Beromantis di Wedangan Modern Solo Raya

Bagi sebagian orang, wedangan (atau lebih dikenal dengan Angkringan) adalah tempat makan yang hanya diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah. Sebabnya adalah harga makanan dan minuman yang ditawarkan tidak mencekik leher (tak bikin sesak napas saat membayarnya) dan lokasi wedangan biasanya di pinggir jalan dengan konsep sederhana. Konsep itu coba diubah oleh sebuah tempat makan yang cukup menggugah mata penulis dari luar. Cafe Tiga Tjeret, begitulah nama yang disandang tempat tersebut. Berlokasi di Jalan Ronggowarsito No. 97, Solo. Cafe tersebut terlihat menonjol dibandingkan bangunan lain di sekitarnya.

Memiliki lahan yang luas dan payung-payung yang digantungkan semakin menonjol sebagai hiasan yang menghentikan laju edaran bola mata. Urban style menjadi ciri khasnya. Pengunjung akan betah berlama-lama berada di sana karena desain minimalis cafe yang sengaja dibuat untuk berkumpul dan makan bersama. Ketakjuban pun akan menyeruak tatkala pengunjung menyadari kalau penyangga meja terbuat dari mesin jahit bekas. Tidak berhenti sampai di situ saja, lampu yang menerangi pun juga menyita perhatian, karena terbuat dari rangkaian gelas plastik. Beralih ke kamar mandi, rasa kagum semakin membuncah melihat dinding yang disusun dari bekas kardus telur. Identitas Tiga Tjeret dapat disaksikan di meja kasir, tergantung ceret yang identik dengan wedangan. Lamanya waktu yang dihabiskan tak akan terasa ketika bercengkerama di Cafe Tiga Tjeret.

Kekhasan wedangan Solo akan langsung menyelinap tatkala pengunjung menuju tempat pengambilan makanan. Pengunjung dipersilakan untuk bebas memilih makanan mana yang akan disantap. Makanan ditata rapi dalam keranjang dengan papan nama yang tetap unik. Daun pisang menjadi bungkus makanan yang menjadi ciri khas menu nasi wedangan khas Solo. Nasi bandeng, nasi oseng, nasi terik, dan nasi teri siap menghentak perut kita karena rasanya yang lezat. Lauk yang bisa disandingkan dengan beragam nasi tersebut adalah seperti ceker ayam, sate ayam, sate kikil, telur dadar, tempe mendoan, pepes ikan, botok telur asin, dan lauk bercita rasa Jawa. Pegawainya akan menawarkan kepada pengunjung apakah makanan yang dipesan akan dibakar terlebih dahulu atau tidak.

Pilihan lauk yang beranekaragam di Cafe Tiga Tjeret
Pilihan lauk yang beranekaragam di Cafe Tiga Tjeret. | © Shela Kusumaningtyas
Nasi bungkus yang ditata rapi dan ditaruh di anyaman keranjang menjadi ciri khas wedangan ini
Nasi bungkus yang ditata rapi dan ditaruh di anyaman keranjang menjadi ciri khas wedangan ini. | © Shela Kusumaningtyas

Perpaduan antara gula merah, kencur, dan jeruk diramu menjadi sebuah minuman andalan Wedang Tiga Tjeret. Bagi yang ingin menyeduh wedang lainnya, di sana juga tersedia wedang jahe, wedang jahe ketjik, wedang bandreque, wedang coklat jahe, wedang beras kencur, dan wedang jeruk tape.

Mampu menampung 100 orang, dilengkapi wifi, persembahan musik akustik, lesehan di rooftop, membawa wedangan semakin terangkat derajatnya. Tiga Tjeret buka dari pukul 10.00 WIB hingga dini hari. Biasanya, pengunjung juga memburu menu masakan Jawa dan kremesan sebagai hidangan santap siang. Tak perlu khawatir kantong bolong, harga yang dipatok berkisar antara tiga ribu rupiah hingga sepuluh ribu rupiah.

Febrianna Chadijah, salah satu pengunjung tampak fasih ketika diminta pendapatnya. Menurutnya, ketika pertama kali melihat cafe itu, dia sudah merasa tertarik. Kemungkinan, hal tersebut karena di Solo jarang terdapat tempat nongkrong yang bagus. Setelah tiba di dalam, dia mengakui bahwa tata ruang, properti, dan desainnya menarik dan nyaman. Dia juga menjelaskan, pengunjung dapat menikmai pemandangan yang lebih bagus dan udara malam dari lantai dua. Suguhan musik baginya cocok untuk pengunjung yang membawa pasangan sebab menambah suasana kian romantis. Untuk urusan fasilitas kamar mandi, Ali mengakui kebersihan kamar mandi terjamin. Parkir di sana juga standar seperti parkir di tempat lain. Soal menu makanan, di sana menyediakan menu jajanan yang biasa didapatkan di wedangan. Cuma lebih mahal saja, ujarnya.

Shela Kusumaningtyas

Penjelajah yang gemar menulis, membaca, dan berenang.