Berijin, Tanoh Gayo

Jikalau bukan yang terbaik, maka kopi Arabika Gayo pastilah termasuk salah satu dari kopi terbaik di dunia.” Begitu komentar seorang konsultan berkebangsaan Kanada yang saya dampingi saat melakukan survei rantai nilai global (Global Value Chain—GVC) ke Tanoh Gayo bulan Maret lalu.

Saya beruntung mendapatkan kesempatan berkunjung ke Aceh Tengah dan Bener Meriah, dua kabupaten penghasil utama kopi Arabika Gayo di Provinsi Aceh. Sebagai penyuka kopi (sachetan), saya tak berpikir dua kali menyambut tawaran untuk menjadi juru bahasa bagi konsultan yang ditugaskan mengunjungi petani, pengolah, kolektor, distributor, perusahaan ekspedisi, dan eksportir kopi dalam survei yang merupakan salah satu program di bawah proyek kerja sama perdagangan Indonesia-Kanada, yang disebut dengan Trade and Private Sector Assistance Project atau disingkat TPSA ini.

Kunjungan survei ini memakan waktu dua minggu: sejak tanggal 20-31 Maret 2017, dengan seminggu pertama dibagi antara Jakarta dan Medan untuk mengumpulkan data dan informasi dari eksportir kopi menengah dan skala besar serta pengusaha transportasi dan logistik, dan pekan selanjutnya dihabiskan di Dataran Tinggi Gayo.

Kepada saya, konsultan Kanada yang saya dampingi dalam survei berujar bahwa secara kualitas kopi spesialti Indonesia, khususnya Gayo, termasuk dalam jajaran kopi spesialti papan atas dunia. Diucapkan oleh seseorang yang telah lama menekuni dunia kopi dan resumenya mencakup pengalaman kerja di negara-negara penghasil kopi utama seperti Brasil, Honduras, Guatemala, dan Peru, saya memilih memercayainya.

* * *

Dinginnya udara Dataran Tinggi Gayo menyambut kami begitu kaki melangkah ke luar pesawat ATR 72-600 yang mengantar kami ke Bandara Rembele, Takengon. Kami disambut oleh konsultan lokal, Pak Abdul Gani, yang membantu menyiapkan dan mendukung pelaksanaan kegiatan survei tersebut selama seminggu di ibu kota Kabupaten Aceh Tengah ini.

Bandar Udara Rembele, Takengon
Bandar Udara Rembele, Takengon | © L. Widiyanta
Resi Gudang Aceh Tengah di bawah pengelolaan PT Ketiara
Resi Gudang Aceh Tengah di bawah pengelolaan PT Ketiara | © L. Widiyanta

Dengan kendaraan yang telah disewa untuk keperluan survei, kami dijemput dan dibawa menuju hotel melewati jalur yang berbeda dari rute umumnya. Pak Gani, begitu dia sering disapa, mengerti bahwa konsultan Proyek TPSA ini sangat menikmati pemandangan kebun kopi; maka kami berkendara melewati rute yang menembus dan melintasi jajaran kebun kopi yang terhampar dari bandara sampai hotel yang berada di tengah kota. Bagi saya, pengalaman itu tidak hanya baru, tetapi juga sangat berkesan.

Sabtu, 25 Maret 2017 itu sebenarnya tidak ada jadwal kegiatan terkait pekerjaan. Namun, setelah memperoleh beberapa kabar terbaru terkait proyek dari Pak Gani, konsultan asal Kanada itu memutuskan untuk mengunjungi salah satu resi gudang di Takengon. Resi gudang tersebut dikelola oleh PT Ketiara, salah satu eksportir besar kopi Gayo yang kantornya berada di Desa Umang, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah, agak jauh dari resi gudang.

Menurut pengelola, keberadaan resi gudang ini memudahkan petani karena membantu memberikan modal kerja bagi petani di awal musim tanam, dengan memberi petani pilihan untuk mengembalikan pinjaman modal tersebut dalam bentuk kopi hasil panen sebagai ganti pengembalian berupa uang. Mereka juga menerima kopi petani untuk ditampung sementara waktu ketika harga kopi kurang menguntungkan, dan akan dijual kembali saat harganya membaik. Pengelola resi gudang juga menambahkan biaya jasa yang terjangkau untuk penyimpanan kopi bagi para petani.

Di samping itu, bila hingga waktu yang sudah disepakati bersama petani yang meminjam modal kerja belum bisa mengembalikan, kopi hasil panennya bisa diserahkan ke resi gudang untuk dilelang dengan harga yang setidaknya sama dengan harga pasar saat itu. Hasilnya kemudian digunakan untuk membayar pinjaman modal, dan sisanya untuk petani yang bersangkutan. Ini dimungkinkan karena resi gudang ada atas prakarsa dan kerja sama pemerintah daerah setempat dengan PT Ketiara serta pihak terkait, dan dilandasi semangat untuk membantu lebih memajukan serta menyejahterakan petani kopi.

Pacuan kuda tradisional Gayo
Pacuan kuda tradisional Gayo | © L. Widiyanta

Minggu pagi keesokan harinya, kami menyaksikan pacuan kuda tradisional Gayo yang diadakan dalam rangka merayakan ulang tahun Kota Takengon ke-440. Rupanya nasib baik memang sedang berpihak karena kami berada di Takengon bersamaan dengan digelarnya babak final dari ajang kompetisi tersebut. Puncak kegiatan lomba pacuan kuda yang berlangsung di lapangan H.M. Hasan Gayo, Blang Bebangka, Pegasing berlangsung seru dan meriah.

Menurut driver kami, Pak Hamdan, pacuan kuda tradisional Gayo diselenggarakan dua kali dalam setahun di Aceh Tengah, yaitu bulan Februari-Maret untuk memperingati HUT Kota Takengon dan pada bulan Agustus-September untuk memperingati HUT RI. Pacuan kuda di Takengon diikuti oleh kuda-kuda dari tiga kabupaten, yaitu Aceh Tengah selaku tuan rumah dan dua kabupaten sekitarnya: Bener Meriah dan Gayo Lues. Joki pacuan kuda ini umumnya masih duduk di bangku SMP dan joki-joki cilik itu menunggangi kuda pacuan tanpa mengenakan pelana.

* * *

Hari Senin pekerjaan diawali dengan mewawancarai salah satu petani kopi dari Desa Pante Raya, Kec. Wih Pesam, Kab. Bener Meriah. Pak Mursalin namanya. Dalam wawancara sesi pagi itu beliau menjelaskan bahwa ia sudah membudidayakan kopi secara organik di kebun seluas 1,5 ha miliknya sejak tahun 2007. Pak Mursalin tergabung dalam Kelompok Tani Sarapakat yang beranggotakan sekitar 30 orang. Ia hanya menanam kopi Arabika, yang menurut beliau merupakan 95% dari jenis kopi yang dibudidayakan warga sekitar, dengan tanaman penaung berupa pohon alpukat dan lamtoro. Seusai wawancara, kami berkesempatan mengunjungi kebun kopi Pak Mursalin, yang memerlukan perjalanan 15 menit dengan motor dari tempat wawancara.

Wawancara di rumah pengurus REO
Wawancara di rumah pengurus REO | © L. Widiyanta
Usai wawancara dengan petani binaan PT MKG
Usai wawancara dengan petani binaan PT MKG | © L. Widiyanta

Kemudian, sesi wawancara kedua dilakukan lepas makan siang dengan seorang kolektor di desa yang sama. Pak Misnan adalah salah satu pengepul kecil di Desa Pante Raya, yang hampir setiap hari menerima kopi dalam bentuk asalan (yang belum disortasi secara teknis) dari petani. Kebetulan dia memiliki sebuah mesin pengupas kulit kopi basah (pulper), sehingga ia juga dapat melakukan tahap awal pengolahan kopi dan menerima kopi dalam bentuk gelondong (cherry) dari petani, dengan menetapkan imbalan tertentu atas jasa giling yang disediakannya.

Hari berikutnya, adalah sesi pagi kunjungan GVC ke PT Meukat Komuditi Gayo (MKG), yang berada di Desa Despot, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah. Wawancara dilakukan dengan petani yang tergabung dalam kelompok tani binaan PT MKG, yaitu Pak Bahagia Ginting. Pak Ginting adalah pendatang dari Kabupaten Karo, Sumatera Utara yang kampung halamannya terdampak erupsi Gunung Sinabung. Peralihan dari bertani sayur mayur di kampung asalnya ke berkebun kopi di tempat tinggal yang baru berhasil ia jalani dengan baik. Di Despot, beliau mengusahakan kopi di atas lahan seluas 2 ha, di mana 1 ha lahan adalah miliknya dan 1 ha sisanya ia budidayakan dengan sistem bagi hasil dengan pemilik tanah.

Kebun kopi Arabika Gayo Pak Mursalin
Kebun kopi Arabika Gayo Pak Mursalin | © L. Widiyanta
Tempat menjemur kopi dan alat pengolah kopi Pak Sofyan
Tempat menjemur kopi dan alat pengolah kopi Pak Sofyan | © L. Widiyanta

Sesi wawancara kedua siang itu dilakukan dengan seorang kolektor besar di Desa Atu Lintang, Kec. Atu Lintang, Aceh Tengah. Seorang pengepul bernama Pak Sofyan, yang tergabung dalam Koperasi Baitul Qiradh (KBQ) Baburrayyan, salah satu penghasil dan eksportir utama kopi Gayo ke luar negeri. Pak Sofyan menuturkan, di samping menerima asalan dari petani ia juga menerima kopi dalam bentuk gelondong. Sejumlah peralatan pengolah seperti pulper, mesin Sutton, mesin pengupas cangkang kopi (huller), dan tempat penjemuran yang luas juga tersedia. Selain pengepul, beliau juga memiliki kebun kopi yang tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.

Dua hari selanjutnya, Rabu-Kamis, kami menemui petani binaan PT Ketiara dan pengurus KBQ Baburrayyan (Rabu) serta petani anggota Koperasi Redelong Organik (REO) dan pelaku industri pengolahan sekaligus eksportir kopi Gayo, CV Aridalta Mandiri (hari Kamis).

Kunjungan ke Baburrayyan yang saat itu sedang mengadakan sesi cupping
Kunjungan ke Baburrayyan yang saat itu sedang mengadakan sesi cupping | © L. Widiyanta

Produk kopi yang dihasilkan PT Ketiara, Baburrayyan, dan REO telah bersertifikasi organik dan Fair Trade. Melalui sertifikasi tersebut, ada nilai lebih dari harga kopi yang akan diberikan buyer kepada eksportir yang diperuntukkan sebagai premi (premium fee). Bagi petani bersertifikasi, premium fee ini akan sangat bermanfaat untuk pengembangan hasil produk tani mereka, juga untuk keperluan kegiatan sosial di kelompok tani tersebut.

Petani binaan PT Ketiara, Bu Mariyati, lebih lanjut mengungkapkan bahwa kelebihan Fair Trade adalah dengan sertifikasi. Beliau berhak atas pembagian premi dari keuntungan penjualan kopi setiap tahunnya. Petani lain yang bernaung di bawah kedua koperasi di atas (Pak Sofyan dari Baburrayyan dan Bu Rasimah dari REO) juga menyuarakan hal senada, sembari menambahkan bahwa dari tahun ke tahun penggunaan premi yang dibagikan ke petani/anggota koperasi diputuskan sesuai kesepakatan bersama. Ada yang dimanfaatkan untuk keperluan perbaikan jalan atau fasilitas umum, ada juga yang dipakai untuk pengadaan perlengkapan pendukung untuk bertani kopi maupun alat-alat pengolahan kopi.

Di antara beberapa pihak yang ditemui dalam kunjungan GVC ke Aceh Tengah dan Bener Meriah, terdapat dua unit usaha (PT MKG dan REO) yang menerima bantuan dan fasilitasi TPSA untuk menyiapkan diri guna berpartisipasi pada salah satu ajang pameran kopi terbesar di dunia, yaitu International Coffee Specialty Exhibition di Seattle, Amerika Serikat bulan April 2017. Hal ini dilakukan dalam rangka membantu mempromosikan produk kopi Arabika Gayo ke pasar Kanada.

Kesempatan mengunjungi salah satu negeri kopi di Nusantara, dan menyaksikan dari dekat beragam kegiatan di kebun kopi, tempat pengolahan kopi, koperasi, hingga kafe dan rumah kopi yang begitu mudah ditemui di Aceh Tengah dan Bener Meriah, benar-benar membuka mata saya pada perjalanan panjang yang harus dilalui kopi sebelum sampai ke cangkir para penikmatnya.

Terima kasih, Tanah Gayo. Berijin, Tanoh Gayo.

Tulisan ini adalah catatan pribadi penulis, dan tidak mewakili pernyataan lembaga atau pribadi mana pun.

L. Widiyanta

Penerjemah Lepas