Bermain Uno Stacko, dan Secangkir Kopi Susu

Bermain Uno Stacko
Bermain Uno Stacko | © Awid Adi Cahyadi

Alhamdulillah. Akhirnya ada bahan untuk nulis di minumkopi.com. Gimana tidak, beberapa hari ini saya berpikir untuk mencari referensi nulis dengan sub tema kopi, kuliner, dan gaya hidup. Dan malam ini saya pun punya sub tema tersebut. Alhamdulillah.

“Pok ngopi cah. Mumpung aku dek omah.” Seorang teman mengirim pesan di grub Whatsapp alumni sekolah. Tak butuh waktu lama untuk membuat ramai di grup tersebut. Gimana tidak, kadang saya menyamakan grup Whatsapp alumni sekolah dengan perpustakaan. Sama-sama sepi, tak ada sedikitpun makhluk hidup yang muncul.

Setelah berdebat sana-sini, rupanya tujuan teman saya ingin mengajak ngopi, kumpul-kumpul, karena ia sedang pulang dari rantauan. Kami akhirnya menyetujui tujuan ngumpul di salah satu kedai yang tak jauh dari rumah kami di daerah Paciran, Lamongan. Namanya Nyoklat Café. Kami hanya berempat; saya, Qiqi, Fajar, dan Isti. Padahal yang komen di grup whatsapp ada belasan anak. Oke, tidak masalah bagi kami berempat, yang penting kami bisa berkumpul dan bercanda.

Bagi instagramable, Nyoklat Café menjadi hits di kalangan anak-anak muda Paciran, Lamongan. Saya sendiri sih kurang tahu. Itu pun kata teman perempuan saya.

Waktu ngopi kami tentukan jam 7 di Nyoklat Café. Saya mulai menjemput teman perempuan bersama Fajar. Setelah kami sampai depan rumahnya, ada satu hal yang membuat mata saya tertuju ke teman perempuan saya ini, bukan kecantikaanya atau dandanannya atau yang lainnya, tapi mata saya tertuju ke yang ia bawa, sebuah permainan yang tidak saya ketahui sebelumnya. “Yang kamu bawa apa itu?” tanya saya. “Nanti tak jelaskan di tempat,” jawabnya dengan santai.

Kami bertiga berangkat dulu. Sebab, Qiqi akan menyusul. Nyoklat Café terletak di Jalan Deandles Tunggul Paciran-Lamongan. Masih jauh dari keramaian kota Lamongan. Tempatnya lumayan luas. saya langsung tertarik dengan interior Nyoklat Café.

Nyoklat Café didesain outdoor dengan bangku dan meja yang berjejer rapi dengan lampu kuning di atasnya, tanpa atap kita pun langsung disuguhkan langit lepas. Di sebelah utara ada 2 gubuk. Dan yang saya bayangkan gimana kalau tiba-tiba langsung turun hujan lebat? Sementara di dalam hanya ada tikar. Nampaknya ruangan dalam memang didesain seperti lesehan, dan tidak terlalu luas.

Lantas, kami bertiga memilih duduk di jejeran bangku. Sembari menikmati lalu lalang kendaraan. Teman perempuan saya menepati janjinya untuk menjelaskan permainan yang ia bawa. “Ayo jelaskan permainan yang kamu bawa ini.” Tanya saya. “Ini itu namanya Uno Stacko,” jawab dia. “Terus cara mainnya gimana?” sambung saya, dengan wajah penuh keingintahuan.

Ia pun menjelaskan tata cara permainnya dengan detail. Kami duduk hampir 10 menit ketika pelayan Café baru menyodorkan menu makanan dan minuman. Ternyata menu di Nyoklat Café bagi kami familiar. Misalnya aneka jus, aneka coklat, kopi dan camilan.

Secangkir Kopi Susu dan Es Coklat Strawberry
Secangkir Kopi Susu dan Es Coklat Strawberry | © Awid Adi Cahyadi
Menyusun Uno Stacko
Menyusun Uno Stacko | © Awid Adi Cahyadi

Saya tertarik memesan kopi susu. Kedua teman saya memesan es coklat dan kopi moccacino. Kami pun menunggu sambil menata Uno Stacko, ternyata bagi saya permainan ini sangat seru. Hampir 15 menit pesanan kami bertiga datang.

Saya sengaja tidak googling dulu untuk mengetahui seberapa jauh pengetahun tentang Uno Stacko melalui teman saya. Tak butuh waktu lama, saya paham tata cara bermainnya. Selang beberapa menit Qiqi datang, ia langsung memesan es coklat caramel.

Ketika Qiqi datang, Fajar langsung memperkenalkan dan menjelaskan Uno Stacko itu apa. Jadi, kami berlebur jadi satu untuk memainkan Uno Stacko sampai 2 jam-an. Sembari menyeruput nikmatnya kopi susu. Duh, nikmatnya kopi susu ketika membasahi kerongkongan saya ini. Rasanya pas tidak terlalu manis.

Dan setelah kami berempat pulang, saya langsung googling sejenak permainan Uno Stacko itu seperti apa. Rupanya ini bukan permainan baru. Uno Stacko sudah muncul beberapa tahun lalu. Bagi saya tak ada kata telat untuk bermaian Uno Stacko ini.

Permainan ini nama aslinya adalah Jenga. Permainan menyusun balok warna dan angka menjadi sebuah menara. Uno Stacko dimainkan oleh dua orang atau lebih. Cara bermainnya dengan mengambil satu buah balok dari bagian bawah atau tengah menara dan menaruhnya di puncak menara.

Ternyata permainan ini mempunyai 6 manfaat penting. Pertama kognitif, kemampuan mengetahui dan mengingat. Kedua motorik, kemampuan mengoordinasikan anggota tubuh seperti tangan dan kaki. Ketiga logika, kemampuan berpikir secara tepat dan teratur. Keempat emosional/sosial, kemampuan merasakan dan menjalin komunikasi interpersonal, kelima kreatif, kemampuan mengahasilkan ide. Dan yang terakhir adalah visual, kemampuan mata menangkap bentuk dan warna objek.

Oh ya, saya hampir lupa selama 2 jam kami nongkrong dan bermain Uno Stacko, saya menjadi satu-satunya anak yang belum merobohkan Uno Stacko, dan malam ini kemenangan ada di tangan saya.

Awid Adi Cahyadi

Anak terakhir dari 8 bersaudara yang pernah ngatlet bulutangkis waktu mahasiswa.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405