Bereuni dengan Segelas Kopi dan Ketan Cukir

Jombang adalah kota yang melahirkan ijazah sarjana saya. Selama tak kurang dari 4 tahun, saya hidup tumbuh dan berkembang di kota ini. Kota yang memiliki sisi historis dan luapan emosi tersendiri. Jika eks menteri kebudayaan dan pendidikan kita, Pak Anies Baswedan pernah berujar bahwa setiap sudut Jogja adalah romantis, saya selaku pemuda kapiran bakal calon pengganti posisi yang telah ditinggalkan oleh Pak Anies berfatwa “setiap sudut Jombang adalah puitis”.

Ya, ada kesamaan antara Pak Anies dengan saya, jika yang dimaksud itu adalah kesamaan tentang bagaimana seseorang menghayati kota dimana ia menempuh masa pencarian dan pencerahan intelektualnya. Memang, seseorang terkadang sangat mencintai hal-hal yang baru ia temukan saat usianya bersinggungan dengan bangku sekolah pendidikan tinggi. Sebuah fase usia yang mempunyai dampak emosional yang membekas dan penuh peresapan. Mungkin itu karena faktor usia; manusia cenderung mampu menggunakan akal budinya untuk mencerna apa saja yang ia terka dan jumpai dengan sepenuhnya kesadaran dan penghayatan.

Maka, Jombang bagi saya bukan hanya tempat dari kampus saya berada. Bukan pula sebatas tempat dimana intelektual saya ditempa. Lebih dari itu, ia menjelma sebagai “bengkel” yang turut serta membangun piranti-piranti kehidupan saya; membangun akal budi serta laku hidup saya, tak terkecuali tempat mengenali dan menggali kekayaan kulinernya.

Salah satu kuliner yang bisa saya bagi pada kesempatan ini ialah ketan. Di sinilah, terkadang proletar seperti saya, nampaknya masih bisa bersuka cita dan bisa dimanjakan dengan kuliner sederhana namun memiliki letupan kenikmatan yang istimewa. Ketan ini adalah representasi hidangan yang adil di rasa, ramah pula di harga. Minimal, dari sudut pandang saya selaku anak kos kala itu.

Setelah tak kurang dari dua tahun meninggalkan Jombang, saya kembali berkesempatan mengunjungi kota ini. Memang, ini bukan kali pertama saya mengunjunginya semenjak telah pegat dari Jombang lantaran telah lulus kuliah. Malah terbilang sering. Namun, sebab alasan keterbatasan waktu, acapkali lidah saya tak memiliki kesempatan untuk bereuni dengan kuliner yang satu ini.

* * *

Pagi itu saya diberi kesempatan untuk kembali bersua dengan salah satu kuliner favorit di Jombang ini. Terletak di sekitar pasar Cukir Diwek, tepatnya di samping lampu merah pertigaan lampu merah Cukir, kiri jalan jika Anda dari arah Malang-Jombang. Warung sederhana milik Ibu Indah. Itu bukan nama sebenarnya. Saya dan beberapa kawan hanya bersepakat menjulukinya dengan nama itu. Bukan tanpa alasan, sebab ibu Indah amat murah senyum dan senyumannya memiliki kadar yang nganu. Jadi kami mantap menyebutnya dengan laqob Ibu Indah.

Mengendarai sepeda motor matik, dari jarak pandang 30 meter-an, kedua mata saya mampu menangkap keberadaan warung Ibu Indah. Sesaat setelah sepeda motor saya parkirkan, saya lantas bergegas menghampiri Ibu Indah. Warung Ibu Indah tak menemui perubahan selama dua tahun terakhir ini, masih sebagai lapak sederhana yang dihiasi meja dan kursi, keduanya sama-sama memanjang. Jumlahnya berbilang empat. Yang paling ujung, terdapat space untuk konsumen yang bercita-cita menikmati hidangan dengan lesehan, atau jika tidak, space tersebut diperuntukkan sebagai ruang cadangan ketika meja dan kursi telah penuh terisi. Mengenai waktu, jam edarnya hanya semenjak pukul 4 pagi dan akan tutup di kala dagangannya tandas atau paling tidak sekitar pukul 07.00 WIB. Lumayan singkat memang.

“Bu, pesan ketan, satu”.

Nggeh, silakan duduk. Minumnya apa?” Merekah kembanglah senyum beliau.

“Kopi hitam.” Saya membalas dengan senyum sebisanya. Sambil mensyukuri bahwa selama umat manusia masih melanggengkan senyum ketulusan, niscaya harmoni kehidupan masih bisa menjadi kenyataan.

Bu Indah sedang meracik hidangan ketan
Bu Indah sedang meracik hidangan ketan | © Saiful MU

Tak lama kemudian pesanan saya datang. “Monggo, Mas.” Suami Ibu Indah mengantar pesanan.

Cukup lama saya hanya memandangi hidangan di hadapan saya. Mungkin agak klise, tapi percayalah, saat Anda mempunyai waktu di masa lalu yang kerap Anda habiskan bersama teman-teman di salah satu warung langganan kalian, lalu akhirnya waktu memisahkan kalian. Lantas suatu ketika Anda mendatangi warung tersebut, tetapi saat itu tak ada teman-teman Anda yang dulu biasa bersama lantaran seabrek kesibukan dan tetek bengek kehidupan telah menjadi dinding penghalang yang sangat kokoh menghalangi kalian hanya untuk sekadar bertemu.

Di titik itulah, saya sempat tersenyum getir. Berharap waktu dapat diputar, hanya untuk sekedar membawa kawan-kawan berkumpul dan makan bersama dengan riang. Tapi, apa boleh bikin, itu adalah angan utopis belaka. Saya buru-buru mengambil alih pikiran saya kembali. Pesanan telah lama terhidang, segera saya tendang itu pikiran.

Ketan di masyarakat Jombang khususnya, acapkali menempati makanan yang menjadi hidangan iftitah dalam kesehariannya. Hidangan yang simpel, terbuat dari beras yang ditanak selama berjam-jam lamanya, lalu dilengkapi dengan parutan kelapa yang menggunung mengitari ketan di bawahnya dan disempurnakan dengan serbuk kedelai dan susu. Cocok untuk Anda yang ingin mengganjal perut di pagi hari dengan makanan yang tidak terlalu berat.

Satu kali suapan, ketan putih dan hitam yang memang sangat lengket dan empuk tersebut masuk ke mulut beriringan dengan parutan kelapa yang memiliki kadar gurih lalu disusul dengan serbuk kedelai berwarna kecoklatan juga susu kental. Keduanya manis. Kumpulan rasa itu terkunyah, berputar di dinding-dinding mulut, berbaur bersama enzim dan liur seseorang yang telah lama tak “pulang”. Saya serasa bocah yang telah lama pergi meninggalkan kampung halaman dan telah lama berpisah dengan makanan pokok kampungnya. Suapan demi suapan lahir dari tiap sendok yang saya pegang. Perlahan namun pasti, saya makan dengan lahap.

Sesekali ketan yang memang lengket tersebut acapkali “rewel”, sebab membandel nyangkut di bibir. Hingga perlu upaya ekstra untuk membuatnya tetap penurut mau memasuki tempat yang semestinya ia datangi. Sensasi inilah yang acapkali membuat ibadah kuliner ketan ini mempunyai kesan tersendiri.

Ketan Cukir yang bersiap menjumpai takdirnya
Ketan Cukir yang bersiap menjumpai takdirnya | © Saiful MU
Secangkir kopi hitam pelecut semangat hidup
Secangkir kopi hitam pelecut semangat hidup | © Saiful MU

Dulu, kadang saya dan kawan-kawan pernah berkelakar, “Cari cewek itu, jangan yang kayak ketan. Gampangan nempel sana sini.” Mengingat hal tersebut, saya senyum-senyum sendiri. Betapa kurang ajarnya mereka. “Semoga Tuhan mengampuni keberengsekan mereka di masa lalu,” batin saya mengharap.

Sesekali saya basahi mulut dengan seteguk kopi guna mengaliri ketan yang masih belum meluncur ke perut. Kopi yang mendidih itu, dengan sekali tegukan, seketika langsung membikin mata kita melek. Seakan membuat diri kita memasang kuda-kuda dan siap menghadapi segala tuntutan hidup dan menjalani hari.

Akhirnya, pesanan saya telah tandas. Se-lepek ketan beserta satu cangkir mini kopi hanya dibarter dengan uang pecahan yang bergambar Tuanku Imam Bonjol. Jelas sebuah harga yang merakyat untuk hidangan yang nikmat dan sarat akan kenangan yang pernah melekat erat. Persis hidangan yang baru saja saya lahap. Ia lengket, melekat bahkan siapa saja yang pernah saya ajak ke situ dan aneka kenangan yang mengiringinya, itu semua menjadi seumpama ketan; mereka tetap lengket dalam pikiran juga ingatan.

Dan barangkali, ketan adalah sebuah akronim dari ngreKatakE ingaTAN. Entahlah!

Saiful MU

Suka nulis, suka kopi dan penyuka lawan jenis.