Bersukaria Di Kampung Langai

Para pengisi acara, panitia dan penonton bernyanyi dan berjoget bersama menyanyikan Jingle Kampung Langai
Para pengisi acara, panitia dan penonton bernyanyi dan berjoget bersama menyanyikan Jingle Kampung Langai| © Mohammad Sadam Husaen

Siang itu, 5 Agustus 2016, saya dan beberapa kawan sedang bersiap untuk berangkat ke Situbondo. Cuaca hari itu cukup cerah, saya dan beberapa kawan memutuskan menunggu kawan-kawan lain yang mau ikut sembari ngopi di Kantin Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Kami menunggu hampir setengah jam dan langit mendadak jadi gelap. Hujan pun mulai turun dan saya mendadak gelisah. Sedangkan kawan-kawan yang kami tunggu tak kunjung datang. Saya semakin gelisah karena acara di Situbondo dimulai pukul 15.00 WIB. Saat itu sudah pukul 14.20 WIB sedangkan perjalanan Jember ke Situbondo biasanya memakan waktu satu setengah sampai dua jam. Pada akhirnya saya pun menyerah dan membuang harapan bisa sampai di Situbondo tepat waktu.

Hujan reda sekitar pukul 15.30 dan satu persatu kawan-kawan saya pun datang. Kami pacu sepeda motor masing-masing tanpa terburu-buru, karena kami pikir percuma secepat apapun kami sampai di Situbondo toh acara sudah dimulai. Senja di langit Situbondo pun menyambut kedatangan kami. Langsung saja kami memarkir sepeda motor di tempat yang sudah disediakan dan menuju ke venue Festival Kampung Langai (FKL) #3. Hajatan besar warga Dusun Langai, Sumberkolak, Panarukan, Situbondo yang akan berlangsung selama dua hari.

Di venue kami bertemu dengan kawan dari Jember yang sudah datang terlebih dahulu karena turut menjadi pengisi acara. “Sudah berapa penampil sejak sore tadi?” saya bertanya pada Ghuiral Hilanda, kawan satu fakultas sekaligus pengisi acara. “Belum ada yang perform kok, tadi cuma pembukaan, doa bersama terus istirahat.” Tuhan maha baik, pikir saya. Harapan bisa menonton acara mulai dari awal pun tidak sirna begitu saja.

Saya dan beberapa kawan pun duduk santai di samping salah satu booth yang paling dekat dengan panggung. Sembari menunggu acara dimulai kembali saya memperhatikan sekeliling venue yang terletak di tanah lapang dikelilingi oleh semak dan pohon. Sangat sederhana, hampir semuanya ornamen dan bangunan terbuat dari bambu. Tiang lampu, booth, pagar dan bahkan hiasan di panggung semuanya terbuat dari bambu yang dihias tapi terlihat eye catching.

Terus terang ini adalah kali pertama saya menghadiri FKL yang sudah berjalan tiga kali mulai dari tahun 2014. Sedangkan kawan-kawan saya sudah mengikuti FKL mulai dari tahun 2015. “Langai itu apa sih ngomong-ngomong?” celetuk saya. “Langai itu dari bahasa Madura, Lao’na Songai.” Jawab teman saya. Ternyata nama Langai diambil dari singkatan bahasa madura Lao’na Songai yang artinya selatan sungai. Tak lain dan tak bukan karena dusun itu terletak tepat di selatan sungai.

Selain itu kawan saya juga mengatakan bahwa nama Langai juga diambil dari nama pohon yang banyak tumbuh di dusun tersebut. “Ini lho pohon langai, banyak durinya,” ujar kawan saya menunjuk pohon rimbun yang tidak seberapa tinggi di sekitaran tempat kami duduk. Pohon tersebut ternyata tak hanya ada di sekitaran kami duduk. Ada banyak lagi di sekitaran venue, bahkan di belakang dan samping panggung.

Hari semakin gelap dan lampu yang menyorot panggung terlihat semakin terang. Beberapa panitia sedang sibuk mondar-mandir di panggung yang jaraknya tidak sampai lima meter dari tempat saya dan beberapa kawan duduk. Penonton pun mulai berdatangan, terlihat ada beberapa panitia yang bersiap di dekat pintu masuk sembari membawa kardus. Ternyata kardus tersebut adalah tempat untuk tiket masuk bagi para penonton. Saya pun kaget, karena saya kira tidak ada tiket masuk untuk acara FLK #3 ini.

“Tenang, tiket masuknya sebenarnya beras seperempat kilo dan telur atau bisa juga uang seikhlasnya.” Tukas Ghuiral. “Lha terus, kami kok bisa masuk tanpa bayar?” tanya salah seorang kawan dengan heran. “Ya kalian masuk pas waktu istirahat dan bareng pengisi acara sih, jadinya gak ditarik deh.” Jawab Ghuiral sambil tertawa.

Sekitar pukul tujuh malam, pembawa acara pun masuk ke panggung menyapa para penonton yang masih berdiri. “Mari mendekat, boleh kok duduk di depan panggung sini.” salah seorang dari tiga pembawa acara mempersilahkan para penonton untuk duduk di depan panggung. Saya dan kawan-kawan pun dengan sigap mengambil tempat paling depan yang jaraknya tidak sampai satu meter dari karpet merah yang dijadikan panggung.

“Tema Festival Kampung Langai ke-3 kali ini adalah Abeli Ka Kampung atau kembali ke desa. Maka dari itu kami menggunakan sistem barter untuk tiket. Seperti jaman dahulu kita menggunakan sistem barter untuk mendapatkan sesuatu. Nah, hasil dari tiket itu nantinya akan dibagikan kepada warga Dusun Langai yang diantaranya sedang berjualan di sekitar tempat acara malam ini.” Pembawa acara mulai melaksanakan tugasnya sembari menunggu persiapan dari pengisi acara yang akan tampil.

Tari tradisional tampil membuka FLK #3. Para siswi Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas yang menari adalah anak didik dari Sanggar Kembang Molja Situbondo. Setelah tari tradisional, penonton disuguhi lagi dengan tarian. Kali ini adalah breakdance dari Situbondo Breakin. Tepuk tangan penonton pun bergemuruh untuk dua penampilan awal tersebut. Selanjutnya panggung secara bergantian di isi oleh berbagai instrumen musik. Diawali dengan solo sape’ dari Jefri pemuda asli Situbono, lalu dilanjut oleh lantunan gitar folk dari Cahyo yang juga putra daerah Situbondo.

Tari dari Sanggar Kembang Molja
Tari dari Sanggar Kembang Molja | © Mohammad Sadam Husaen

Di sela persiapan penampilan selanjutnya, saya menoleh kebelakang dan melihat sudah banyak penonton yang mengelilingi pangung. Mulai dari anak kecil, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu sampai kakek nenek berbaur menjadi satu menonton agenda tahunan yang diadakan oleh pemuda-pemudi yang tergabung di berbagai komunitas seni di Situbondo itu. Selain itu, ternyata tak hanya penampilan di panggung saja yang disuguhkan, melainkan ada pameran foto dan lukisan karya pemuda pemudi Situbondo yang bisa dinikmati setelah melewati pintu masuk menuju panggung.

Penampilan musik dilanjutkan kemudian oleh Culture Fushion yang membawakan empat lagu dalam irama pop dengan memasukkan instrumen sape’ Dayak. Saya paling suka ketika mereka membawakan lagu Tanah Airku milik Sundari Soekotjo. Seperti ada hawa magis yang keluar ketika para penonton ikut berdendang. Penampilan Culture Fushion ditutup dengan salah satu lagu milik Vierra yang mereka bawakan dengan bersemangat. Jimmy and Friend’s melanjutkan penampilan malam itu. Jimmy adalah pria keturunan Ambon yang sudah berpuluh tahun menetap di Situbondo dan selalu tampil dalam panggung FLK. Malam itu Jimmy ingin mendedikasikan permainannya untuk penyandang disabilitas.

Selanjutnya giliran Diana dan Andre, dua orang remaja asli Situbondo menapilkan duet solo drum dengan membawakan Enter the Sandman milik Metallica. Para penonton pun bergemuruh mendendangkan lirik Enter the Sandmand. Saya memilih diam dan memperhatian Diana yang sedang menabuh drum dengan energik.

Lalu dilanjut dengan penampilan dua kelompok musik etnik asal Universitas Jember, yaitu Mahadiyu dari Dewan Kesenian Kampus Fakultas Ilmu Budaya dan Gamelan Kyai Lemah Abang dari Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian Universitas Jember. Gamelan Kyai Lemah Abang membawakan lagu Padhang Mbulan dan Jaranan dengan memadukan Instrumen saron, gitar, bass dan drum menjadi satu komposisi.

Sedangkan Mahadiyu menampilkan tiga komposisi musik. Pertama On The Way Home milik Dewa Budjana. “Kami membawakan On The Way Home milik Dewa Bujana karena kami merasa sedang pulang kampung. Karena Mahadiyu dilahirkan di Festival Kampung Langai #2.” Ujar Fajaritandio, gitaris Mahadiyu sebelum memainkan Lelo Ledung sebagai komposisi kedua. Penampilan Mahadiyu pun ditutup dengan komposisi musik ciptaan mereka sendiri yang belum diberi judul.

Gamelan Kyai Lemah Abang menyanyikan Padhang Mbulan
Gamelan Kyai Lemah Abang menyanyikan Padhang Mbulan | © Mohammad Sadam Husaen
Mahadiyu sedang membawakan komposisi On The Way Home milik Dewa Budjana
Mahadiyu sedang membawakan komposisi On The Way Home milik Dewa Budjana | © Mohammad Sadam Husaen

Saya beranjak dari tempat duduk untuk membeli kopi yang dijual oleh warga Dusun Langai di salah satu booth, tak lupa dengan beberapa gorengan tentunya. Ketika saya kembali, Sunshine Reggae sudah ada di panggung dan siap berdendang. Irama khas reggae pun memenuhi venue. Angin malam mulai menggoyang-goyangkan daun dan ranting pohon langai. Terdengar lirik lagu yang dibawakan oleh Sunshine Reggae menceritakan tentang anak Kampung Langai yang pulang kampung dan menemukan kampungnya yang sudah berubah karena dirongrong oleh para korporat jahat. Lirik yang khas untuk lagu reggae.

Malam pertama FLK #3 pun ditutup oleh Orkes Melayu Diana dari Situbondo yang membawakan lagu dangdut dengan berbagai variasi bahasa; Madura, Jawa dan Indonesia. Para penonton dan panitia pun berjoget bersama di panggung tanpa ada sekat sampai penampilan Orkes Melayu Diana selesai. Saat itu kopi saya masih banyak, jadi saya putuskan untuk bertahan di venue saat para penonton mulai berbondong untuk pulang. Sebenarnya tak hanya kopi alasan saya untuk tidak segera meninggalkan venue. Alasan lain adalah untuk mencari tempat numpang tidur, karena memang saya dan kawan-kawan berencana bertahan di Situbondo sampai FLK #3 selesai.

Venue mulai sepi, tiba-tiba Ghuiral yang tadi tampil bersama Mahadiyu menghampiri saya dan kawan-kawan. “Nginep sini kan? Ayok ke home stay, ini bareng Argo anak Etnomusikologi ISI (Institus Seni Indonesia) Jogja. Besok dia main.” Ghuiral bagai Dewi Fortuna malam itu, sayangnya dia lelaki. Saya dan kawan-kawan pun menginap di home stay yang disediakan panitia untuk para pengisi acara dan beberapa panita.

Hari kedua FLK #3 dimulai pukul tujuh malam. Tapi saya dan kawan-kawan sudah berada di venue sejak sore hari. Sembari menunggu gelap saya dan kawan-kawan berbincang dengan Argo, Mahasiswa ISI Jogja yang dikenalkan oleh Ghuiral di hari sebelumnya. Gregorius Argo nama lengkapnya, dia adalah keturunan Suku Dayak dan akan memainkan sape’ yang juga alat musik dari Suku Dayak. Saya mendapatkan banyak wawasan musik etnik dari Argo, walaupun ada beberapa yang masih belum saya mengerti. Tapi berbingcang dengan kawan-kawan panitia FLK #3, Argo dan para pengisi acara yang lain adalah pengalaman yang mengesankan.

Argo dan kawan-kawan sedang memainkan irama tradisi Leto dengan eksplorasi blues
Argo dan kawan-kawan sedang memainkan irama tradisi Leto dengan eksplorasi blues | © Mohammad Sadam Husaen

Argo mengatakan bahwa dia sama sekali tidak dibayar untuk tampil di FLK #3, begitu juga dengan pengisi acara yang lain. Argo menganggap bahwa acara semacam FLK yang diadakan dengan modal semangat dan patungan, tanpa ada bantuan dari pemerintah harus dikembangkan. Agar kesenian-kesenian daerah di kampung-kampung tidak lekas hilang.

Seperti yang dikatakan oleh Argo, Panakajaya Hidayatullah panitia sekaligus pengisi acara juga mengungkapkan dalam tulisannya yang dimuat dalam booklet Kabar Kreasi dan Literasi Kampung Langai 3 bahwa, FLK diadakan oleh anak muda situbondo untuk merespon wacana atau stereotype negatif tentang masa depan seni di Situbondo. Selain itu, dalam tulisannya, Panakajaya juga menyebutkan bahwa FLK tidak seperti event yang diadakan oleh pemerintah dengan sponsor penuh dan dana yang fantastis. “Festival Kampung Langai diselenggarakan dengan dana swadaya, bahkan sebagian besar didapatkan dari hasil ‘ngamen bareng’, penjualan marchandise dan sumbangan dari para donatur.”

Saking asiknya mengobrol, kami tidak sadar acara sudah hampir dimulai. Para panitia sudah bergegas ke pos mereka masing-masing, juga sudah banyak penonton yang berdatangan. Hari kedua FLK #3 pun dibuka dengan penampilan tari tradisional dari Malang yang dibawakan oleh tiga mahasiswi Universitas Negeri Malang. Lalu dilanjut dengan penampilan teater dari Rumah Teater Kami, Situbondo yang membawakan naskah berjudul Kampung Langai. Respon yang cukup hangat diberikan oleh penonton pada pentas teater tersebut.

Penampilan pun dilanjutkan dengan dua band yang asal dari Situbondo. Supernova dan Vanilla Latte, kedua band ini membawakan irama pop khas anak muda yang nyaman untuk dibuat jingkrak-jingkrak. Terlihat beberapa anak kecil berdiri sambil bergoyang mengikuti irama musik yang dimainkan kedua band tersebut. Terlihat beberapa bapak yang memakai sarung dan peci pun ikut menikmati apa yang disuguhkan oleh pemuda-pemudi Situbondo tersebut.

Setelah irama pop, panggung diisi Clavier yaitu tiga remaja Sekolah Menengah Atas di Situbondo yang bergantian membawakan komposisi piano klasik. Tepuk tangan meriah dan beberapa teriakan meminta penampilan piano klasik ditambah pun terdengar bergemuruh memenuhi venue. Setelah piano klasik dari Clavier, kini giliran Dian Pimen dengan permainan solo gitarnya. Irama blues pun meraung dari sound system. Pembawa acara pun masuk setelah Dian selesai memainkan gitarnya, kemudian mengungkapkan bahwa Dian adalah orang pertama dari Situbondo yang masuk ke ISI Jogja dan setelahnya disusul oleh pemuda pemudi Situbondo yang lain.

“Secara ndak langsung acara ini mempromoikan ISI Jogja.” Celetuk teman di samping saya. Saya pun hanya bisa tertawa mendengarkannya. Kini giliran Argo dengan baju serta topi adat Dayak dan sape’nya ada di panggung, dia ditemani oleh Ghuiral, Panakajaya, Jimmy dan beberapa musisi lainnya. Mereka memainkan irama tradisi dari Dayak yang disebut leto, tapi irama tersebut dieksplorasi menjadi irama blues. Petikan sape’ pun mengawali permainan dan disusul oleh instrumen lainnya. Suasana semakin meriah malam itu dengan suguhan musik yang menurut saya non-mainstream. Blues masih mengalun di panggung FLK #3, kini giliran Kaliv yang juga putra daerah Situbondo memainkan gitar solo.

Solo gitar blues dari Kaliv
Solo gitar blues dari Kaliv | © Mohammad Sadam Husaen
Pembacaan puisi mengawali penampilan Lembayung Band
Pembacaan puisi mengawali penampilan Lembayung Band | © Mohammad Sadam Husaen

Setelah digeber dengan irama blues, kali ini tembang Jawa melantun dengan merdu dari Cahaya Budaya asal Tulungagung. Cahaya Budaya adalah sanggar seni Reog, tapi mereka juga memprodksi musik tradisi dan beberapa hasilnya adalah yang mereka tampilkan di panggung FLK #3. Cahaya Budaya sama seperti Argo, tidak meminta bayaran sama sekali karena mereka datang untuk memeriahkan FLK #3.

Malam semakin larut, tapi penonton masih tetap setia berada di venue. Sedangkan di panggung, band Lembayung sedang mempersiapkan penampilannya. Panggung yang tadinya ramai dengan dentuman saron dan kendang dari Cahaya Budaya pun berubah menjadi senyap ketika penampilan Lembayung diawali dengan pembacaan puisi. Puisi selesai dibaca, lalu Sebelah Mata milik Efek Rumah Kaca dilantunkan oleh Lembayung. Penonton berteriak histeris dan mulai ikut bernyanyi. Lagu selanjutnya menyusul, Sendu Melagu dari Barasuara dibawakan dengan energik oleh Lembayung. Penonton yang tadinya duduk mulai berdiri dan bergoyang bersama.

Di akhir acara para panitia, pengisi acara dan penonton pun berbaur menjadi satu di panggung. Mereka semua berjoget dan menyanyikan Jingle Kampung Langai bersama-sama. Saya sedikit mundur dan mengeluarkan gawai untuk mengabadikan momen tersebut, sambil mencoba ikut mendendangkan Jingle Kampung Langai.

“Bersuka citalah selagi muda / Tak perlu resah biar zaman sedang susah / Teruslah berkarya selagi bisa / Tak apa jelek yang penting sudah punya

Yok nonton kami di Kampung Langai / Kita bernyanyi sambil santai-santai / Ajaklah serta teman dan saudaramu / kita berdendang bersukaria / Di Kampung Langai…”

Mohammad Sadam Husaen

Salah satu pengelola siksakampus.com yang bercita-citanya menjadi pokemon trainer.

  • Syndi Ns

    Bayangin aja udah seru, apalagi kalau diajak nonton. 😀