Bernostalgia di Rollaas Coffee & Tea

Suasana teras samping Rollaas Coffee & Tea
Suasana teras samping Rollaas Coffee & Tea © Nody Arizona

Lelaki itu mengurangi kecepatan motornya secara mendadak di Jalan Gajah Mada. Ia lantas membelokkan setir dan memasuki pelataran sebuah rumah tua di pusat kota Jember. Ia terpancing untuk masuk ke pelataran rumah tua itu setelah membaca papan-papan ucapan selamat atas dibukanya Rollaas Coffee & Tea.

Ia memasuki rumah tua itu, dan memesan kopi hitam serta sebotol air mineral. Ia meminta tempat duduk yang diperkenankan untuk merokok. Itu artinya, di teras samping atau belakang rumah itu.

Saat memesan itu, ia melihat lemari pajang yang di dalamnya terdapat aneka produk khas Jember. Dari aneka kopi dan teh, juga berbagai merek cerutu. Dibukanya lemari dan ia melihat-lihat, kemudian bertanya satu per satu tentang produk-produk itu.

Barangkali karena terlalu banyak bertanya, seorang perempuan menghampirinya. “Di sini juga tersedia ruang pamer produk-produk yang kami keluarkan,” kata Maya Cendrawasih, sambil ia menunjuk sebuah ruangan di belakang bar.

Karena bangunan kedai kopi ini mulanya adalah rumah. Maka secara fungsional bangunan terdapat sekat-sekat yang berfungsi sebagai kamar. Namun, karena diubah menjadi kedai, maka fungsi kamar pun beralih. Maya membuka pintu ruangan, dan di dalamnya terdapat pajangan berbagai produk yang dikeluarkan PT Perkebunan Nusantara (PTP) XII. Dari mulai aneka kopi, teh, cokelat, serta beberapa produk lainnya. ‘Rollaas’ berarti duabelas dalam bahasa Jawa. Penamaan kedai ini merujuk pula ke PTP XII.

Maya menjelaskan satu per satu tentang produk kopinya. Produk kopi dibagi menurut standar kualitas serta tempat budidaya. Bahkan Arabica jampit dan Arabica blawan yang secara lokasi sangat berdekatan dibedakan.

Maya mencoba menawarkan arabica luwak sebagai pilihan untuk sebagai buah tangan, tetapi orang yang ditawarinya itu tidak terlalu tertarik. Begitu pula ketika kepadanya ditawarkan kopi peaberry. Ia mengambil Arabica jampit dan Arabica blawan.

Maya Cendrawasih dan produk-produk dari PTP XII
Maya Cendrawasih dan produk-produk dari PTP XII © Nody Arizona

Di Jember, soal kopi PTP XII memang tersaingi oleh produk-produk sejenis dari Puslitkoka, PDP, atau berbagai merek kopi rakyat. Namun, PTP XII menyiasatinya dengan membagi kualitas, dari yang paling terjangkau di harga Rp14 ribuan.

Untuk jenis Arabica premium, PTP XII memasarkan produknya seharga Rp100 ribu per 250 gram.

Tetapi kalau untuk produk teh, cukup sulit untuk menandingi produk-produk keluaran dari PTP XII. Baik dari segi harga ataupun kualitas yang telah teruji. Ia mengambil beberapa kemasan teh hitam premium dari kebun teh Pegunungan Kawi dan dari kebun teh Wonosari, Malang. Dengan beberapa bungkus teh tersebut, sudah cukup untuk stok berbulan-bulan ke depan. Sebab, dengan satu sendok teh saja cukup untuk menghidangkan satu teko teh.

Setelah cukup dengan buah tangan yang hendak dibawanya dari Jember. Ia segera menyerahkannya ke kasir untuk kemudian dihitung. Sedang di halaman belakang telah tersedia cangkir kopi hitam, sebotol air putih, beberapa bungkus gula kemasan.

Maya memintanya untuk memperhatikan gula, air kemasan, yang tersedia di meja. Semua merupakan keluaran dari PTP XII.

Kopi hitam dan gula rolas
Kopi hitam dan gula rolas © Nody Arizona

“Mulanya kami memasok produk-produk yang kami keluarkan ke pabrikan besar, dan mereka mengeluarkannya dengan merek lain. Namun kemudian tidak ada yang tahu apa saja pruduk-produk yang dihasilkan oleh PTP XII,” kata Maya bercerita asal mula PTP XII memasarkan produk dengan namanya sendiri, termasuk membuka berbagai gerai di beberapa kota seperti Surabaya, Bali, dan Jember.

Dengan suasana yang nyaman di rumah tua yang khas kolonial, para pengunjung bisa bersantai di Rollaas Coffee & Tea. Termasuk agenda berbincang bersama rekan kerja juga kerap dilakukan di sini, seperti hari itu ketika Bupati Banyuwangi telah memesan sebagian besar tempat duduk untuk agenda rapat.

Tetapi, bila hari telah gelap. Suasana yang seperti rumah sendiri, membuat tempat ini menjadi jujugan muda-mudi Jember untuk memadu kasih. Di kedai bernuansa rumah tua, muda-mudi itu akan sibuk membicarakan hari depan, begitu kira-kira.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.