam. Soal limit jam buka malam hari, Bean Laden begitu toleran. Saking tolerannya, kru kedai tak pernah keberatan ketika kebetulan ada pengunjung yang waktu nongki-nya keterlaluan atau lupa waktu yang kebablasan: sampai harus nginapdi kedai.

Laden itu nama yang unik dan beda dari yang lain”, kata Asri. Inilah alasan kenapa kedai ini mengambil nama itu. Dan bagi Asri, Laden adalah sosok pekerja keras dan idealis. Dia seorang aktivis lingkungan dengan komitmen yang baik. Singkatnya, Laden adalah seorang sahabat terbaik yang sekaligus menginspirasi Asri dan kawan-kawan.

* * *

Layaknya kedai, tak ada visual teramat estetis apalagi erotis yang menarik mata di ruang seluas sekira 12 x 24 meter itu. Kecuali beberapa poster dan sketsa wajah tokoh-tokoh revolusioner yang juga dikagumi Asri. Sebut saja Albert Einstein, Muhammad Hatta, Martin Luther, Soe Hok Gie, Che Guevara dan banyak lagi. Gambar-gambar mati itu mungkin hanya pajangan yang menawarkan pilihan-pilihan model sablon baju, atau sekedar mengisi kepolosan dinding-dinding ruangan. Tetapi mencermatinya, kita akan menemukan suatu pesan kuat: perlunya memiliki idealisme dan semangat perubahan di ruang gerak apapun yang dipilih.

Dari beberapa kedai kopi, coffee shop dan sejenisnya di kota yang terletak di bagian Utara Pulau Kalimantan ini, kesan seperti ini jarang –untuk tidak menyebutnya hampir mustahil– dijumpai. Satu lagi, di kedai Bean Laden disediakan satu rak buku sederhana yang bisa dibaca suka-suka oleh para pengunjung. Koleksi buku-bukunya masih terbatas, tetapi cukup untuk menjadi teman terbaik kala rehat sejenak dari kesibukan berketawa-ketiwi. Saya melihatnya sebagai usaha kecil kru Bean Laden untuk menumbuhkan minat baca.

Poster beberapa tokoh Revolusioner dan buku-buku
Poster beberapa tokoh Revolusioner dan buku-buku | © Rusman Turinga

Bagaimana dengan kopi beserta produk turunannya di kedai ini? Tentu saja Bean Laden memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang lain. Selain menu sajian yang umum dijumpai di tempat lain seperti Vietnam Coffee, kopi susu, aneka jus, dan makanan ringan yang melengkapi meja para pengunjung, Bean Laden punya varian sajian kopi yang rasanya membuat petualangan citarasa kuliner terasa tak sempurna jika tak mencobanya. Hasil seduhan yang khas dan berkarakter yang lahir dari tangan-tangan muda kreatif. Sebut saja Kopi Bean Laden, Kopi Api, Huluk, dan Kopi Pak Kumis. Semuanya berbahan dasar biji kopi yang diproduksi para petani Indonesia.

Kopi Bean Laden

Varian sajian kopi yang satu ini adalah kombinasi espresso, susu, sirup, dan es batu dengan takaran yang sangat pas di lidah. Teknik seduh manual yang serba hati-hati membuat racikan kopi ini menjadi salah satu produk yang digemari banyak pengunjung. Kopi Bean Laden sangat bersahabat untuk disandingkan dengan kue donat, steak kentang goreng, dan roti bakar.

Kopi Api

Ini sajian kopi jenis lungo yang dicampur dengan susu. Diseduh dengan air panas bersuhu 90 derajat celcius. Tampakan luar kopi ini memang biasa. Tapi menyesapinya menjejakkan sensasi kenikmatan tersendiri. Dibanding kopi susu biasa, aroma rasa Kopi Api jauh lebih nendang. Kopi ini paling banyak digemari pengunjung usia 28 ke atas, laki dan perempuan.

Huluk

Perpaduan green tea dan espressso yang diseduh dengan air dingin. Sangat cocok disandingkan dengan kentang goreng dan juga roti. Varian yang satu ini paling digemari kaum hawa, termasuk para jomblo.

Kopi Pak Kumis

Varian Kopi Pak Kumis adalah perpaduan serbuk cokelat, susu steam, sirup dan espresso dalam sajian dingin. Penikmatnya kebanyakan orang kantoran di jam istrahat tentunya. Saat cuaca sedang terik-teriknya.

Harus tampil beda itu pasti. Mulai dari desain tempat, performa dan keterampilan sumberdaya manusianya, bahan dan kemasan produk, strategi pemasaran dan banyak lagi. Sependek pengalaman dan pengetahuan saya dalam dunia perkopian, Kedai Bean Laden lebih dari sekedar tampil beda dalam usaha kuliner di Kota Tarakan.

Salah satu barista Kedai Bean Laden
Salah satu barista Kedai Bean Laden | © Rusman Turinga

Menelusuri ide dasar pendirian Kedai Bean Laden, saya menemukan pelajaran berharga bahwa menerjemahkan idealisme dalam bahasa praksis tak terlampau sulit. Melakukan perubahan yang manfaatnya begitu terasa bagi masyarakat sekitar tak mesti dengan tindakan-tindakan besar yang kerap jauh melampaui kemampuan. Cukup dimulai dari hal-hal sederhana. Dan tak kalah penting bahwa kegiatan-kegiatan ekonomi tak selamanya harus berorientasi profit (baca: keuntungan materiil yang keterlaluan). Kegiatan-kegiatan ekonomi juga perlu berorientasi perbaikan tatanan kehidupan sosial yang lebih luas.

Sebagai pemuda yang lahir dan besar di daerah Gunung Lingkas, Tarakan Timur, Asri tahu persis bagaimana kehidupan anak-anak muda di daerahnya. Pemuda berjenggot pendek itu bercerita bahwa sekitar tahun 1990-an hingga 2000-an, anak-anak muda seangkatannya punya hobby yang cenderung meresahkan warga sekitar. Warga kemudian menjadi antipati. Singkatnya, “Boleh dikata, Gunung Lingkas dulunya merupakan daerah mati, banyak anak nakal. Bahkan Kedai Bean Laden yang dulunya tempat jualan kayu inilah yang menjadi markas anak-anak nakal waktu itu”, ungkap Asri. Kondisi inilah yang mendorong mantan wartawan di salah satu media ternama di Kaltara ini bersama rekannya melakukan sesuatu yang berbeda yang mungkin bermanfaat untuk semua.

Sejak beroperasi pada Juni 2016, Kedai Bean Laden tak pernah sepi pengunjung. Per harinya sekitar 15 sampai 50-an orang yang datang menikmati seduhan kopi barista tampan, Mas Irwanto. Puncak keramaian biasanya di malam Minggu. Kedai dengan ruangan berkapasitas sekitar 300 orang itu harus menambah jumlah kursi di halaman depan kedai. Selain sebagai tempat ngopi sembari ngobrol santai apapun genrenya, Kedai Bean Laden sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan ramai-bising terorganisir. Misalnya diskusi publik, rapat-rapat semi formal, lomba domino dan banyak lagi.

Suasana ngopi di salah satu sudut Kedai Bean Laden
Suasana ngopi di salah satu sudut Kedai Bean Laden | © Rusman Turinga

Yah, mungkin apa yang diimpikan Asri dan kawan-kawan belum tercapai sepenuhnya. Tapi kehadirannya di tengah-tengah masyarakat sebagai wadah yang produktif bagi anak muda begitu terasa. Kini, kedai yang awalnya hendak diberi nama Guling (singkatan dari Gunung Lingkas) Kopi ini tidak hanya menjadi alternatif terbaik dalam citarasa kopi yang bisa dinikmati semua kalangan. Tetapi juga berkontribusi signifikan dalam membuat Gunung Lingkas menjadi bukan lagi daerah mati.

Di kedai ini, saya bertemu sajian kopi yang berbeda tidak hanya dalam aroma dan rasa tetapi juga motivasi yang menghadirkan gelas-gelas kopi di meja pengunjung. Seperti kata Asri, kopi enak akan selalu menemukan penikmatnya.Bagi saya, selain teknik racikan dan komitmen pada biji-biji kopi produk Indonesia, keramahan barista dan motivasi sosial yang melahirkan kedai yang berlokasi di Jln.Kesuma Bangsa inilah yang membuat sajian kopi Bean Laden terasa lebih enak, yang akan membuatnya selalu menemukan penikmatnya.

Rusman Turinga

Magang di PIKIR KALTARA, hari-hari ini suka hunting foto dan belajar kepo dalam narasi.