Bertamasya Singkat di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Jika kalian berjalan-jalan di kawasan Malioboro, Yogyakarta, mungkin rasanya kurang lengkap jika tak mengunjungi Kompleks Keraton Yogyakarta. Kalau kalian ingin berkunjung ke Kompleks Keraton Yogyakarta, disarankan untuk datang tidak terlalu siang. Paling tidak sudah di lokasi sekitar jam 10 pagi. Perlu diketahui, wilayah kompleks Keraton Yogyakarta ini terdapat dua loket pintu masuk yaitu Museum Siti Hinggil Keraton Yogyakarta dan Tepas Pariwisata Keraton Yogyakarta. Jarak antara pintu pertama dengan pintu kedua bisa ditempuh dengan hanya berjalan kaki sekitar 10 menit. Tiket masuk ke Museum Siti Hinggil Keraton Yogyakarta dikenakan biaya Rp5000 dan tambahan Rp2000 untuk biaya izin foto. Biaya masuk ke Tepas Pariwisata Keraton Yogyakarta adalah Rp7500 dan tambahan Rp1000 untuk biaya izin foto atau video.

Saya memilih berkunjung ke Tepas Pariwisata Keraton Yogyakarta. Berbeda dengan tempat wisata Museum Siti Hinggil Keraton Yogyakarta (Tepas Keprajuritan), di Tepas Pariwisata Keraton Yogyakarta akan lebih menarik, karena bertemu dengan para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Setelah membayar tiket masuk, kami langsung disambut hangat oleh beberapa Abdi Dalem yang tengah duduk mengenakan pakaian adat kain lurik, lengkap dengan blangkon yang menghiasi kepalanya. “Monggo mas,” tuturnya sambil tersenyum.

Di dalam Kompleks Keraton, kalian akan banyak menemui para Abdi Dalem yang tengah bertugas. Mereka pun terlihat ramah sekali jika kita ingin mengajaknya mengobrol. Dari sekian banyak para Abdi Dalem yang berlalu lalang, saya pun memilih salah satu Abdi Dalem yang tengah duduk di atas pasir tak jauh dari pelataran Istana.

Heri Purwanto salah satu Abdi Dalem Keraton
Heri Purwanto salah satu Abdi Dalem Keraton | © Widya Hermawan
Heri bertugas menjaga keamanan Keraton
Heri bertugas menjaga keamanan Keraton | © Widya Hermawan

Abdi Dalem yang saya wawancarai ini namanya Heri Purwanto. Ia sudah 15 tahun menggeluti profesinya sebagai Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. “Saya udah lumayan tua, mas. Saya sudah 15 tahun menjadi Abdi Dalem Keraton. Saya selain di Keraton itu bekerja di Badan SAR Nasional. Kalau di Keraton ini kan cuma 10 hari sekali. Tapi, saya disini mengabdi 1 x 24 jam. Jadi, dari pagi tadi jam delapan sampai besok pagi jam delapan”, tutur pria kelahiran Bantul 6 Maret 1977 sambil tersenyum.

Heri pun tampak antusias menjelaskan tentang tugasnya sebagai Abdi Dalem Keraton kepada saya. Salah satu wisatawan lokal yang kebetulan berada di dekat saya bertanya; “Abdi Dalem Keraton itu ada beberapa macam ya?

Ada Abdi Dalem Keprajuritan, Abdi Dalem Punokawan, dan Abdi Dalem Keprajan. Kalau saya itu fokusnya lebih kepada penjaga kerajaan. Jadi saya diberikan tugas seputar keamanan kerajaan. Terus kita juga diperintahkan untuk membuka dan menutup Regol-Regol (pintu-pintu besar), ujarnya sambil menunjuk salah satu pintu dengan ibu jarinya.

Obrolan saya dengan Heri pun sempat terhenti ketika melihat salah satu wisatawan asing yang dengan santainya menginjak lantai Marmer yang sudah dibatasi untuk tidak dilewati. Heri tak punya daya untuk menegurnya, walaupun dalam hati kecilnya dia agak menggerutu.“Aduh itu lantainya harusnya jangan diinjak-injak. Padahal kan sudah ada bacaan larangan untuk tidak dilewati tapi masih ada aja yang lewat situ”, ujar Heri sambil menggelengkan kepalanya.

Beragam Lencana yang diperoleh Sultan
Beragam Lencana yang diperoleh Sultan | © Widya Hermawan
Salah satu lantai marmer yang tak boleh diinjak di area Keraton
Salah satu lantai marmer yang tak boleh diinjak di area Keraton | © Widya Hermawan

Suasana pun semakin hangat dengan instrumen Gamelan khas Jawa yang dimainkan oleh para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Diakui Heri, profesinya menjadi Abdi Dalem adalah dorongan dari hati. Ia sangat peduli sekali akan pelestarian dari Keraton Yogyakarta.

“Abdi Dalem itu kebanyakan memang turun temurun. Ada juga sih, satu dua orang yang bukan keturunan. Bapak saya itu bukan Abdi Dalem. Tapi, kalau Eyang saya itu Abdi Dalem. Menjadi Abdi Dalem ini kan tanda kecintaan kita kepada Keraton. Kalau bukan kita kita yang peduli lalu siapa yang akan meneruskan akan sejarah ini?”

Saat ditanya seputar gaji yang diterimanya, Heri tampak enggan menyebutkan nominal gaji yang diterimanya. “Di sini itu tidak ada sistem gaji. Adanya itu istilahnya pemberian. Kalau pemberian itu kan terserah Raja, nah, kalau gaji kan target. Pemberian dari Raja itu tidak bisa dipastikan jumlah nominalnya berapa”, ungkapnya sambil tersenyum.

Puas mengobrol dengan Abdi Dalem, saya pun berkeliling area Keraton. Di Tepas Pariwisata Keraton Yogyakarta ini kalian akan melihat koleksi bersejarah yang dimiliki oleh pihak Keraton Yogyakarta. Koleksi tersebut seperti foto dan ada pula koleksi pakaian Sultan Hamengkubuwono IX, serta kumpulan lencana yang tersimpan rapi di etalase. Ketika memasuki pintu museum, pastikan dulu bahwa ruangan tersebut boleh dimasuki para wisatawan. Tetap jaga tata krama selama berada di Keraton Yogyakarta. Selalu lemparkan senyum apabila berpapasan dengan para Abdi Dalem.

Widya Hermawan

Penulis yang juga menyukai dunia Fotografi.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405