Bersama Para Penghasil Gula Purworejo

Beberapa kawan saya beranggapan, hidup di desa itu suram dan sebaiknya dihindari. Bagi mereka, desa tak mempunyai daya tawar yang menarik sehingga tak mengundang minat untuk disinggahi.

Tetapi barangkali sebuah paksaan akan membuat mereka merasakan, dan dengan sendirinya akan menemukan ada sesuatu yang berbeda antara kota dan desa.

Anggapan seperti itu muncul ketika kampus saya akan mengadakan KKN. Kawan-kawan banyak yang berharap, supaya jangan ditempatkan di daerah yang jauh dari kota. Pertimbangannya tentu masalah sinyal, jauh dari keramaian, jalan yang sulit dilewati, dan banyak lagi.

Beberapa kawan malah menyesal karena ditempatkan di daerah urban atau suburban. Mereka ingin ditempatkan di daerah yang memang benar-benar jauh dari keramaian kota.

Tapi apa daya, itu semua sudah diatur oleh pihak kampus. Bagi saya, tak masalah jika harus ditempatkan di desa. Toh, saya juga orang desa.

Kebetulan, saya ditempatkan di daerah Purworejo. Tepatnya di Desa Jatirejo, Kecamatan Kaligesing. Di desa ini, banyak sekali pohon durian dan manggis, yang jika berbuah, menjadi salah satu penopang ekonomi warganya.

Untungnya, ketika saya KKN, pohon durian di sana belum berbuah, hanya baru mulai berbunga. Saya sebagai orang yang tak menyukai durian, bersyukur dengan hal ini.

Produk lain yang menjadi produksi khas Desa Jatirejo dan Desa di sekitarnya adalah gula kelapa.

Purworejo, merupakan salah satu daerah pemroduksi gula kelapa yang cukup besar di Jawa Tengah. Menurut data Pemerintah Kabupaten Purworejo, luas perkebunan kelapa di Kabupaten Purworejo lebih dari 800 hektar dengan produksi rata-rata 12 juta ton per tahun dan melibatkan 6.413 orang petani/pengrajin gula kelapa.

Jalan menuju Jatirejo sempit dan berkelok. Di kanan-kiri jalan adalah bukit dan juga jurang. Tapi, yang menarik perhatian adalah, banyaknya pohon durian, manggis, dan kelapa, yang berjejer kokoh di bukit-bukit.

Yang paling sering dimanfaatkan tentunya pohon kelapa. Setiap pagi dan sore, para bapak memanjat pohon kelapa untuk mengambil air nira (legen).

“Disini orang-orangnya sudah seperti monyet, Mas,” seloroh Mbah Peno. Di rumah Mbah Peno ini, saya dan kawan satu kelompok menginap selama satu bulan.

Hampir semua keluarga di sana, menggantungkan penghasilannya dari memproduksi gula dengan skala rumahan. Setiap rumah pasti mengolah gula, yang kemudian akan dijual kepada tengkulak dengan harga sekitar 12 ribu perkilonya.

Mbah Minah yang masih sibuk memproduksi gula di rumahnya
Mbah Minah yang masih sibuk memproduksi gula di rumahnya | © Arienal Aji Prasetyo
Proses pengolahan gula
Proses pengolahan gula | © Arienal Aji Prasetyo

Perlu kesabaran yang ekstra untuk mengolah air nira (legen) menjadi gula merah. Mbah Minah, istri Mbah Peno, di sela usia senjanya, terkadang masih sibuk dengan tungku di rumahnya untuk membuat gula.

“Buatnya enggak setiap hari, Mas. Tergantung ada yang nganter niranya apa tidak”. Kebun Mbah Peno memang dikelola orang lain dengan sistem bagi hasil.

“Sudah tua, Mas. Nggak bisa manjat lagi,” kata Mbah Peno, ketika ditanya alasan mengapa mengolahkan kebunnya pada orang lain.

Saya menemani Mbah Minah untuk membuat gula. Tangannya yang sudah keriput, sebagai saksi pengalaman panjangnya, begitu lincah mengaduk air nira yang masih berbusa.

Sembari dipanasi, air nira itu harus selalu diaduk sampai mengental, agar tidak gosong. Tangan Mbah Minah seperti tak ada capeknya. Saya yang hanya memerhatikan, jadi penasaran ingin mencobanya.

Ketika masih cair, mengaduknya mudah. Tapi ketika sudah mengental, mengaduknya harus membutuhkan tenaga yang kuat, serta harus berhati-hati.

Proses memasak air legen hingga mengental dan siap dicetak, kurang lebih memakan waktu tiga jam.

“Nah, kayak gitu, Mas. Tapi hati-hati, panas soalnya”.

Saat sudah mengental, saya menyerahkan adukan kepada Mbah Minah. Cekatan sekali beliau, ketika memindahkan gula cair itu ke dalam cetakan. Jika saya yang mengerjakan, mungkin gulanya sudah mengeras di wajan.

Cetakannya terbuat dari batok kelapa, berbentuk setengah bola. Gula yang diperoleh Mbah Minah hari itu akan ia kumpulkan terlebih dahulu. Ketika sudah banyak, akan ia serahkan ke tengkulak.

Gula dalam proses pencetakan
Gula dalam proses pencetakan | © Arienal Aji Prasetyo
Gula yang hampir jadi
Gula yang hampir jadi | © Arienal Aji Prasetyo

Jatirejo adalah satu dari sekian banyak daerah di Purworejo yang menjadikan gula sebagai komoditi utama. Mereka tak bisa mengandalkan durian atau manggis yang tak sepanjang tahun berbuah.

Sebulan hidup bersama warga Jatirejo, kami menjadi mengetahui bagaimana perjuangan para pengrajin gula kelapa, yang mungkin dari sinilah gula yang ada di dapur anda berasal.

Pemandangan yang khas, terjadi ketika sore datang. Ibu-ibu dengan menggendong karung berisi gula, saling beriringan menuju tempat tengkulak. Mereka bertegur sapa dengan kami, mahasiswa KKN, yang numpang singgah di kampung halamannya.

Saya pikir, kapan lagi akan melihat kearifan budaya seperti ini. Di kota jelas tak menyajikan pemandangan layaknya desa. Desa memang selalu istimewa.

Kami akhiri pengabdian kami di Jatirejo selama sebulan. Kami belajar banyak disini, dan mendapat keluarga baru yang, sangat memberi kesan mendalam.

Arienal Aji Prasetyo

Mahasiswa Ilmu Sejarah UNY