Bersua dengan Kopi Malabar di Tanah Pakuan

Dutch Coffee
Lihat Galeri
6 Foto
Etalase MM Cafe Bogor
Bersua dengan Kopi Malabar di Tanah Pakuan
Etalase MM Cafe Bogor

© Hidayat Adhiningrat

Piagam penghargaan di etalase MM Cafe
Bersua dengan Kopi Malabar di Tanah Pakuan
Piagam penghargaan di etalase MM Cafe

© Hidayat Adhiningrat

DVD bersampul Wajah Slamet Prayoga
Bersua dengan Kopi Malabar di Tanah Pakuan
DVD bersampul Wajah Slamet Prayoga

© Hidayat Adhiningrat

Barista MM Cafe Bogor
Bersua dengan Kopi Malabar di Tanah Pakuan
Barista MM Cafe Bogor

© Hidayat Adhiningrat

Barista mempersiapkan pesanan biji kopi malabar
Bersua dengan Kopi Malabar di Tanah Pakuan
Barista mempersiapkan pesanan biji kopi malabar

© Hidayat Adhiningrat

Barista menyiapkan pesanan biji kopi malabar
Bersua dengan Kopi Malabar di Tanah Pakuan
Barista menyiapkan pesanan biji kopi malabar

© Hidayat Adhiningrat

Bagaimana kamu mendeskripsikan rasa dari secangkir kopi yang kau sesap? Saya yang termasuk peminum kopi “amatiran”, hanya bisa menjawab: pahit. Itu saja. Atau, ketika ingin terlihat kontemplatif, saya memunculkan komentar medioker sok asik: kopi itu pahit, sepahit hidup dan masa lalu.

Meski kabarnya setiap jenis kopi punya kekhasan rasa masing-masing, sampai beberapa waktu, saya pikir itu isapan jempol belaka. Hingga akhirnya saya bertemu dan langsung jatuh cinta pada Kopi Malabar. Kesan bahwa kopi hanya punya satu jenis rasa —ya, rasa pahit itu tadi—, berubah sudah.

Saya toh bisa juga bertemu dengan varian rasa kopi yang tercecap dengan begitu kontras dari secangkir Kopi Malabar. Rasa asam menyeruak melewati lidah yang tidak begitu sensitif mengecap ragam-ragam rasa kopi ini. Saya akhirnya percaya bahwa kopi itu memang punya rasa yang berbeda-beda.

Hingga pada suatu malam, seusai menjalani hari yang melelahkan, saya teringat akan sesuatu. “Njirrr…kopi gue habis,” kata saya seketika. Saya ingat, pagi tadi sebelum berangkat kerja, kopi saya tinggal tersisa kurang dari 20 gr. Itu artinya, besok saya akan memulai hari dengan kurang paripurna.

Selama ini, karena jarak yang lumayan jauh antara Jakarta-Pangalengan dan informasi yang minim, saya selalu membeli Kopi Malabar melalui layanan penjualan online. Dalam keadaan seperti ini, dengan terpaksa, saya jadi harus membeli biji kopi di supermarket. Tentunya bukan kopi malabar.

“Nitip aku aja, besok sabtu aku ke Bogor,” tiba-tiba terdengar suara Mas Teguh memecah lamunan saya.

“Di sana ada yang jual, roasting sendiri, yang dijual kopi malabar thok,” lanjut Mas Teguh.

Wah, ini menarik! “Sabtu ya? Aku ikut deh mas,” seru saya pada Mas Teguh. Malam itu kami bersepakat berburu Kopi Malabar ke tanah Pakuan.

Sabtu siang yang mendung dan langit yang sedang menurunkan air dengan malu-malu, saya menemui Mas Teguh di stasiun Pasar Minggu Baru. “Tokonya tutup jam berapa mas?” tanya saya membuka percakapan.

“Sampai tengah malam, lha wong itu cafe kok,” jawabnya.

“Loh? Cafe toh? Tapi jual biji juga kan?” tanya saya menegaskan.

“Iya, jual biji, roasting sendiri, malabar semua,” ucap Mas Teguh mengulangi penjelasan malam sebelumnya sembari menegaskan juga.

Menggunakan commuter line kami akhirnya sampai di Stasiun Bogor. Dari sana kami naik angkot. Sekitar 10 menit, kami bertemu dengan Rumah Sakit Marzoeki Mahdi.

Tepat di depan rumah sakit jiwa tersebut berderet ruko dan rukan. Di tengah deretan ruko itulah letak cafe tujuan kami: Malabar Montain (MM) Cafe, Specialist Arabica Coffee Java Preanger.

MM Cafe Bogor
MM Cafe Bogor | © Hidayat Adhiningrat

Memasuki cafe MM, tepat di sebelah kanan dibalik kaca, terdapat alat roasting kopi. Di sampingnya, berderet berbagai sample kopi malabar dengan sub variannya dalam sebuah etalase kayu.

Saya lewati sejenak ornamen-ornamen tersebut. Mengetahui bahwa nyatanya tempat ini adalah sebuah cafe, saya langsung bertanya, “Smoking area di sebelah mana ya?”

Kami langsung diarahkan menuju tangga yang mengarah ke bawah. Di sana lah smoking area berada, di bagian bawah-belakang cafe ini. Kami memilih kursi paling pojok, dari situ kami tahu kalau cafe ini berdampingan dengan kebun dan sungai kecil yang mengalir di bagian belakangnya.

“Malabar natural diseduh pakai V60,” pesan saya kepada si pelayan. “Kopi tubruk malabar natural,” pesan Mas Teguh.

Alat Roasting MM Cafe Bogor
Alat Roasting MM Cafe Bogor | © Hidayat Adhiningrat
Sample Coffee Malabar di MM Cafe
Sample Coffee Malabar di MM Cafe | © Hidayat Adhiningrat

Sembari menunggu, saya coba mencari tahu informasi mengenai cafe ini. Google memberikan jawaban. Cafe ini dimiliki oleh Slamet Prayoga atau biasa dipanggil Yoga.

Saat meresmikan kedai kopi ini, pria lima puluh tahunan itu mengatakan, “Saya ingin lebih mengenalkan varian kopi Jawa Barat kepada masyarakat luas dan kebetulan kota Bogor yang saya pilih,” katanya. Itulah makanya, hanya ada Kopi Malabar di kedai kopi ini.

Yoga tinggal di Pangalengan. Bersama istrinya, Ekayati, dia mengisi hari-harinya dengan mengurusi kebun kopi miliknya yang memiliki luas mencapai 70 Hektar. Jadi, semua kopi yang disajikan di sini adalah kopi yang berasal dari kebun milik Yoga di Pangalengan sana.

Sajian Kopi tubruk MM Cafe
Sajian Kopi tubruk MM Cafe © Hidayat Adhiningrat

Tak lama, pesanan kami datang. Secangkir Kopi Malabar yang diseduh dengan V60 dan secangkir kopi tub… What? Kok jadi french press? “Mas tadi pesennya tubruk kan?” tanya saya ke Mas Teguh. “Iya, mungkin dia tubruk dulu terus pakai french press untuk misahin bubuknya, biar deh,” jawab Mas Teguh santai.

Ah iya, biar saja, toh yang penting kan rasanya. “Apalah arti sebuah nama?” saya membayangkan sedang bertanya kepada Shakespare, lalu dia tersenyum dan mengangguk setuju.

Saya coba secangkir kopi Malabar yang sekarang terhidang di meja. Sesapan pertama, langsung terasa familiar. OK, benar, ini memang rasa kopi malabar. Asam, pekat, sangat khas, dan menyisakan sedikit rasa pahit. Saya kira saya tidak salah tempat.

Menjelang magrib, keponakan Mas Teguh datang bergabung. “Arabica semua ya. Duh. Gak kuat perut saya,” katanya. Si pelayan pun menawarkan Dutch Coffee. “Rasanya tidak terlalu pekat Mbak,” jelas si pelayan.

Kopi ini memang diproses sangat lama dan rumit. Dinamakan Dutch Coffee karena proses penyajiannya menggunakan alat yang ditemukan oleh orang Belanda. Bagi anda yang terbiasa mengkonsumsi ice coffee dan juga cold brew mungkin tidak aneh dengan Dutch coffee ini.

Ya, Dutch coffee ini semacam itu lah. Seperti kopi tubruk ala-ala french press tadi, ini hanya perkara nama.

Proses pembuatannya, kopi yang sudah digiling dicampur dengan air es melalui tetesan yang berlangsung minimal selama 8 jam untuk menghambat fermentasi berlebihan. Sehingga, menimbulkan rasa yang tidak terlalu pekat dan nikmat disajikan dalam dingin.

Dutch Coffee
Dutch Coffee | © Hidayat Adhiningrat
Alat pembuat Dutch Coffee
Alat pembuat Dutch Coffee | © Hidayat Adhiningrat

Malam sudah semakin larut, bercangkir-cangkir kopi sudah habis. Menjelang pulang saya memesan biji kopi Malabar untuk dibawa pulang. Ya kan memang itu tujuan sebenarnya saya datang ke sini.

Dengan cekatan, seorang barista wanita menjelaskan sub varian kopi malabar yang tersedia di sini. “natural, honey, peaberry wet, peaberry honey,” katanya. Masing-masing jenis punya citarasa khasnya masing-masing. Begitu katanya.

Saya lebih tertarik memesan yang natural. Maka saya pesan 500 gr kopi malabar arabica natural. Si teteh barista ini pun langsung memproses pesanan saya.

Roasting dulu?” tanya saya yang penasaran ingin melihat proses roastingnya.

“Oh tadi siang sudah, sekarang stoknya masih ada,” jawab si teteh barista. Ah terlambat ternyata saya.

“Tanggal roasting yang tercantum itu maksudnya bagaimana sih?” tanya saya lagi.

“Jadi, minimal konsumsi kopi itu satu minggu setelah roasting nya. Kalau langsung malah tidak bagus,” jelasnya. Lah, saya pikir yang bagus itu yang roasting langsung di tempat. Duh. Sok tau banget sih saya ini.

Lalu, si teteh barista itu pun selesai memproses pesanan saya. Lima ratus gram kopi malabar akan menemani saya beberapa waktu ke depan. Menemani saya untuk memulai hari secara paripurna.

Dan yang pasti, saya jadi tahu tempat membeli kopi malabar yang dekat dari Jakarta tanpa perlu memesan via online. Tinggal naik commuter line sekali dan angkot sekali.

“Kalau ke sini cuma beli kopi doang tapi gak nongkrong boleh?” tanya saya sebelum meninggalkan MM Cafe.

“Boleh kang, Mangga,” jawab si Barista. Hatur nuhun teh…

Hidayat Adhiningrat

Wartawan yang doyan ngopi.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405